Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) kembali menjadi sorotan. Kali ini, mereka menggelar Rembug Fiskal bertajuk "PAD Kota Kita: Bukan Sekadar Angka" di Kota Malang, Jawa Timur, pada Jumat (7/11). Acara ini menjadi panggung bagi para pemimpin daerah untuk berbagi strategi jitu demi memperkuat kemandirian fiskal kota masing-masing.
Forum bergengsi ini bukan sekadar ajang kumpul-kumpul. Para pemerintah daerah saling bertukar pengalaman berharga, mulai dari inovasi digital yang revolusioner, reformasi kelembagaan yang adaptif, hingga optimalisasi aset daerah yang sering terabaikan. Tak ketinggalan, peran Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) sebagai motor penggerak Pendapatan Asli Daerah (PAD) juga menjadi topik hangat yang dibahas mendalam.
Mengapa PAD Begitu Penting?
Pendapatan Asli Daerah (PAD) adalah urat nadi pembangunan sebuah kota. Tanpa PAD yang kuat, kota akan terus bergantung pada transfer dana dari pemerintah pusat, yang bisa menghambat laju inovasi dan responsivitas terhadap kebutuhan warganya. Oleh karena itu, Rembug Fiskal ini menjadi ruang pembelajaran kolektif untuk memahami tantangan dan mengadopsi praktik terbaik dalam pengelolaan PAD di tingkat kota.
Ketua Dewan Pengurus APEKSI, yang juga Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menyoroti tiga tantangan fundamental yang harus dihadapi APEKSI. Pertama, APEKSI harus mampu menjembatani disparitas antar kota di Indonesia yang memiliki karakteristik dan potensi sangat beragam. Bagaimana kota-kota kecil bisa belajar dari kota-kota besar, dan sebaliknya?
Tantangan kedua adalah menjadikan APEKSI sebagai jembatan efektif antara para pemangku kepentingan lintas sektor. Ini mencakup aspek pembangunan di tingkat kota, nasional, bahkan global. Kolaborasi adalah kunci untuk mencapai tujuan pembangunan yang berkelanjutan.
Terakhir, APEKSI harus menjadi wadah yang kuat untuk menampung dan memperjuangkan aspirasi 98 anggota pemerintah kota. Tujuannya jelas, yakni memastikan pelaksanaan otonomi daerah berjalan selaras dengan amanat konstitusi. Ini bukan tugas mudah, namun krusial demi kemajuan daerah.
Eri Cahyadi menegaskan bahwa semangat kebersamaan harus terus digaungkan. "Tugas kita bersama, bagaimana keberhasilan yang dicapai satu kota dapat menginspirasi dan menular ke kota lain," ujarnya. Ini adalah filosofi inti dari Rembug Fiskal, di mana setiap keberhasilan kecil bisa menjadi pemicu perubahan besar di kota lain.
Malang Jadi Tuan Rumah: Sorotan pada Kemandirian
Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, yang juga menjabat Ketua Komisariat Wilayah IV APEKSI, menyambut hangat para peserta. Sebagai tuan rumah, Wahyu menekankan betapa vitalnya peran PAD dalam mendukung fungsi pemerintah daerah. PAD bukan sekadar deretan angka di laporan keuangan.
"PAD bukan hanya soal pendapatan, tapi juga soal kemandirian, kreativitas, dan ketangguhan daerah dalam membiayai pembangunan kotanya sendiri," ujar Wahyu. Pernyataan ini merangkum esensi dari seluruh acara, yakni bagaimana kota bisa berdiri di atas kakinya sendiri, berinovasi, dan tangguh menghadapi berbagai tantangan.
Tukar Ilmu Antar Pemerintah Daerah: Menggali Potensi Lokal
Rembug Fiskal tahun ini dirancang khusus sebagai ruang belajar bersama yang interaktif. Melalui sesi diskusi panel yang intens, para peserta dari berbagai instansi penting seperti Bapenda/BPKAD, BKAD, Bappeda, Setda, hingga BUMD, saling bertukar pengalaman. Mereka berdiskusi tentang cara-cara inovatif untuk menggali potensi lokal dan memperkuat PAD.
Pelaksanaan rembug ini merupakan bagian integral dari perjalanan panjang APEKSI dalam mengkaji, membicarakan, dan mendokumentasikan pengalaman kota-kota anggotanya. Proses ini telah berlangsung sejak tahun 2022 dan akan berlanjut hingga 2024, menciptakan bank data praktik baik yang sangat berharga.
Sejumlah praktisi lapangan turut berbagi wawasan dan pengalaman sukses mereka. Hadir Direktur PDAM Tirta Musi Kota Palembang M. Azharuddin, Direktur PDAM Tirta Taman Sari Kota Madiun Suyoto, Kepala Badan Pengelola Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Kota Balikpapan Idham, Kepala Bapenda Kota Denpasar I Gusti Ngurah Eddy Mulya, dan Kepala Bapenda Kota Lubuk Linggau Hendra Gunawan. Mereka memaparkan inovasi dan strategi yang telah terbukti berhasil di daerah masing-masing.
Diskusi panel yang sarat ilmu ini dipandu dengan apik oleh Koordinator Pengelolaan Pengetahuan APEKSI, Sicillia Leiwakabessy. Keahliannya memastikan setiap sesi berjalan produktif dan menghasilkan poin-poin penting yang bisa diaplikasikan oleh peserta.
Dari Diskusi ke Aksi Nyata: Peluncuran Buku dan Kunjungan Lapangan
Salah satu momen paling penting dalam Rembug Fiskal ini adalah peluncuran buku seri praktik baik berjudul PAD Kota Kita: Bukan Sekadar Angka. Buku ini bukan sekadar kumpulan teori, melainkan potret nyata berbagai strategi pengelolaan dan peningkatan PAD yang telah berhasil diterapkan di sejumlah kota anggota APEKSI. Ini adalah panduan praktis yang sangat dinantikan.
Tak hanya berhenti di ruang diskusi, para peserta juga diajak untuk menyelami praktik nyata di Kota Malang. Mereka melakukan kunjungan dan observasi langsung ke beberapa lokasi strategis. Salah satunya adalah Command Center Bapenda, yang menjadi pusat kendali digital layanan pajak daerah. Di sana, peserta bisa melihat langsung bagaimana teknologi dimanfaatkan untuk efisiensi dan transparansi.
Kunjungan lainnya adalah ke Malang Creative Center (MCC), sebuah ekosistem kolaboratif yang menjadi rumah bagi para pelaku ekonomi kreatif. MCC menunjukkan bagaimana kota bisa menggali potensi ekonomi baru dan menciptakan lapangan kerja melalui dukungan terhadap industri kreatif. Ini adalah contoh nyata diversifikasi sumber PAD di luar sektor tradisional.
Acara penting ini juga tidak lepas dari dukungan PT SMI dan PT PII, dua entitas yang memiliki peran strategis dalam pembiayaan pembangunan infrastruktur daerah. Keterlibatan mereka menunjukkan komitmen untuk mendukung kemandirian fiskal dan pembangunan berkelanjutan di seluruh kota di Indonesia. Rembug Fiskal APEKSI di Malang ini menjadi bukti bahwa dengan kolaborasi dan inovasi, kemandirian kota bukan lagi sekadar impian, melainkan tujuan yang bisa dicapai.


















