Enable JavaScript to use the widget powered by Widjet
banner 728x250

Terungkap! Bitcoin Anjlok di Oktober 2025, Padahal Baru Pecahkan Rekor US$126 Ribu. Ini Penyebabnya!

terungkap bitcoin anjlok di oktober 2025 padahal baru pecahkan rekor us126 ribu ini penyebabnya scaled portal berita terbaru
banner 120x600
banner 468x60

Pasar kripto global terguncang hebat setelah Bitcoin (BTC) mencatat penurunan bulanan pertamanya di bulan Oktober sejak tahun 2018. Padahal, aset digital terbesar di dunia ini baru saja memecahkan rekor tertinggi baru yang fantastis, menembus angka US$126 ribu per koin. Kejadian ini sontak memicu pertanyaan besar di kalangan investor dan analis: ada apa sebenarnya?

Rekor US$126 Ribu Tak Mampu Menahan Kejatuhan

banner 325x300

Oktober 2025 seharusnya menjadi bulan yang penuh perayaan bagi Bitcoin. Setelah melesat dan mencapai puncak US$126 ribu per BTC, banyak yang berharap tren positif ini akan berlanjut. Namun, kenyataan berkata lain.

Melansir laporan Reuters, harga Bitcoin justru terkoreksi tajam hampir 5 persen sepanjang bulan Oktober. Bahkan, pada periode 10-11 Oktober, BTC sempat anjlok hingga menyentuh level US$104.782,88, meninggalkan banyak investor dalam kebingungan.

Akhir dari Mitos "Uptober" Bitcoin

Penurunan ini bukan sekadar koreksi biasa. Ini adalah pukulan telak yang mengakhiri reli tujuh tahun berturut-turut, di mana Oktober selalu menjadi bulan keberuntungan bagi pasar kripto. Istilah "Uptober" yang sering disematkan pada bulan ini, kini harus pupus.

Bitcoin, sebagai aset kripto paling dominan, benar-benar terpukul oleh kombinasi sentimen pasar global yang melemah dan berkurangnya minat risiko dari para investor. Fenomena ini menunjukkan betapa rentannya pasar kripto terhadap gejolak ekonomi makro.

Badai Sempurna: Sentimen Global dan Kebijakan Trump Jadi Pemicu

Adam McCarthy, Senior Research Analyst di Kaiko, menjelaskan bahwa Bitcoin sebenarnya memasuki Oktober dengan posisi yang cukup kuat. Awalnya, pergerakannya sejalan dengan emas dan pasar saham yang juga berada di dekat level tertinggi sepanjang masa. Namun, ketika ketidakpastian mulai meningkat, arus modal justru tidak kembali masuk ke Bitcoin secara signifikan.

Ini menjadi indikasi awal bahwa kepercayaan investor terhadap aset berisiko mulai terkikis. Mereka memilih untuk menarik dana atau menahannya, alih-alih berinvestasi di aset yang fluktuatif seperti kripto.

Ancaman Tarif Trump Picu Likuidasi Terbesar

Tekanan terhadap Bitcoin makin kuat setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membuat pengumuman yang menggemparkan. Ia mengumumkan tarif 100 persen untuk impor China dan mengancam pembatasan ekspor terhadap perangkat lunak strategis. Kebijakan ini langsung memicu reaksi berantai di pasar keuangan global.

Dampak dari pengumuman Trump ini sangat masif, menyebabkan likuidasi terbesar dalam sejarah pasar kripto. Investor panik dan buru-buru menjual aset mereka untuk menghindari kerugian lebih lanjut, menciptakan efek domino yang tak terhindarkan.

Pasar Kripto yang Masih "Sempit" dan Rentan

McCarthy menambahkan bahwa kejadian penurunan tajam tersebut menjadi pengingat penting bagi semua pihak. Pasar kripto, meskipun sudah berkembang pesat, masih sangat sempit dan rentan terhadap guncangan besar. Ini berbeda dengan pasar saham atau obligasi yang jauh lebih dalam dan likuid.

"Ini Bitcoin dan Ether, dan bahkan keduanya masih bisa mengalami koreksi 10 persen dalam 15-20 menit," tegas McCarthy. Pernyataan ini menyoroti betapa cepatnya nilai aset kripto bisa berubah drastis dalam waktu singkat, membutuhkan kewaspadaan ekstra dari para investor.

Ketidakpastian Ekonomi Global Perparah Tekanan

Selain faktor Trump, investor juga dihantui oleh ketidakpastian kebijakan moneter global. The Fed, bank sentral AS, menolak spekulasi pasar bahwa suku bunga akan terus dipangkas tahun ini. Keputusan ini mengirim sinyal bahwa era uang murah mungkin tidak akan kembali secepat yang diharapkan, membuat investor lebih berhati-hati dalam mengambil risiko.

Di sisi lain, penutupan pemerintahan AS menunda rilis data ekonomi penting, menambah lapisan ketidakjelasan arah pasar. Tanpa data yang akurat, sulit bagi investor untuk membuat keputusan yang tepat, sehingga mereka cenderung memilih untuk menunggu dan melihat.

Bayangan Koreksi Pasar Saham AS

Kekhawatiran atas valuasi tinggi pasar saham juga turut memperkeruh suasana. CEO JPMorgan Chase, Jamie Dimon, secara terbuka memperingatkan kemungkinan koreksi signifikan di pasar saham AS dalam enam bulan hingga dua tahun mendatang. Peringatan dari tokoh sekaliber Dimon tentu saja tidak bisa dianggap remeh.

Koreksi di pasar saham tradisional seringkali memiliki efek domino ke pasar aset berisiko lainnya, termasuk kripto. Investor cenderung menarik dana dari aset yang lebih spekulatif saat prospek ekonomi global terlihat suram, mencari perlindungan di aset yang lebih aman.

Jake Ostrovskis, Head of OTC Trading di Wintermute, mengamini sentimen ini. Ia mengatakan bahwa pelaku pasar masih sangat berhati-hati pasca peristiwa likuidasi besar tersebut. "Kehati-hatian ini bertahan di tengah spekulasi mengenai potensi kerentanan yang masih ada di sistem," ujarnya. Ini menunjukkan bahwa trauma pasar masih membekas dan membutuhkan waktu untuk pulih sepenuhnya.

Harapan di Tengah Badai: Kenaikan Tahunan dan Dukungan Trump

Meskipun Oktober menjadi bulan yang kelabu, ada secercah harapan yang perlu dicatat. Bitcoin masih mencatat kenaikan lebih dari 16 persen sejak awal tahun 2025. Ini menunjukkan bahwa, terlepas dari gejolak bulanan, tren jangka panjang Bitcoin masih menunjukkan pertumbuhan yang solid.

Selain itu, dukungan dari Presiden Trump terhadap aset digital juga memberikan dorongan positif bagi industri kripto. Sejak Trump lebih terbuka terhadap aset digital, industri ini mendapat angin segar. Ini termasuk penghentian sejumlah gugatan terhadap platform kripto besar dan upaya regulator AS menyiapkan aturan yang lebih ramah untuk aset digital.

Dukungan politik semacam ini sangat krusial untuk legitimasi dan pertumbuhan jangka panjang pasar kripto. Regulasi yang jelas dan mendukung dapat menarik lebih banyak investor institusional dan mengurangi risiko hukum yang selama ini membayangi.

Apa Artinya Bagi Investor Bitcoin?

Penurunan di bulan Oktober 2025 ini menjadi pengingat keras bahwa pasar kripto adalah arena yang penuh volatilitas. Rekor tertinggi bisa dicapai dalam sekejap, namun koreksi tajam juga bisa terjadi kapan saja, dipicu oleh berbagai faktor global dan kebijakan. Bagi investor, ini berarti pentingnya diversifikasi portofolio dan tidak menaruh semua telur dalam satu keranjang.

Meskipun demikian, kenaikan tahunan yang masih positif dan dukungan politik dari tokoh berpengaruh seperti Trump memberikan harapan untuk masa depan. Pasar kripto mungkin akan terus mengalami pasang surut, namun potensi jangka panjangnya tetap menarik. Kuncinya adalah tetap tenang, melakukan riset mendalam, dan selalu mengikuti perkembangan berita untuk membuat keputusan investasi yang bijak.

banner 325x300