Sosok Kak Seto, atau Seto Mulyadi, selalu dikenal dengan semangatnya yang tak pernah padam dan senyum khasnya yang menenangkan. Namun, baru-baru ini ia membawa kabar yang cukup mengejutkan, sekaligus menjadi pengingat penting bagi kita semua. Pria 74 tahun ini ternyata sempat mengalami stroke ringan.
Yang lebih mencengangkan, meski dokter menyarankan istirahat total selama satu hingga dua bulan penuh, Kak Seto justru mengaku kurang betah. Ia bahkan sudah kembali beraktivitas dan berjalan-jalan lagi, menunjukkan etos kerja dan semangatnya yang luar biasa.
Awal Mula Stroke Ringan yang Sempat Terlambat Disadari
Kisah ini bermula beberapa waktu lalu, ketika Kak Seto merasakan gejala yang tidak biasa pada tubuhnya. Ia mengeluhkan pusing dan linglung, sebuah kondisi yang sayangnya sempat ia abaikan selama beberapa hari krusial.
Pada awalnya, gejala tersebut tidak terlalu ia hiraukan, mungkin karena kesibukan atau menganggapnya hanya kelelahan biasa. Namun, ketika rasa pusing tak kunjung hilang dan justru semakin mengganggu, barulah ia memutuskan untuk memeriksakan diri ke dokter.
Hasil pemeriksaan MRI menunjukkan bahwa ia terdiagnosa ‘Mild Stroke’ atau stroke ringan. Bagian yang terkena adalah fungsi kognitif, bukan motorik, yang membuat kemampuannya berpikir sempat terganggu dan terasa aneh.
"Kemampuan berpikir sempat seperti membayangkan, seperti bingung begitu ya," ungkap Kak Seto, menggambarkan kondisi yang cukup membingungkan baginya. Ini menjadi pengingat penting bahwa stroke tidak selalu menyerang fisik secara langsung, tetapi juga bisa memengaruhi fungsi otak dan kognisi.
Ironisnya, Kak Seto mengakui bahwa ia terlambat menyadari dan memeriksakan diri, sebuah penyesalan yang ia sampaikan. Masa kritis penanganan stroke adalah 4,5 jam pertama setelah gejala muncul, namun ia baru memeriksakan diri setelah empat hari.
Keterlambatan ini tentu saja memiliki konsekuensi; ia harus dirawat di rumah sakit selama tiga hingga empat hari untuk penanganan intensif. Setelah itu, ia diwajibkan untuk beristirahat penuh di rumah demi pemulihan optimal.
Dokter Sarankan Istirahat Total, Kak Seto Malah ‘Nakal’
Setelah keluar dari rumah sakit, dokter memberikan instruksi yang cukup tegas dan jelas kepada Kak Seto. Anjuran utamanya adalah istirahat total selama satu hingga dua bulan penuh.
Pantangan ini meliputi jangan terlalu capek dan jangan terlalu banyak kegiatan yang menguras energi. Tujuannya tentu saja agar tubuhnya bisa pulih sepenuhnya tanpa tekanan berlebihan.
Namun, bagi seorang Kak Seto yang dikenal super aktif dan penuh ide, anjuran tersebut terasa sangat berat dan sulit dipatuhi. Ia mengaku merasa "tidak nendang" atau tidak bersemangat jika tidak bergerak atau berkegiatan.
"Saya kadang-kadang kalau enggak bergerak, kalau enggak berkegiatan, enggak nendang rasanya," ujarnya dengan jujur, menggambarkan betapa kuatnya dorongan dalam dirinya untuk terus berkarya dan berinteraksi. Ini menunjukkan semangat hidupnya yang luar biasa.
Meski demikian, Kak Seto tetap berusaha memadukan anjuran dokter dengan kebutuhannya untuk tetap aktif. Ia mencoba menyeimbangkan antara istirahat yang cukup dengan kegiatan ringan yang tetap bisa ia lakukan tanpa membebani tubuh.
"Jadi terus berusaha dipadukanlah antara istirahat, lalu ada kegiatan, istirahat, ada kegiatan begitu," jelasnya. Pendekatan ini mungkin menjadi caranya untuk tetap produktif namun tetap mengedepankan kesehatan.
Terbukti, tak lama setelah keluar dari rumah sakit, Kak Seto sudah terlihat kembali beraktivitas di ruang publik. Salah satunya saat ia ditemui di Studio FYP Trans 7 di Jakarta Selatan, menunjukkan bahwa semangatnya memang tak mudah padam dan ia enggan berdiam diri terlalu lama.
Bukan Hanya Stroke, Detak Jantung Juga Bermasalah
Selain stroke ringan yang menyerang fungsi kognitif, Kak Seto juga mengungkapkan kondisi kesehatan lain yang cukup mengkhawatirkan. Ia didiagnosis mengalami Aritmia, sebuah kondisi yang perlu perhatian serius.
Aritmia adalah kondisi di mana detak jantung tidak beraturan, bisa terlalu cepat, terlalu lambat, atau tidak teratur. Ini tentu menambah daftar perhatian terhadap kesehatannya secara keseluruhan.
Namun, ada kabar baik di balik diagnosis tersebut yang patut disyukuri. Kak Seto bersyukur karena selama ini ia menjalani pola hidup sehat yang konsisten dan disiplin.
Hal ini membuat stroke yang ia alami disebabkan oleh faktor kekentalan darah belaka, bukan karena masalah struktural pada jantung. Kondisi jantungnya sendiri tetap dalam keadaan sehat, yang tentu saja sangat melegakan dan mengurangi risiko komplikasi lebih lanjut.
Pola hidup sehat yang ia jalani selama ini terbukti menjadi benteng pertahanan yang kuat bagi tubuhnya. Meskipun ada masalah kesehatan yang muncul, dampaknya tidak separah yang seharusnya terjadi jika ia tidak menjaga kesehatan dengan baik.
Adaptasi Olahraga Pasca-Stroke: Kini Hanya Jalan Kaki
Dengan kondisi kesehatan yang baru ini, Kak Seto tentu harus melakukan penyesuaian signifikan dalam rutinitasnya sehari-hari. Salah satunya adalah dalam hal olahraga, yang sebelumnya mungkin lebih intens.
Ia mengakui kini harus menghindari olahraga yang sifatnya pertandingan atau aktivitas fisik yang terlalu berat dan kompetitif. Ini adalah bagian dari upaya untuk tidak membebani tubuhnya terlalu banyak dan mencegah risiko kambuh.
Sebagai gantinya, Kak Seto kini hanya menjalani jalan kaki sebagai bentuk olahraga utamanya. Aktivitas ini ia lakukan secara rutin selama sebulan terakhir, menunjukkan komitmennya pada pemulihan.
Jalan kaki dipilih karena merupakan olahraga ringan yang tetap memberikan manfaat kesehatan kardiovaskular tanpa risiko tinggi. Ini menunjukkan komitmennya untuk tetap aktif namun dengan cara yang lebih bijak dan sesuai kondisi tubuh.
Penyesuaian ini menjadi bukti bahwa menjaga kesehatan pasca-stroke membutuhkan disiplin, kesabaran, dan kesadaran diri yang tinggi. Meskipun semangatnya membara, ia tetap mendengarkan sinyal dari tubuhnya dan anjuran medis.
Pesan Penting dari Kak Seto: Jangan Anggap Remeh Gejala!
Pengalaman Kak Seto ini menjadi pelajaran berharga yang sangat relevan bagi banyak orang. Terutama tentang pentingnya tidak menunda pemeriksaan kesehatan saat merasakan gejala yang tidak biasa pada tubuh.
Ia sendiri mengakui kesalahannya karena terlambat memeriksakan diri, sebuah keputusan yang ia sesali. Masa kritis 4,5 jam yang terlewat empat hari adalah penyesalan yang ia rasakan dan ia harap tidak terjadi pada orang lain.
"Masa kritisnya itu 4,5 jam, saya terlambat 4 hari baru diperiksa," kenangnya, dengan nada yang penuh penekanan. Keterlambatan ini bisa berdampak fatal dan menyebabkan kerusakan permanen jika tidak segera ditangani.
Kak Seto menekankan bahwa setiap gejala, sekecil apa pun, harus segera ditindaklanjuti dengan serius. Jangan pernah menganggap remeh sinyal atau peringatan yang diberikan oleh tubuh kita, karena itu bisa menjadi indikator masalah serius.
Deteksi dini dan penanganan cepat adalah kunci utama untuk meminimalkan dampak buruk dari berbagai penyakit, termasuk stroke. Pengalamannya menjadi pengingat keras bagi kita semua untuk lebih peka dan proaktif terhadap kesehatan diri.
Semangat Kak Seto untuk tetap aktif meski baru pulih dari stroke ringan patut diacungi jempol dan menjadi inspirasi. Namun, di sisi lain, kisahnya juga menjadi peringatan agar kita tidak menunda pemeriksaan kesehatan demi masa depan yang lebih sehat dan berkualitas.


















