Enable JavaScript to use the widget powered by Widjet
banner 728x250

Hasto PDIP Ungkap Resep Bung Karno dari Ende: Kunci Hadapi Badai Politik 2024 dan Pragmatisme Kekuasaan!

hasto pdip ungkap resep bung karno dari ende kunci hadapi badai politik 2024 dan pragmatisme kekuasaan portal berita terbaru
banner 120x600
banner 468x60

Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan (PDIP), Hasto Kristiyanto, baru-baru ini menyuarakan sebuah pesan penting yang menggema dari Konferensi Daerah (Konferda) DPD PDIP NTT. Di tengah riuhnya dinamika politik nasional, Hasto mengajak seluruh kader untuk kembali merenungi semangat perjuangan Proklamator Soekarno, atau yang akrab disapa Bung Karno, terutama saat beliau menjalani masa pengasingan.

Pesan ini bukan sekadar nostalgia sejarah, melainkan sebuah seruan strategis. Hasto menegaskan bahwa tantangan politik yang dihadapi saat ini, khususnya pasca-Pemilu 2024, menuntut keteguhan dan idealisme yang sama seperti yang ditunjukkan Bung Karno di masa-masa sulitnya. Ia menyampaikannya dalam Konferda DPD PDIP NTT pada Jumat (7/11/2025).

banner 325x300

Menyingkap Arus Pragmatisme Politik Pasca-Pemilu 2024

Dalam pidatonya yang penuh semangat, Hasto tidak ragu menyoroti fenomena yang ia sebut sebagai "arus pragmatisme politik" yang kian menguat. Ia melihat adanya "kapitalisasi kekuasaan politik" dan praktik "politik menghalalkan segala cara" yang nyata terlihat dalam gelaran Pemilu 2024.

Fenomena ini, menurut Hasto, menjadi ancaman serius bagi demokrasi dan idealisme berpolitik. Konferda PDIP NTT, baginya, menjadi momentum krusial untuk kembali mengobarkan api politik yang berwatak ideal, yaitu politik yang berpihak pada rakyat kecil dan keadilan.

Politik ideal yang dimaksud adalah politik yang "turun ke bawah", memperkuat akar rumput, serta membela mereka yang miskin, terpinggirkan, dan diperlakukan tidak adil. Ini adalah esensi perjuangan yang harus terus dipegang teguh, terutama saat godaan kekuasaan dan intrik politik begitu kuat.

Menggali Spirit Bung Karno di Pengasingan Ende

Hasto kemudian mengajak para kader untuk berkaca pada perjuangan Bung Karno, khususnya saat beliau diasingkan di Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur, dari tahun 1934 hingga 1938. Masa pengasingan ini, jauh dari pusat kekuasaan dan hiruk pikuk politik, justru menjadi kawah candradimuka bagi pemikiran dan ideologi Bung Karno.

Di Ende, Bung Karno tidak menyerah pada keterpurukan. Justru di sanalah ia banyak merenung, membaca, menulis, dan berinteraksi langsung dengan rakyat jelata. Ia mengamati kehidupan masyarakat, merasakan langsung penderitaan mereka, dan mematangkan konsep-konsep kebangsaan yang kelak menjadi dasar negara Indonesia.

Pancasila, sebagai dasar filosofi bangsa, diyakini banyak pihak juga terinspirasi dari perenungan Bung Karno di bawah pohon sukun di Ende. Ini menunjukkan bahwa dalam keterbatasan dan tekanan, justru lahir pemikiran-pemikiran besar yang abadi dan relevan hingga kini.

Perbandingan Tantangan: Dari Penjajah hingga Intimidasi Modern

Hasto mengakui bahwa PDIP menghadapi tekanan dan intimidasi politik yang luar biasa pada Pemilu 2024. Namun, ia dengan tegas menyatakan bahwa tantangan tersebut masih terbilang ringan jika dibandingkan dengan perjuangan heroik Bung Karno melawan penjajah kolonial.

Perjuangan Bung Karno adalah melawan kekuatan asing yang menindas, mempertaruhkan nyawa demi kemerdekaan bangsa. Sementara itu, tekanan yang dihadapi PDIP saat ini, meski berat, adalah bagian dari dinamika politik domestik yang seharusnya diselesaikan secara demokratis dan beretika.

Ia secara spesifik menyebut "tekanan-tekanan money politic" dan "intimidasi-intimidasi dari oknum negara yang seharusnya netral". Hasto menyayangkan bahwa oknum-oknum tersebut justru "mengabdi pada kepentingan keluarga dan kekuasaan", mengkhianati prinsip netralitas yang esensial dalam pemilu yang adil.

Kekuatan Sejati Ada di Akar Rumput, Bukan di Kalangan Elit

Dari pengasingan di Ende, Bung Karno mengajarkan sebuah pelajaran fundamental: pentingnya mendekatkan diri kepada rakyat jelata. Menurut Hasto, justru rakyat akar rumputlah yang memiliki ketulusan dan kekuatan sejati dalam perjuangan.

Mereka adalah tulang punggung bangsa, yang seringkali menjadi korban dari kebijakan yang tidak adil atau intrik politik elit. Kedekatan dengan rakyat inilah yang memberikan kekuatan moral dan legitimasi bagi sebuah gerakan politik yang benar-benar ingin memperjuangkan perubahan.

Hasto juga menyoroti ironi bahwa "yang sering takut menghadapi penindasan justru adalah kalangan elit". Pernyataan ini menyiratkan kritik terhadap sebagian elit yang mungkin mudah goyah atau berkompromi demi kepentingan pribadi atau kelompok, berbeda dengan keteguhan hati rakyat biasa.

Membangun Kembali Politik Ideal ala PDIP

Dengan semangat Bung Karno dari Ende, PDIP berkomitmen untuk terus memperkuat politik yang berwatak ideal. Ini berarti terus menerus turun ke bawah, mendengarkan aspirasi rakyat, dan memperjuangkan hak-hak mereka yang terpinggirkan tanpa pandang bulu.

Konferda di NTT ini menjadi penegasan kembali arah perjuangan partai. PDIP ingin menunjukkan bahwa di tengah gempuran pragmatisme, masih ada kekuatan politik yang teguh memegang prinsip, berlandaskan ideologi, dan berpihak pada keadilan sosial.

Melalui penguatan akar rumput dan penolakan terhadap politik transaksional, PDIP berharap dapat menjadi mercusuar bagi politik yang lebih bermartabat. Ini adalah upaya untuk menjaga agar demokrasi tidak hanya menjadi ajang perebutan kekuasaan, tetapi juga alat untuk mencapai kesejahteraan bersama.

Tantangan ke Depan dan Relevansi Spirit Ende

Tantangan politik ke depan tentu tidak akan mudah. Namun, Hasto Kristiyanto percaya bahwa dengan mengambil spirit dari perjuangan Bung Karno di Ende, PDIP akan mampu menghadapi setiap badai yang datang. Spirit keteguhan, keberpihakan pada rakyat, dan idealisme adalah bekal utama yang tak ternilai.

Masa pengasingan Bung Karno di Ende bukan hanya catatan sejarah, melainkan sebuah peta jalan. Peta jalan bagi mereka yang ingin berpolitik dengan hati nurani, yang percaya bahwa kekuasaan sejati datang dari rakyat, dan bahwa keadilan harus selalu menjadi tujuan akhir dari setiap perjuangan politik.

Pesan dari Ende ini menjadi pengingat bagi semua pihak, bahwa politik seharusnya bukan hanya tentang angka dan kursi, melainkan tentang cita-cita luhur membangun bangsa yang adil dan makmur, sebagaimana yang dicita-citakan oleh para pendiri bangsa.

banner 325x300