Enable JavaScript to use the widget powered by Widjet
banner 728x250

El-Fasher Mencekam: Kota Terakhir Darfur Jatuh, Ribuan Nyawa Melayang di Tengah Pembantaian Brutal RSF

el fasher mencekam kota terakhir darfur jatuh ribuan nyawa melayang di tengah pembantaian brutal rsf portal berita terbaru
banner 120x600
banner 468x60

Lebih dari 2.000 orang diduga tewas dalam pembantaian massal di Kota El-Fasher, Sudan barat, belum lama ini. Tragedi ini terjadi setelah ibu kota negara bagian Darfur Utara itu direbut oleh paramiliter Pasukan Dukungan Cepat (Rapid Support Forces/RSF). El-Fasher, yang selama ini menjadi benteng terakhir Angkatan Bersenjata Sudan (Sudan Armed Forces/SAF) di wilayah Darfur, kini telah jatuh.

Kejatuhan El-Fasher: Akhir dari Pengepungan Panjang

banner 325x300

El-Fasher jatuh ke tangan kelompok paramiliter RSF pada Minggu (26/10) setelah dikepung selama 18 bulan. Selama pengepungan yang mencekam itu, RSF secara brutal memblokir masuknya makanan dan kebutuhan pokok. Ratusan ribu warga sipil yang terjebak di dalam kota El-Fasher harus berjuang keras untuk bertahan hidup.

Blokade ini menciptakan krisis kemanusiaan yang parah, membuat warga sipil kelaparan dan kekurangan akses terhadap obat-obatan. Kejatuhan kota ini menandai babak baru yang mengerikan dalam konflik Sudan yang tak berkesudahan.

Horor Pembantaian Massal dan Kekejaman yang Tak Terbayangkan

Laporan awal dari SAF menyebutkan sekitar 2.000 orang tewas akibat pembantaian massal yang dilakukan pasukan RSF. Sementara itu, Jaringan Dokter Sudan menduga sebanyak 1.500 orang telah kehilangan nyawa mereka dalam kekejaman ini. Angka-angka ini menunjukkan skala tragedi kemanusiaan yang sangat besar.

Dalam video yang telah diverifikasi oleh lembaga Sanad, terekam jelas aksi brutal pasukan RSF mengeksekusi dan menyiksa orang-orang tak berdosa. Bahkan, RSF disebut kerap merekam aksi mereka sendiri saat melakukan kekejaman terhadap warga sipil, menunjukkan tingkat kekejian yang sulit diterima akal sehat. Kelompok medis dan hak asasi manusia Sudan juga mengonfirmasi bahwa RSF melakukan pembunuhan massal, menahan warga sipil, dan menyerang rumah sakit, memperparah penderitaan penduduk.

Penarikan SAF dan Janji Balas Dendam

Pada Senin (27/10), Komandan SAF dan pemimpin de facto Jenderal Abdel Fattah al-Burhan mengumumkan bahwa pasukannya telah ditarik dari El-Fasher. Keputusan sulit ini diambil untuk menyelamatkan penduduk dari "penghancuran sistemik dan pembunuhan sistemik warga sipil" oleh RSF. Al-Burhan menegaskan bahwa penarikan ini adalah langkah strategis untuk melindungi nyawa yang tersisa.

Dengan nada penuh kemarahan dan tekad, al-Burhan menyatakan, "Kami bertekad untuk membalas dendam atas apa yang terjadi pada rakyat kami di El-Fasher." Pernyataan ini mengindikasikan bahwa konflik di Sudan masih jauh dari kata usai dan potensi eskalasi lebih lanjut sangat mungkin terjadi.

Klaim Kontroversial dari Pemimpin RSF

Di tengah laporan kekejaman yang mengerikan, Pemimpin RSF Mohammed Hamdan "Hemedti" Dagalo justru mengeklaim pihaknya berupaya untuk "menyatukan Sudan" di bawah demokrasi sejati. Klaim ini sangat kontras dengan realitas di lapangan dan laporan-laporan tentang pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan pasukannya.

Hemedti juga berjanji bahwa siapa pun yang terbukti melakukan kejahatan terhadap warga sipil "akan dimintai pertanggungjawaban." Namun, banyak pihak meragukan komitmen ini mengingat sejarah dan tindakan brutal yang terus-menerus dilakukan oleh pasukannya.

Krisis Kemanusiaan yang Memburuk: Ribuan Mengungsi, Ratusan Ribu Terjebak

Perserikatan Bangsa-Bangsa melaporkan bahwa lebih dari 26 ribu orang telah mengungsi dari El-Fasher hanya dalam dua hari. Mereka terpaksa berjalan kaki menuju Tawila yang berjarak 70 kilometer, mencari perlindungan dari kekerasan yang tak berkesudahan. Perjalanan panjang ini penuh dengan bahaya dan penderitaan.

Sementara itu, sekitar 177 ribu warga sipil diduga masih terjebak di dalam wilayah El-Fasher yang kini dikuasai RSF. Nasib mereka masih belum jelas, dan kekhawatiran akan keselamatan serta akses terhadap bantuan kemanusiaan terus meningkat. Dunia kini menanti tindakan nyata untuk melindungi mereka.

Mengenal RSF: Dari Janjaweed hingga Paramiliter Berkuasa

RSF yang awalnya dibentuk sebagai "Janjaweed" merupakan kelompok bersenjata suku nomaden yang mendukung kepemimpinan Presiden Omar al-Bashir. Kelompok ini mulai berkuasa sejak Perang Darfur pada 2003, dikenal karena kekejaman mereka. Janjaweed dituduh menargetkan suku-suku yang memberontak dan menetap, dengan korban jiwa diduga mencapai 100 ribu hingga 300 ribu orang.

Pada tahun 2013, al-Bashir secara resmi meresmikan Janjaweed sebagai RSF, memberikan legitimasi dan struktur militer dengan 100 ribu anggota. Transformasi ini mengubah milisi suku menjadi kekuatan paramiliter yang lebih terorganisir, namun tetap mempertahankan reputasi kekejaman mereka.

Pergeseran Aliansi dan Akar Konflik Berdarah

Ironisnya, RSF justru menggulingkan al-Bashir selama pemberontakan rakyat tahun 2019, yang sebelumnya adalah pelindung mereka. Setelah itu, pada tahun 2021, RSF bersekutu dengan SAF untuk menggulingkan Perdana Menteri sipil Abdalla Hamdok, yang mengakhiri pemerintahan transisi sipil-militer. Aliansi ini menunjukkan betapa dinamis dan tidak stabilnya lanskap politik Sudan.

Namun, ketegangan segera meningkat antara Hemedti, pemimpin RSF, dan al-Burhan, pemimpin SAF. Perselisihan utama adalah mengenai kapan RSF akan bergabung dengan SAF dan kelompok mana yang akan memimpin negara. Ketidaksepakatan ini memuncak menjadi pecahnya perang pada tanggal 15 April 2023, yang kini telah menelan ribuan korban jiwa dan menyebabkan krisis kemanusiaan yang parah.

Konflik ini pada dasarnya adalah perebutan kekuasaan, di mana SAF menuntut agar RSF terintegrasi sepenuhnya ke dalam jajaran dan struktur komandonya. Namun, RSF menolak, ingin mempertahankan otonomi dan kekuatan mereka sendiri. Situasi di El-Fasher hanyalah salah satu babak mengerikan dalam konflik panjang yang terus menghantui Sudan.

banner 325x300