Menjelang peringatan Hari Sumpah Pemuda, sebuah pesan penting kembali digaungkan, seolah menjadi pengingat bagi seluruh elemen bangsa. Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, secara tegas mengingatkan kembali amanat luhur Presiden pertama RI, Soekarno, tentang urgensi menjadikan Indonesia sebagai negara maritim yang tangguh dan berdaulat. Ini bukan sekadar wacana, melainkan fondasi masa depan bangsa yang tak boleh diabaikan.
Hasto menekankan bahwa untuk mewujudkan cita-cita tersebut, ada beberapa syarat mutlak yang harus dipenuhi. Penguasaan teknologi, riset mendalam, inovasi tanpa henti, serta keyakinan penuh pada kekuatan dan potensi bangsa sendiri adalah kuncinya. Tanpa pilar-pilar ini, impian menjadi negara maritim yang disegani hanya akan menjadi angan-angan belaka.
Mengapa Visi Maritim Bung Karno Begitu Penting?
Pesan ini disampaikan Hasto saat membuka Focus Group Discussion (FGD) Bidang Pariwisata serta Bidang Kelautan dan Perikanan di Kantor DPC PDIP Cirebon, Jawa Barat, baru-baru ini. Ia mengutip langsung perkataan Bung Karno, "Kita tidak akan menjadi negara kuat dan sejahtera jika tidak menguasai samudera raya. Kejayaan Indonesia dulu lahir karena kita adalah bangsa pelaut." Kalimat ini bukan hanya sejarah, tapi peta jalan bagi kejayaan di masa kini dan nanti.
Amanat Bung Karno yang disampaikan pada 23 September 1963 itu, menurut Hasto, masih sangat relevan hingga detik ini. Indonesia, dengan ribuan pulaunya, adalah negara kepulauan yang unik, di mana laut justru menjadi pemersatu, bukan pemisah. Oleh karena itu, arah pembangunan nasional tidak boleh sedikit pun mengabaikan jati diri kita sebagai bangsa maritim. Ini adalah identitas fundamental yang membentuk karakter dan potensi kita.
"Kemajuan bangsa lahir dari tanah dan lautnya sendiri. Ketika kita meninggalkan jati diri maritim, kita kehilangan arah," tegas Hasto. Pernyataan ini menjadi cambuk bagi kita semua, bahwa melupakan laut sama dengan melupakan akar kejayaan. Sejarah mencatat, kerajaan-kerajaan besar Nusantara seperti Sriwijaya dan Majapahit mencapai puncak keemasannya karena menguasai jalur maritim dan menjadi kekuatan laut yang dominan di kawasan.
Laut, Bukan Sekadar Batas, Tapi Halaman Depan Bangsa
Sejak Kongres IV, PDI Perjuangan telah menempatkan laut sebagai prioritas utama dalam kerangka pembangunan nasional. Ini bukan sekadar retorika politik, melainkan komitmen ideologis yang kuat. Bagi PDIP, laut tidak boleh dipandang sebagai ruang kosong yang bebas dieksploitasi tanpa batas, apalagi hanya sebagai tempat pembuangan.
"Laut bukan keranjang sampah raksasa, tetapi masa depan kita. Ini harus kita pahami bersama," tegas Hasto dengan nada serius. Pernyataan ini menyoroti betapa krusialnya menjaga kelestarian laut dan memanfaatkannya secara berkelanjutan. Laut adalah sumber kehidupan, sumber pangan, sumber energi, dan jalur perdagangan yang vital. Mengabaikannya berarti mengabaikan masa depan generasi mendatang.
PDIP dan Komitmen Membangun Kekuatan Maritim
Komitmen PDIP terhadap visi maritim Bung Karno tercermin dalam berbagai kebijakan dan program yang mereka dorong. Mereka percaya bahwa dengan mengoptimalkan potensi laut, Indonesia dapat mencapai kemandirian ekonomi, kedaulatan pangan, dan pertahanan yang kuat. Ini sejalan dengan semangat Trisakti Bung Karno: berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan.
Membangun kekuatan maritim berarti investasi besar dalam infrastruktur pelabuhan, industri perkapalan, armada perikanan modern, serta sistem pertahanan laut yang mumpuni. Ini juga berarti memberdayakan masyarakat pesisir, nelayan, dan seluruh pelaku ekonomi kelautan agar mereka menjadi garda terdepan dalam menjaga dan mengelola sumber daya laut secara bijaksana.
Sumpah Pemuda: Momentum Bangkitkan Jiwa Bahari
Menjelang peringatan Sumpah Pemuda 28 Oktober, Hasto mengajak seluruh elemen bangsa, khususnya generasi muda, untuk membangkitkan kembali spirit kejayaan maritim Indonesia. Momentum ini adalah waktu yang tepat untuk meluruskan paradigma pembangunan yang selama ini mungkin terlalu berorientasi daratan, menjauh dari karakter asli bangsa kepulauan.
Sumpah Pemuda adalah tentang persatuan, tentang identitas nasional, dan tentang semangat juang pemuda. Semangat ini harus diinternalisasikan dalam upaya membangun kembali kejayaan maritim. Pemuda-pemudi Indonesia harus menjadi pelopor dalam inovasi kelautan, penjaga lingkungan laut, dan penggerak ekonomi biru. Mereka adalah penerus cita-cita Bung Karno untuk menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia.
"Momentum ini untuk mengingatkan bahwa kejayaan Indonesia lahir dari laut," ujarnya, menekankan pentingnya kesadaran kolektif. Tanpa kesadaran ini, segala upaya akan sia-sia. Pendidikan maritim, kampanye kesadaran lingkungan laut, dan program-program yang melibatkan pemuda dalam sektor kelautan harus terus digalakkan.
Teknologi dan Inovasi: Pilar Utama Kejayaan Maritim
Penguasaan teknologi dan riset adalah kunci untuk membuka potensi laut secara maksimal dan berkelanjutan. Ini mencakup teknologi penangkapan ikan yang ramah lingkungan, budidaya laut modern, eksplorasi sumber daya energi terbarukan dari laut, hingga pengembangan bioteknologi kelautan. Indonesia memiliki kekayaan hayati laut yang luar biasa, dan inovasi adalah cara untuk mengolahnya menjadi nilai tambah bagi kesejahteraan bangsa.
Pemerintah, akademisi, sektor swasta, dan masyarakat harus bersinergi dalam mengembangkan ekosistem inovasi kelautan. Dukungan terhadap startup di bidang maritim, fasilitas riset yang memadai, serta insentif bagi penemuan-penemuan baru akan mempercepat terwujudnya Indonesia sebagai negara maritim yang maju secara teknologi. Ini adalah investasi jangka panjang yang akan membuahkan hasil berlimpah.
Potensi Ekonomi Biru dari Laut Cirebon hingga Nusantara
FGD di Cirebon tersebut juga dihadiri sejumlah elite DPP PDIP seperti Wiryanti Sukamdani, Rokhmin Dahuri, Tri Rismaharini, dan Ribka Tjiptaning, bersama anggota DPR RI Fraksi PDIP. Kehadiran mereka menunjukkan keseriusan partai dalam mengangkat isu ini. Para narasumber, termasuk Hendra Sugandhi (APINDO) dan Chef Handry Wahyu S., menyoroti potensi besar sektor kelautan dan perikanan Cirebon.
Cirebon, dengan garis pantainya yang panjang dan kekayaan lautnya, adalah contoh mikro dari potensi besar yang dimiliki seluruh wilayah pesisir Indonesia. Jika dimaksimalkan dengan strategi yang tepat, sektor ini dinilai mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara signifikan. Ini bukan hanya tentang perikanan tangkap, tetapi juga budidaya, pengolahan hasil laut, pariwisata bahari, hingga industri garam.
Masa Depan Indonesia: Kembali Menjadi Bangsa Pelaut yang Berdaulat
Visi maritim Bung Karno adalah panggilan untuk kembali ke jati diri bangsa. Ini adalah ajakan untuk melihat laut bukan sebagai penghalang, melainkan sebagai anugerah tak ternilai yang harus dijaga dan dikelola dengan bijak. Dengan semangat Sumpah Pemuda, dukungan politik yang kuat, inovasi teknologi, dan partisipasi aktif seluruh masyarakat, Indonesia memiliki peluang emas untuk kembali menjadi "Raja Laut" yang berdaulat dan disegani di mata dunia.
Masa depan Indonesia ada di laut. Sudah saatnya kita semua, dari Sabang sampai Merauke, menyadari dan bertindak untuk mewujudkan cita-cita luhur ini. Jangan biarkan laut kita menjadi halaman belakang yang terlupakan, melainkan jadikan ia halaman depan yang megah, tempat kejayaan bangsa kita bersemi.


















