Borneo FC sedang ‘on fire’ di awal Super League 2025/2026. Delapan laga tanpa kekalahan menjadi bukti dominasi mereka yang tak terbantahkan, memuncaki klasemen dengan selisih poin yang cukup nyaman. Performa menawan ini membuat para pendukung Pesut Etam di Samarinda mulai bermimpi tentang gelar juara.
Namun, euforia yang membara ini tak sepenuhnya disambut tanpa keraguan dari sebagian besar pengamat dan bahkan para suporter setia. Ada bayangan masa lalu yang terus menghantui, sebuah pola yang seolah menjadi kutukan tak berujung. Pertanyaan besar pun muncul: sampai kapan performa impresif ini akan bertahan di Super League?
Siklus Pahit: Jago di Awal, Loyo di Akhir
Ini bukan sekadar pertanyaan retoris, melainkan refleksi dari rekam jejak Borneo FC yang pahit. Tim kebanggaan Samarinda ini punya pola yang sangat mencolok: selalu tampil perkasa di awal musim, tapi kemudian kerap ‘kehabisan bensin’ dan melorot performanya saat kompetisi memasuki fase krusial. Ini bukan sekadar kebetulan, melainkan sebuah siklus yang berulang dan sulit dipatahkan di Super League.
Publik sepak bola nasional, terutama para pendukung Pesut Etam, tentu tak bisa melupakan rekam jejak negatif ini. Setiap kali Borneo FC tampil memukau di awal, selalu ada bisikan skeptis yang menyertai, "Akankah sejarah terulang lagi?" Kecemasan ini beralasan, mengingat pengalaman pahit yang terus menerus mereka alami dalam perburuan gelar Super League.
Musim 2023/2024 menjadi contoh paling nyata dan paling menyakitkan. Borneo FC berhasil menjadi juara fase reguler dengan performa yang sangat konsisten dan mendominasi. Namun, saat memasuki Championship Series, performa mereka justru merosot tajam, gagal meraih gelar juara yang sudah di depan mata. Impian yang sudah di genggaman, buyar begitu saja.
Bahkan, di musim sebelumnya, 2024/2025, situasinya juga tak jauh berbeda. Pada pekan ke-10 Super League, mereka sempat memuncaki klasemen dengan 21 poin, hasil enam kemenangan, tiga imbang, dan hanya sekali kalah. Sebuah start yang menjanjikan, bukan? Sayangnya, di akhir musim, posisi mereka melorot drastis hingga finis di urutan kelima, jauh dari target juara Super League.
Mundur lagi ke musim 2022/2023, di tengah bayang-bayang Tragedi Kanjuruhan yang mengguncang sepak bola Indonesia, Borneo FC juga sempat tampil perkasa. Mereka menduduki posisi runner-up klasemen pada pekan ke-10. Namun, lagi-lagi, di akhir kompetisi, Pesut Etam harus puas mengakhiri musim di urutan keempat. Pola ini seolah menjadi momok yang terus menghantui dan membuat publik skeptis terhadap peluang juara Super League mereka.
Mengapa Selalu ‘Kehabisan Bensin’? Indikasi Masalah Internal
Lantas, apa yang sebenarnya terjadi di balik fenomena ini? Mengapa Borneo FC seolah selalu ‘kehabisan bensin’ saat kompetisi memasuki fase krusial Super League? Publik dan pengamat sepak bola banyak menduga, masalah internal tim menjadi penyebab utama melorotnya performa di akhir musim. Ini bukan hanya soal kebugaran fisik, melainkan juga mentalitas dan stabilitas tim secara keseluruhan.
Salah satu indikasi paling jelas dari masalah internal ini adalah seringnya pergantian pelatih di tengah musim. Stabilitas kepelatihan, yang sejatinya menjadi fondasi utama sebuah tim yang ingin meraih gelar, justru menjadi barang langka di Borneo FC. Kebijakan ini tentu saja memengaruhi adaptasi pemain, konsistensi strategi, dan bahkan psikologis tim.
Bayangkan saja, setiap kali ada pelatih baru, pemain harus kembali beradaptasi dengan filosofi, taktik, dan gaya kepelatihan yang berbeda. Ini memakan waktu dan energi, yang seharusnya bisa digunakan untuk menjaga momentum dan fokus pada pertandingan Super League. Pergantian yang terlalu sering bisa merusak chemistry tim dan membuat pemain kehilangan arah.
Roller Coaster Pelatih: Sebuah Kisah Instabilitas
Mari kita lihat rekam jejak pergantian pelatih dalam beberapa musim terakhir, yang menggambarkan betapa tidak stabilnya kursi kepelatihan di Borneo FC. Pada musim 2022/2023, Milomir Seslija yang sempat membawa tim tampil menjanjikan, dipecat setelah hanya 10 pekan. Sebuah keputusan yang mengejutkan, mengingat performa tim saat itu di Super League.
Penggantinya, Andre Gaspar, juga tak bertahan lama dan dilepas sebelum musim berakhir. Dua pelatih dalam satu musim, jelas bukan resep untuk konsistensi. Ini menunjukkan adanya tekanan besar dan ekspektasi yang tinggi, namun tanpa diimbangi dengan kesabaran dan strategi jangka panjang yang jelas untuk Super League.
Musim berikutnya, 2023/2024, Pieter Huistra berhasil membawa Borneo FC menjuarai fase reguler Super League, sebuah pencapaian yang patut diacungi jempol. Namun, kegagalan di Championship Series membuat posisinya tak aman, dan ia akhirnya didepak pada musim berikutnya. Ini menunjukkan bahwa bahkan kesuksesan parsial pun tak menjamin stabilitas di klub ini.
Kemudian, pada 16 Januari 2025, Joaquin Gomes ditunjuk sebagai pelatih baru. Namun, masa kepelatihannya juga tak panjang. Per 1 Juni 2025, ia dipecat dan digantikan oleh Fabio Lefundes, pelatih asal Brasil yang kini menukangi Pesut Etam. Empat pelatih dalam tiga musim, sebuah angka yang mencengangkan dan menggambarkan betapa labilnya manajemen dalam urusan kepelatihan di Super League.
Pergantian yang begitu cepat ini tentu menimbulkan pertanyaan besar tentang visi jangka panjang klub. Apakah manajemen terlalu mudah panik atau kurang sabar? Atau adakah masalah yang lebih dalam di balik layar yang membuat para pelatih sulit bertahan?
Fabio Lefundes: Pemutus Rantai Kutukan atau Korban Berikutnya?
Kini, di bawah arahan Fabio Lefundes, Borneo FC kembali menunjukkan taringnya. Mereka menyapu bersih delapan laga awal Super League 2025/2026 tanpa kekalahan, mencetak banyak gol, dan bermain dengan gaya yang atraktif. Performa ini tentu saja memicu harapan baru, sekaligus kekhawatiran lama.
Pertanyaannya, sampai kapan Lefundes akan bertahan? Dan yang lebih penting, mampukah ia memutus rantai kutukan ‘loyo’ di akhir musim yang sudah melekat pada Borneo FC? Beban di pundaknya sangat besar, tidak hanya untuk meraih kemenangan, tetapi juga untuk mengubah mentalitas tim dan sejarah klub di Super League.
Jika berkaca dari sejarah, konsistensi di kursi pelatih bisa jadi adalah kunci utama. Tim yang ingin meraih gelar juara sejati, bukan hanya juara fase reguler, membutuhkan stabilitas dan kepercayaan penuh pada arsitek tim. Pergantian pelatih di tengah musim, seberapa pun rasional alasannya, seringkali mengganggu ritme, mentalitas, dan bahkan kepercayaan diri pemain.
Kunci Juara: Stabilitas dan Kepercayaan Penuh
Borneo FC punya materi pemain yang mumpuni, termasuk nama-nama seperti Nadeo Argawinata yang menjadi tulang punggung tim, serta pemain-pemain asing berkualitas. Namun, talenta saja tidak cukup untuk menjadi juara Super League. Dibutuhkan manajemen yang kuat dan konsisten dalam menjaga performa tim dari awal hingga akhir musim.
Mungkin, sudah saatnya manajemen Borneo FC belajar dari kesalahan masa lalu. Memberikan dukungan penuh dan kepercayaan jangka panjang kepada pelatih, serta menjaga suasana internal tim tetap kondusif, bisa menjadi resep mujarab untuk memecahkan kutukan ini. Gelar juara Super League yang sesungguhnya tentu menjadi dambaan setiap pendukung Pesut Etam, bukan hanya gelar juara paruh musim.
Stabilitas bukan hanya soal pelatih, tetapi juga visi klub secara keseluruhan. Apakah ada rencana jangka panjang yang jelas? Bagaimana cara klub mengatasi tekanan saat tim mengalami penurunan performa? Pertanyaan-pertanyaan ini perlu dijawab dengan tindakan nyata, bukan hanya janji.
Musim Super League 2025/2026 masih sangat panjang, dan banyak tantangan menanti Borneo FC. Apakah Fabio Lefundes akan menjadi pelatih yang mampu membawa Pesut Etam meraih kejayaan sejati, ataukah ia hanya akan menjadi bagian dari siklus yang terus berulang? Hanya waktu yang akan menjawab. Namun, satu hal yang pasti, publik akan terus mengawasi perjalanan Borneo FC dengan penuh harap dan sedikit skeptisisme, menanti apakah kali ini, kutukan itu benar-benar bisa dipatahkan.


















