Enable JavaScript to use the widget powered by Widjet
banner 728x250

Terungkap! Asal-Usul Kuntilanak Bukan Sekadar Urban Legend, Ada Kisah Kelam di Baliknya

terungkap asal usul kuntilanak bukan sekadar urban legend ada kisah kelam di baliknya portal berita terbaru
banner 120x600
banner 468x60

Sosok kuntilanak selalu berhasil memicu bulu kuduk merinding. Gambaran perempuan berambut panjang acak-acakan, berbalut gaun putih lusuh, dan seringkali diceritakan meninggal penasaran, sudah begitu melekat dalam benak masyarakat Indonesia. Rohnya yang gentayangan konon mencari keadilan, membuat kisah-kisah horor tentangnya tak pernah lekang oleh waktu.

Namun, pernahkah kamu bertanya-tanya, dari mana sebenarnya asal-usul kuntilanak ini? Apakah ia hanya sekadar cerita seram yang diturunkan dari generasi ke generasi, atau ada fakta sejarah dan budaya yang lebih dalam di baliknya? Ternyata, ada sebuah kisah mengejutkan yang menghubungkan sosok hantu ikonik ini dengan pendirian sebuah kota besar di Indonesia.

banner 325x300

Kuntilanak: Sosok Hantu Ikonik yang Melegenda

Kuntilanak, atau sering disingkat kunti, adalah salah satu entitas supranatural paling populer di Asia Tenggara, khususnya Indonesia dan Malaysia. Kisahnya telah diadaptasi ke berbagai bentuk media, mulai dari cerita rakyat, novel, hingga film-film horor yang tak terhitung jumlahnya. Penggambaran visualnya pun hampir selalu seragam, menciptakan citra yang kuat di benak kita.

Ia seringkali dikaitkan dengan perempuan yang meninggal saat melahirkan atau karena sebab tragis lainnya, meninggalkan arwah yang tak tenang dan penuh dendam. Kehadirannya seringkali ditandai dengan aroma bunga melati yang menyengat, tawa melengking, atau tangisan pilu di tengah malam. Semua elemen ini membentuk sebuah narasi horor yang sangat efektif dan menakutkan.

Benarkah Kuntilanak Berhubungan dengan Nama Kota Pontianak?

Mungkin ini adalah salah satu fakta paling mengejutkan tentang kuntilanak. Timo Duile, seorang antropolog dari Departemen Kajian Asia Tenggara di Bonn University, Jerman, dalam studinya berjudul ‘Kuntilanak Ghost Narratives and Malay Modernity in Pontianak, Indonesia,’ mengungkapkan kaitan erat antara kuntilanak dengan pendirian Kota Pontianak. Sebuah klaim yang mungkin terdengar seperti fiksi, namun didukung oleh narasi sejarah.

Syarif Abdurrahim dan Tantangan di Delta Kapuas

Kisah ini bermula pada tahun 1771, ketika seorang bangsawan keturunan Arab bernama Syarif Abdurrahim tiba di sebuah wilayah strategis di Kalimantan Barat. Ia diberi lahan di pertemuan sungai-sungai besar dekat delta Sungai Kapuas, sebuah lokasi yang sangat vital sebagai jalur perdagangan utama untuk mengangkut barang dari pedalaman pulau. Namun, wilayah tersebut bukanlah tempat yang ramah.

Delta Kapuas saat itu merupakan markas para perompak yang meresahkan, sehingga Syarif Abdurrahim harus menjadikan kota yang akan didirikannya sebagai benteng pertahanan. Selain ancaman perompak, tantangan lain yang tak kalah besar adalah kondisi geografis delta itu sendiri. Wilayah tersebut masih berupa rawa-rawa dan hutan lebat yang belum terjamah, menciptakan suasana yang gelap dan misterius.

Asal-Usul Nama ‘Pontianak’ yang Penuh Misteri

Kondisi alam yang masih liar dan penuh misteri ini memunculkan berbagai interpretasi. Ada yang mengklaim bahwa nama ‘Pontianak’ berasal dari bahasa Melayu ‘pon ti’ atau ‘pohon tinggi’, merujuk pada banyaknya pohon-pohon menjulang di area tersebut. Hal ini sejalan dengan kepercayaan lokal di pedesaan Kalimantan Barat yang sering mengasosiasikan pohon tinggi sebagai tempat bersemayamnya arwah atau makhluk halus.

Namun, ada pula versi lain yang jauh lebih menyeramkan dan langsung mengaitkannya dengan kuntilanak. Buku ‘Pontianak heritage dan beberapa yang berciri khas Pontianak’ secara gamblang menyebut bahwa nama Pontianak berasal dari hantu kuntilanak. Konon, hantu perempuan ini banyak muncul di pertemuan Sungai Kapuas Besar, Sungai Kapuas Kecil, dan Sungai Landak, lokasi yang sama dengan pendirian kota.

Cerita rakyat mengisahkan, saat rombongan Syarif Abdurrahim tiba di kawasan itu, mereka menghadapi banyak gangguan dan suara-suara menakutkan. Gangguan tersebut diyakini berasal dari hantu jahat, yaitu kuntilanak, yang berusaha menakut-nakuti orang-orang di atas perahu. Karena gangguan yang tak henti, rombongan terpaksa menghentikan perjalanan mereka.

Untuk mengusir hantu-hantu tersebut, Syarif Abdurrahim kemudian menembakkan meriam. Tindakan ini tidak hanya menjadi simbol perlawanan terhadap gangguan gaib, tetapi juga menandai dimulainya upaya pembangunan kota di tengah tantangan spiritual dan fisik yang berat. Dari sinilah, nama Pontianak dan kuntilanak menjadi tak terpisahkan dalam narasi sejarah dan mitos lokal.

Mengapa Hantu Sering Digambarkan Berwujud Perempuan?

Fenomena kuntilanak dan hantu-hantu lain yang kerap digambarkan sebagai perempuan, seperti sundel bolong atau wewe gombel, bukanlah kebetulan semata. Aktivis perempuan Nadya Karima Melati, dalam tulisannya berjudul ‘Monsterisasi Perempuan dan Monoteisme: Sebuah Perspektif Longue Duree’ di Jurnal Perempuan, mengungkap bahwa hal ini tak lepas dari fenomena kepercayaan di masa silam. Ada pergeseran makna dan peran yang sangat signifikan dalam sejarah spiritual manusia.

Pergeseran Peran Perempuan dalam Kepercayaan Lokal

Sebelum kedatangan agama monoteisme, masyarakat memiliki sistem kepercayaan yang berbeda. Menurut antropolog Jeannette Marie Maego dan Alan Howard dalam buku ‘Spirits in Culture History and Mind’ (1996) yang dikutip Nadya, roh atau ‘spirits’ hidup berdampingan dengan manusia dan saling berkomunikasi. Roh-roh ini memiliki sifat beragam, ada yang baik, jahat, atau netral, layaknya manusia.

Pada masa itu, perempuan seringkali menjadi perantara komunikasi antara dunia roh dan manusia. Mereka dianggap memiliki kemampuan khusus, seperti karena siklus menstruasi mereka, atau identitas harmonis seperti bissu (rohaniawan di Sulawesi Selatan) yang mampu menjembatani dua dunia. Perempuan memiliki peran sakral dan penting dalam ritual-ritual yang berhubungan dengan alam dan roh.

Ketika Monoteisme Mengubah Roh Menjadi Monster

Namun, kehadiran agama monoteisme membawa perubahan besar dalam pandangan dunia. Konsep ketuhanan dalam agama monoteisme seperti Islam dan Kristen, yang seringkali digambarkan sebagai "maskulin," secara perlahan menggeser kepercayaan lokal yang berhubungan dengan roh dan alam. Monoteisme menolak adanya sosok spiritual lain selain Tuhan Yang Maha Esa.

Dewa-dewi dalam kepercayaan lama kemudian diganti menjadi sosok panteon, santa, atau manusia super. Sementara itu, roh-roh yang sebelumnya memiliki posisi setara dengan manusia, bergeser menjadi "hantu" atau "monster." Upacara-upacara kepercayaan yang menggunakan metode komunikasi dengan roh, yang dulunya merupakan proses transenden, kini dianggap sebagai "kesurupan" atau fenomena negatif.

Akibatnya, peran perempuan yang sebelumnya sakral sebagai perantara roh, ikut tergeser dan bahkan terdistorsi. Mereka mulai dianggap sebagai dukun atau penyihir, karena kemampuan mereka berkomunikasi dengan roh kini dicap sebagai hal yang jahat. Lebih jauh lagi, perempuan dianggap sebagai sosok yang lemah dan mudah dirasuki oleh roh jahat, atau bahkan roh jahat itu sendiri berwujud seperti perempuan.

Kuntilanak: Lebih dari Sekadar Hantu Penasaran

Dari penjelasan di atas, kita bisa melihat bahwa kuntilanak bukan hanya sekadar urban legend yang menakutkan. Di balik sosoknya yang menyeramkan, tersimpan lapisan-lapisan sejarah, budaya, dan pergeseran kepercayaan yang kompleks. Kuntilanak adalah cerminan dari bagaimana masyarakat memahami dunia spiritual, bagaimana sebuah kota didirikan di tengah tantangan gaib, dan bagaimana peran perempuan dalam kepercayaan lokal mengalami transformasi drastis.

Kisah kuntilanak, dengan segala misteri dan kengeriannya, mengingatkan kita bahwa ada banyak hal yang belum terungkap dari cerita-cerita rakyat yang kita dengar. Ia adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya kita, sebuah narasi yang terus hidup dan berevolusi, membawa pesan-pesan tersembunyi dari masa lalu yang mungkin tak pernah kita duga sebelumnya. Jadi, lain kali kamu mendengar kisah kuntilanak, ingatlah bahwa ada lebih banyak hal di balik sosoknya yang menakutkan.

banner 325x300