Enable JavaScript to use the widget powered by Widjet
banner 728x250

Geger Politik AS: Trump Murka Wali Kota Muslim New York Dituding ‘Komunis’, Sentil Keras Warga Yahudi!

geger politik as trump murka wali kota muslim new york dituding komunis sentil keras warga yahudi portal berita terbaru
banner 120x600
banner 468x60

Kamis, 6 November 2025, panggung politik Amerika Serikat kembali memanas. Presiden Donald Trump secara mengejutkan melontarkan kritik pedas terhadap Zohran Mamdani, politikus Muslim dari Partai Demokrat yang baru saja memenangkan pemilihan Wali Kota New York. Kemenangan Mamdani, yang menjadikannya Muslim dan keturunan Asia Selatan pertama memimpin kota metropolitan tersebut, memicu amarah Trump hingga menudingnya sebagai "komunis."

Trump Sebut Wali Kota Baru New York "Komunis": Awal Mula Kontroversi

banner 325x300

Pidato Trump di Miami pada Rabu (5/11) menjadi sorotan utama. Di hadapan peserta American Business Forum, ia tak segan menyebut Mamdani sebagai representasi politik sosialis Demokrat yang ekstrem, bahkan melampaui batas sosialisme. "Jika Anda ingin tahu apa yang ingin dilakukan Partai Demokrat di Kongres terhadap Amerika, lihat saja hasil pemilu kemarin di New York," ujar Trump, "di mana partai mereka menempatkan seorang komunis sebagai wali kota kota terbesar di negara ini."

Pernyataan ini sontak memicu perdebatan sengit. Trump melanjutkan dengan retorika khasnya, "Ingat, saya dulu mengatakan bahwa kita tidak akan pernah memiliki seorang sosialis yang terpilih di jabatan publik di negara ini? Sekarang, kita bahkan melompati tahap sosialis dan langsung memilih komunis." Ini bukan kali pertama Trump menggunakan label "komunis" atau "sosialis" untuk menyerang lawan politiknya, namun kali ini sasarannya adalah pemimpin terpilih dari kota terbesar di AS.

New York Jadi "Sarang Komunisme"? Warga Bakal Kabur ke Miami?

Tak hanya menuding Mamdani, Trump juga melontarkan asumsi provokatif tentang masa depan New York. Ia berpendapat bahwa kemenangan Mamdani akan memicu eksodus warga New York yang ingin "kabur dari komunisme" ke negara bagian lain, seperti Miami. "Lihatlah apa yang sedang terjadi di berbagai belahan dunia – dan kini Partai Demokrat sudah begitu ekstrem hingga Miami akan segera menjadi tempat pelarian bagi mereka yang kabur dari komunisme di New York City," katanya.

Narasi ini bukan sekadar retorika kosong. Trump kerap menggunakan Florida, khususnya Miami, sebagai contoh keberhasilan tata kelola konservatif, kontras dengan kota-kota besar yang dipimpin Demokrat. Pernyataan ini jelas bertujuan untuk menggarisbawahi perbedaan ideologi dan gaya pemerintahan, sekaligus menarik simpati pemilih yang anti-sosialis atau anti-komunis.

Perubahan Sikap Trump: Dari Menghindar ke Serangan Langsung

Menariknya, sikap Trump terhadap kemenangan Mamdani sempat berubah drastis. Pada Rabu pagi, dalam pernyataannya di Gedung Putih, Trump masih menghindari penyebutan langsung nama Mamdani atau hasil pemilu New York. Ia hanya menyinggung "pilihan bagi seluruh rakyat Amerika kini sangat jelas, kita dihadapkan antara komunisme dan akal sehat."

Namun, begitu ia berbicara di Miami, strategi komunikasinya berubah total. Trump langsung menyerang Mamdani secara eksplisit, lengkap dengan label "komunis" dan peringatan akan "pelarian" warga New York. Perubahan ini menunjukkan kalkulasi politik yang matang, di mana Trump mungkin merasa lebih leluasa melancarkan serangan langsung di hadapan audiens yang lebih reseptif terhadap retorikanya.

Serangan Brutal ke Warga Yahudi: "Bodoh!!!"

Puncak kontroversi datang dari platform Truth Social milik Trump. Di pagi hari jelang pemungutan suara, Trump mendesak warga Yahudi di Kota New York untuk tidak mendukung Mamdani. Ia bahkan mencap setiap Yahudi yang memilih Mamdani sebagai "orang bodoh." "Setiap orang Yahudi yang memilih Zohran Mamdani, seorang pembenci Yahudi yang telah terbukti dan secara terbuka mengakuinya, adalah orang bodoh!!!" tulis Trump.

Pernyataan ini sangat sensitif dan berpotensi memecah belah. Menuduh seorang politikus sebagai "pembenci Yahudi" dan menyebut pemilihnya "bodoh" adalah serangan personal yang keras, terutama mengingat sensitivitas isu anti-Semitisme dan dukungan komunitas Yahudi dalam politik AS. Ini menunjukkan bahwa Trump tidak ragu menggunakan retorika yang paling tajam untuk mencapai tujuan politiknya, bahkan jika itu berarti mengasingkan sebagian pemilih.

Siapa Zohran Mamdani? Sosok di Balik Kontroversi

Zohran Mamdani adalah politikus muda dari Partai Demokrat yang kini menjadi Wali Kota New York City terpilih. Ia dikenal sebagai seorang Muslim dan keturunan Asia Selatan pertama yang menduduki jabatan tersebut. Kemenangannya adalah simbol pergeseran demografi dan politik di New York, sebuah kota yang dikenal sebagai "melting pot" budaya dan ideologi.

Mamdani sendiri memiliki latar belakang sebagai seorang aktivis dan seniman hip-hop. Ia sering menyuarakan isu-isu keadilan sosial, perumahan terjangkau, dan reformasi sistem peradilan. Pandangan-pandangannya yang progresif mungkin menjadi alasan mengapa Trump melabelinya sebagai "sosialis" atau "komunis," meskipun istilah tersebut seringkali digunakan secara longgar dalam retorika politik AS untuk mendiskreditkan lawan.

Implikasi Politik dan Masa Depan New York

Kritik tajam Trump terhadap Mamdani bukan sekadar serangan personal, melainkan bagian dari strategi politik yang lebih besar. Dengan melabeli Mamdani sebagai "komunis," Trump berusaha mengaitkan Partai Demokrat secara keseluruhan dengan ideologi ekstrem, terutama menjelang pemilihan umum yang akan datang. Ini adalah upaya untuk memobilisasi basis konservatifnya dan menakut-nakuti pemilih moderat agar tidak mendukung kandidat Demokrat.

Bagi New York, kemenangan Mamdani dan reaksi Trump menandai babak baru dalam politik kota. New York, sebagai pusat keuangan dan budaya global, akan menjadi medan pertarungan ideologi yang intens. Bagaimana Mamdani akan menanggapi serangan ini dan bagaimana ia akan memimpin kota di tengah polarisasi politik yang semakin tajam, akan menjadi sorotan dunia.

Gaya Politik Trump: Tetap Konsisten dengan Kontroversi

Peristiwa ini sekali lagi menegaskan gaya politik Donald Trump yang tidak pernah lepas dari kontroversi. Sejak awal karirnya, ia dikenal karena retorika yang blak-blakan, serangan personal, dan kemampuannya memobilisasi pendukung dengan narasi yang kuat. Penggunaan label "komunis" dan serangan terhadap warga Yahudi yang memilih Mamdani adalah contoh nyata dari strategi ini.

Di tengah lanskap politik yang semakin terpolarisasi, pernyataan Trump ini akan terus menjadi bahan perdebatan. Apakah ini akan memperkuat posisinya atau justru menjadi bumerang, hanya waktu yang bisa menjawab. Yang jelas, satu hal yang pasti: politik Amerika Serikat, terutama dengan kehadiran Donald Trump, tidak pernah membosankan.

banner 325x300