Enable JavaScript to use the widget powered by Widjet
banner 728x250

Bikin Bangga! Dosen UMJ Ungkap Model Keamanan Siber ASEAN yang Jadi Sorotan Dunia di Belanda

bikin bangga dosen umj ungkap model keamanan siber asean yang jadi sorotan dunia di belanda portal berita terbaru
banner 120x600
banner 468x60

Nama Indonesia kembali berkibar di kancah internasional! Kali ini, giliran Miftahul Ulum, S.I.P., MPS., M.Sc. Ph.D., seorang akademisi kebanggaan dari Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), yang berhasil mewakili Indonesia dan Asia Tenggara dalam sebuah konferensi siber bergengsi. Beliau adalah Ketua Program Studi Ilmu Politik (Kaprodi ILPOL) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UMJ yang kini jadi perbincangan.

Akademisi Indonesia Mendunia di Jantung Eropa

banner 325x300

Miftahul Ulum diundang sebagai pembicara dalam Konferensi Keamanan Siber Internasional bertajuk "Ketertiban, Kekacauan, dan Penataan Ulang? Geopolitik dan Transformasi Ruang Siber." Acara penting ini diselenggarakan di Het Spaansche Hof, Den Haag, Belanda, dari tanggal 3 hingga 6 November 2025. Kehadiran Ulum di forum ini menegaskan posisi Indonesia sebagai pemain kunci dalam diskusi global tentang keamanan siber.

Konferensi ini bukanlah sembarang acara. Ia merupakan bagian integral dari The Hague Program on International Cyber Security, sebuah inisiatif riset terkemuka yang bernaung di bawah Faculty of Governance and Global Affairs, Leiden University. Dukungan penuh dari Kementerian Luar Negeri Belanda semakin menambah prestise acara yang mempertemukan para pakar, diplomat, dan pembuat kebijakan dari seluruh dunia.

Bayangkan saja, ada sekitar 150 peserta dari lebih dari 40 negara yang hadir, semuanya adalah tokoh-tokoh penting di bidangnya. Namun, dari sekian banyak pakar, hanya 24 pembicara terpilih yang mendapatkan kehormatan untuk mempresentasikan hasil penelitian mereka. Miftahul Ulum adalah salah satunya, sebuah pencapaian yang luar biasa dan patut kita banggakan.

Mengapa Model ASEAN Begitu Penting di Kancah Global?

Dalam presentasinya, Ulum membedah bagaimana Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) mengelola berbagai ketegangan di ranah siber. Ia menjelaskan bagaimana ambisi normatif, kedaulatan nasional, dan tekanan geopolitik di kawasan ini berhasil diseimbangkan melalui pendekatan kooperatif yang pragmatis dan pluralistik. Pendekatan ini dinilai sangat relevan secara global, terutama dalam konteks tatanan siber yang semakin multipolar.

Penelitian yang ia sampaikan bukanlah hasil kerja tunggal, melainkan buah dari risetnya bersama tim dalam kapasitas sebagai Regional Experts ASEAN-IPR (Institute for Peace and Reconciliation). Ini menunjukkan kolaborasi dan kekuatan riset dari kawasan Asia Tenggara yang mulai diperhitungkan dunia.

"Fokus utama saya adalah bagaimana pengalaman kawasan ASEAN dalam tata kelola keamanan siber dapat dipahami bukan sebagai kegagalan akibat fragmentasi, tetapi sebagai proses adaptif dalam pengaturan ulang (re-ordering) tata ruang siber global," ujar Ulum. Pernyataan ini membuka perspektif baru, menantang pandangan konvensional tentang tata kelola siber di wilayah yang beragam.

Tantangan dan Peluang Ekonomi Digital ASEAN

Ulum juga menyoroti fakta bahwa wilayah ASEAN saat ini sedang mengalami pertumbuhan ekonomi digital yang sangat pesat. Proyeksi menunjukkan bahwa nilai ekonomi digital di kawasan ini diperkirakan akan mencapai angka fantastis, yaitu 2 triliun dolar AS pada tahun 2030. Angka ini tentu saja menjanjikan potensi besar bagi kemajuan dan kesejahteraan negara-negara anggota.

Namun, di balik potensi yang menggiurkan itu, Ulum juga mengingatkan tentang berbagai kerentanan yang mengintai. Kawasan ini menghadapi ancaman siber yang tinggi, kesenjangan kapasitas antarnegara, dan fragmentasi regulasi yang masih menjadi pekerjaan rumah. Tantangan ini menuntut pendekatan yang cerdas dan adaptif.

Ia menjelaskan bahwa model integrasi yang ketat seperti Uni Eropa sulit untuk diterapkan secara universal di ASEAN karena karakteristiknya yang sangat beragam. Di sisi lain, model yang terlalu berfokus pada kedaulatan negara, seperti yang diterapkan Tiongkok, justru dapat menimbulkan kekhawatiran terkait keterbukaan dan interoperabilitas. ASEAN harus menemukan jalannya sendiri.

"Karena itu, penting untuk melihat bagaimana kawasan seperti ASEAN yang beragam dan asimetris, mampu membangun model tata kelola yang realistis, inklusif, dan relevan bagi banyak negara di dunia," ungkap Ulum. Inilah inti dari pesan yang ingin ia sampaikan: ASEAN bukan sekadar pengikut, melainkan inovator dalam tata kelola siber.

Visi dan Harapan untuk Indonesia di Panggung Global

Melalui partisipasinya dalam konferensi internasional ini, Miftahul Ulum memiliki harapan besar. Ia ingin memperluas jejaring akademik dan kebijakan internasional, sebuah langkah krusial untuk memperkuat posisi Indonesia dalam isu-isu strategis global. Keamanan siber, tata kelola digital, dan ketahanan teknologi adalah beberapa di antaranya.

Ulum percaya bahwa akademisi Indonesia memiliki potensi besar untuk berkontribusi nyata di panggung dunia. "Saya ingin menunjukkan, akademisi Indonesia dapat tampil percaya diri di panggung internasional, tidak hanya sebagai pengamat, tetapi sebagai kontributor ide dan solusi nyata bagi tatanan global yang sedang berubah," tutupnya dengan penuh optimisme.

Keberhasilan Miftahul Ulum ini menjadi inspirasi bagi kita semua, menunjukkan bahwa dengan riset yang mendalam dan visi yang kuat, akademisi Indonesia mampu bersaing dan bahkan menjadi pemimpin dalam diskusi global. Ini adalah bukti nyata bahwa Indonesia siap menjadi bagian penting dalam membentuk masa depan keamanan siber dunia.

banner 325x300