Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III/2025 memang patut diacungi jempol, mencapai angka 5,04 persen secara tahunan (yoy). Angka ini menunjukkan bahwa secara makro, roda perekonomian negara kita bergerak cukup kencang. Namun, di balik statistik yang memukau ini, ada satu pertanyaan besar yang mungkin terlintas di benak banyak orang: kenapa daya beli masyarakat justru terasa makin berat?
Indef, atau Indonesian Institute for Development of Economics and Finance, baru-baru ini menyoroti fenomena paradoks ini. Menurut para ekonom Indef, pertumbuhan ekonomi yang impresif ternyata belum mampu mengangkat daya beli masyarakat ke level yang diharapkan. Ini tentu menjadi alarm penting bagi kita semua.
Ekonomi ‘Ngebut’, Tapi Kantong Rakyat Kok Malah Seret?
Fenomena ini memang membingungkan. Di satu sisi, data menunjukkan ekonomi kita tumbuh solid, bahkan di tengah tantangan global. Tapi di sisi lain, banyak dari kita yang mungkin merasakan bahwa pengeluaran makin besar, sementara pendapatan terasa stagnan atau bahkan kurang. Inilah inti dari apa yang ditemukan oleh Indef.
Riza Annisa, Peneliti Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, menjelaskan bahwa belum pulihnya daya beli ini bukan sekadar perasaan. Ada sejumlah indikator konkret yang menunjukkan tren mengkhawatirkan ini. Data-data ini seolah menjadi cermin kondisi riil yang dialami oleh masyarakat.
Indeks Keyakinan Konsumen: Sinyal Bahaya dari Masyarakat
Salah satu indikator utama yang disoroti adalah Indeks Keyakinan Konsumen (IKK). IKK adalah ukuran optimisme konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini dan masa depan. Jika IKK turun, itu artinya masyarakat mulai pesimis atau berhati-hati dalam berbelanja.
Riza memaparkan bahwa IKK sempat berada di level 123,5 pada tahun 2024. Namun, angka ini justru cenderung menurun drastis hingga mencapai level 115 pada September 2025. Penurunan ini adalah sinyal jelas bahwa kepercayaan konsumen terhadap kondisi ekonomi sedang goyah.
Bukan Cuma Perasaan, Tabungan Menipis, Cicilan Meningkat
Selain IKK, Indef juga melihat perubahan dalam komposisi penggunaan pendapatan rumah tangga. Ini adalah cerminan langsung bagaimana masyarakat mengelola uang mereka sehari-hari. Dan hasilnya cukup mengejutkan.
Komposisi pendapatan yang dialokasikan untuk tabungan justru menurun, sementara porsi untuk membayar cicilan utang malah meningkat. Ini mengindikasikan bahwa banyak rumah tangga yang mungkin harus mengorbankan tabungan demi memenuhi kebutuhan atau melunasi kewajiban finansial mereka. Kondisi ini tentu saja membebani keuangan keluarga.
Stimulus Pemerintah Belum Nendang, Kenapa Ya?
Pemerintah sebenarnya tidak tinggal diam. Berbagai stimulus ekonomi, termasuk program "8+4+5" yang diumumkan pada pertengahan atau akhir September, telah digelontorkan. Tujuannya tentu untuk memacu kembali geliat ekonomi dan daya beli masyarakat.
Namun, menurut Riza, stimulus ini belum bisa mendorong daya beli secara signifikan. Ia menjelaskan bahwa program-program dalam stimulus tersebut mungkin tidak bersifat langsung seperti bantuan sosial (bansos) yang bisa langsung dirasakan dampaknya oleh masyarakat. Artinya, efeknya belum terasa langsung di kantong-kantong rakyat.
Konsumsi Rumah Tangga Melambat, Waspada Resesi Gaya Baru?
Ahmad Heri Firdaus, Peneliti Pusat Industri, Perdagangan, dan Investasi Indef, menambahkan bahwa perlambatan konsumsi rumah tangga juga menjadi bukti nyata. Konsumsi rumah tangga, yang merupakan tulang punggung perekonomian, hanya tumbuh 4,89 persen pada kuartal III/2025. Angka ini lebih rendah dibandingkan kuartal III/2024 (4,91 persen) dan kuartal III/2023 (5,05 persen).
Penurunan ini, kata Heri, sejalan dengan IKK yang berada di level 115 pada September 2025, yang merupakan level terendah sejak April 2022. Ini menunjukkan bahwa masyarakat mulai sangat berhati-hati dalam membelanjakan uangnya. Mereka tidak lagi segampang dulu untuk membeli barang atau jasa yang bukan kebutuhan primer.
Siapa yang Paling Kena Dampak? Kelas Menengah ke Bawah Menjerit
Sikap hati-hati dalam konsumsi ini memang memengaruhi kinerja konsumsi secara agregat. Namun, Heri menegaskan bahwa tidak semua segmen masyarakat mengalami penurunan daya beli yang sama. Penurunan daya beli yang paling nyata dan terasa dampaknya justru terjadi pada segmen menengah ke bawah.
Mereka adalah kelompok yang paling rentan terhadap tekanan harga pangan dan peningkatan biaya hidup. Kenaikan harga kebutuhan pokok dan biaya sehari-hari membuat mereka harus berpikir dua kali sebelum berbelanja, bahkan untuk kebutuhan dasar. Ini menciptakan tekanan ekonomi yang serius bagi jutaan keluarga di Indonesia.
Investasi Masuk Melimpah, Tapi Kok Lapangan Kerja Susah?
Selain masalah daya beli, Indef juga menyoroti isu lain yang tak kalah penting: penyerapan tenaga kerja. Sepanjang Januari-September 2025, realisasi investasi di Indonesia mencapai angka fantastis, yaitu Rp1.434 triliun. Angka ini menunjukkan kepercayaan investor terhadap potensi ekonomi Indonesia.
Namun, ironisnya, jumlah tenaga kerja yang terserap dari investasi sebesar itu hanya 1.956.365 orang. Heri menjelaskan bahwa peningkatan tenaga kerja yang dihasilkan tidak secepat laju realisasi investasi itu sendiri. Ini mengindikasikan bahwa banyak investasi yang masuk ke Indonesia cenderung bersifat padat modal, bukan padat karya.
Investasi padat modal memang penting untuk modernisasi industri, tetapi dampaknya terhadap penciptaan lapangan kerja massal menjadi terbatas. Akibatnya, meskipun investasi tinggi, kesempatan kerja yang layak bagi masyarakat masih menjadi tantangan. Ini tentu saja berdampak pada pendapatan dan daya beli masyarakat secara keseluruhan.
Apa yang Harus Dilakukan Pemerintah Selanjutnya?
Data-data dari Indef ini menjadi peringatan keras bagi pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi akan terasa hambar jika tidak diiringi dengan peningkatan kesejahteraan dan daya beli masyarakat. Apalagi jika yang paling terdampak adalah kelompok menengah ke bawah.
Pemerintah perlu meninjau ulang efektivitas stimulus yang ada dan mungkin mempertimbangkan kebijakan yang lebih tepat sasaran. Kebijakan yang secara langsung dapat meringankan beban hidup masyarakat, menstabilkan harga kebutuhan pokok, dan menciptakan lebih banyak lapangan kerja padat karya. Tanpa intervensi yang tepat, pertumbuhan ekonomi hanya akan menjadi angka di atas kertas, sementara realitas di lapangan masih jauh dari harapan.


















