Enable JavaScript to use the widget powered by Widjet
banner 728x250

Geger! Pasutri Jadi Tersangka Baru Perampokan Perhiasan Langka di Louvre, Dalangnya Bukan Mafia Kelas Kakap?

geger pasutri jadi tersangka baru perampokan perhiasan langka di louvre dalangnya bukan mafia kelas kakap portal berita terbaru
banner 120x600
banner 468x60

Dunia dikejutkan dengan kabar terbaru dari Paris. Jaksa penuntut utama Prancis baru saja mendakwa dua tersangka baru terkait perampokan perhiasan langka di Museum Louvre yang sempat bikin heboh. Ini bukan sembarang kasus, karena melibatkan harta karun bernilai fantastis dan kini mulai terkuak siapa saja yang terlibat di baliknya.

Enam Tersangka Terjaring, Pasutri Ikut Terseret

Hingga kini, total enam orang telah ditangkap dan ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus pencurian ikonik ini. Dua nama terbaru yang didakwa pada Minggu (2/11) adalah sepasang suami istri yang bahkan sudah memiliki anak. Penangkapan mereka menambah daftar panjang orang-orang yang harus mempertanggungjawabkan perbuatan di balik jeruji besi.

banner 325x300

Profil Pelaku: Bukan Sindikat Kejahatan Terorganisir?

Jaksa Paris, Laure Beccuau, mengungkapkan fakta menarik yang mungkin bikin kamu geleng-geleng kepala. Seluruh tersangka, termasuk pasutri tersebut, ternyata tinggal di wilayah pinggiran utara Paris, tepatnya di Seine-Saint-Denis. Ini adalah area yang dikenal sebagai salah satu wilayah dengan tingkat kejahatan kecil yang cukup tinggi.

Beccuau menegaskan bahwa mereka adalah pelaku kriminal kecil, bukan bagian dari kelompok kejahatan terorganisir yang biasa kita bayangkan dengan jaringan internasional yang rapi. "Profil mereka tidak sesuai dengan ciri-ciri yang biasanya terkait dengan kalangan atas dunia kejahatan terorganisir," ucap Beccuau kepada media lokal Prancis. Pernyataan ini tentu mengejutkan banyak pihak, mengingat skala dan nilai perampokan yang sangat besar.

Bagaimana mungkin para "kriminal kecil" ini bisa merencanakan dan melaksanakan pencurian yang begitu berani dan terkoordinasi di salah satu museum paling aman di dunia? Ini menjadi pertanyaan besar yang masih harus dipecahkan oleh para penyelidik. Kasus ini seolah mematahkan stereotip tentang dalang di balik kejahatan besar.

Identitas Pasutri yang Bikin Geger

Pasangan yang baru didakwa ini berusia akhir 30-an. Mereka berdua bersikeras membantah semua keterlibatan dalam aksi pencurian tersebut. Menariknya, beberapa tersangka memang saling mengenal, terutama pasangan suami istri ini, menunjukkan adanya koneksi antar pelaku.

Sang pria, yang berusia 37 tahun, menolak memberikan pernyataan apa pun kepada pihak berwenang. Kini, ia didakwa dengan tuduhan pencurian terorganisir dan persekongkolan kriminal, sebuah tuduhan serius yang bisa berujung pada hukuman berat. Sementara itu, pasangannya dijerat tuduhan membantu pencurian terorganisir dan persekongkolan kriminal, menunjukkan perannya sebagai kaki tangan.

Drama di Pengadilan: Tangisan Sang Istri

Momen mengharukan terjadi saat sang wanita dihadirkan di pengadilan Paris pada Sabtu. Ia tampak menangis, mengungkapkan ketakutannya terhadap keselamatan anak-anak dan dirinya sendiri. Sebuah drama yang menggambarkan tekanan luar biasa yang mereka hadapi, apalagi dengan ancaman hukuman penjara yang menanti.

DNA Ungkap Jejak Tak Terbantahkan

Bagaimana polisi bisa menemukan pasutri ini? Jawabannya ada pada bukti DNA yang tak terbantahkan. Pasangan tersebut ditangkap setelah jejak DNA mereka ditemukan di keranjang pengangkat yang digunakan dalam aksi perampokan. Bukti ini menjadi kunci penting dalam penyelidikan yang sebelumnya menemui jalan buntu.

Jaksa menyebutkan bahwa bukti DNA yang "signifikan" mengaitkan pria tersebut dengan kejahatan. Sementara jejak DNA pasangannya juga ditemukan, namun ada kemungkinan berpindah melalui kontak dengan orang atau benda lain. "Semua ini masih perlu diselidiki lebih lanjut," ujar Beccuau, mengisyaratkan bahwa penyelidikan masih akan terus berkembang.

Rekam Jejak Kriminal Para Tersangka

Ternyata, para tersangka ini bukan wajah baru di dunia kriminal. Catatan kriminal pria berusia 37 tahun itu menunjukkan bahwa ia pernah menghadapi 11 vonis hukuman, sebagian besar terkait kasus pencurian. Ini mengindikasikan bahwa ia memang memiliki riwayat panjang dalam kejahatan serupa, meskipun skalanya tidak sebesar perampokan Louvre.

Dua pria yang ditangkap lebih dulu juga dikenal polisi karena pernah melakukan pencurian. Keduanya tinggal di pinggiran timur laut Paris, Aubervilliers, wilayah yang berdekatan dengan tempat tinggal pasutri tersebut. Beccuau menuturkan, salah satu dari dua pria Aubervilliers itu dan tersangka pria yang didakwa pada Sabtu "pernah terlibat dalam kasus pencurian yang sama dan dijatuhi hukuman di Paris pada 2015." Ini menunjukkan adanya jaringan kecil atau setidaknya kenalan lama di antara para pelaku, yang mungkin mempermudah koordinasi aksi mereka.

Kronologi Perampokan Fantastis di Siang Bolong

Mari kita ingat kembali bagaimana perampokan ini terjadi, sebuah aksi yang bikin dunia terperangah. Bulan lalu, empat orang pelaku melancarkan aksi nekat di museum seni paling banyak dikunjungi di dunia ini, dan yang lebih mengejutkan, mereka melakukannya di siang bolong! Hanya dalam waktu tujuh menit, mereka berhasil mencuri perhiasan senilai sekitar 102 juta dolar AS, atau setara Rp1,6 triliun (kurs Rp16.000/USD), sebelum melarikan diri dengan skuter.

Aksi mereka terbilang berani dan terencana dengan matang. Para pelaku memarkir sebuah truk dengan tangga ekstensi tepat di bawah Galeri Apollo, tempat permata mahkota Prancis disimpan. Mereka kemudian memanjat ke atas, memecahkan jendela, dan menggunakan gergaji listrik untuk memotong kaca pelindung tempat perhiasan dipamerkan. Dua pria diduga sebagai pelaku utama masuk ke galeri, sementara dua rekan lainnya menunggu di luar untuk mengawasi situasi.

Harta Karun yang Hilang dan yang Tersisa

Dalam pelarian yang panik, para pencuri menjatuhkan mahkota bertatahkan berlian dan zamrud milik Permaisuri Eugénie, istri Kaisar Napoleon III. Mahkota bersejarah ini, yang merupakan simbol kemewahan dan kekuasaan era kekaisaran Prancis, beruntung berhasil diselamatkan dan kini aman kembali di tangan pihak berwenang. Sebuah keberuntungan di tengah musibah besar yang menimpa warisan budaya dunia.

Namun, keberuntungan itu tidak berlaku untuk delapan perhiasan lain yang tak kalah berharganya. Salah satu yang paling mencolok adalah kalung zamrud dan berlian yang diberikan Napoleon I kepada istri keduanya, Permaisuri Marie-Louise. Perhiasan ini bukan hanya bernilai fantastis secara materi, tetapi juga memiliki nilai sejarah dan budaya yang tak ternilai, menjadi saksi bisu berbagai peristiwa penting di Eropa. Hilangnya benda-benda ini merupakan kerugian besar bagi dunia seni dan sejarah, meninggalkan lubang besar dalam koleksi warisan Prancis.

Perburuan Masih Berlanjut, Ke Mana Harta Karun Itu?

Hingga kini, pencarian perhiasan yang hilang masih terus dilakukan tanpa henti. Jaksa Beccuau menegaskan bahwa "semua kemungkinan sedang ditelusuri" oleh tim penyelidik. Mereka menghadapi tantangan besar karena perhiasan-perhiasan ini bisa saja berpindah tangan dengan cepat di pasar gelap internasional, yang sulit dilacak.

Ada kekhawatiran serius bahwa harta tersebut "bisa saja digunakan untuk pencucian uang" oleh pihak-pihak tak bertanggung jawab, atau dijual secara terpisah kepada kolektor gelap yang tidak peduli dengan asal-usulnya. "Kami menelusuri seluruh kemungkinan penjualan di pasar gelap, yang kami harap tidak akan terjadi dalam waktu dekat," ujarnya dengan nada prihatin. Meskipun enam orang tersangka sudah ditangkap, perhiasan yang dicuri senilai Rp1,6 triliun itu belum berhasil ditemukan. Ironisnya, satu orang tersangka lainnya masih diburu polisi, menambah kompleksitas kasus ini. Kasus perampokan Louvre ini masih jauh dari kata usai, dan dunia menanti kelanjutan dari drama pencarian harta karun yang hilang ini.

banner 325x300