Sutradara legendaris Francis Ford Coppola kini tengah menjadi sorotan publik. Bukan karena karya film terbarunya yang memukau, melainkan karena keputusan pahitnya untuk menjual sejumlah koleksi jam tangan pribadinya. Langkah ini diambil setelah film ambisiusnya, Megalopolis, gagal total di box office, meninggalkan kerugian finansial yang signifikan.
Film yang dibintangi oleh aktor ternama Adam Driver itu diproduksi dengan bujet fantastis mencapai US$120 juta. Namun, sangat disayangkan, Megalopolis hanya mampu meraup US$14,3 juta dari penjualan tiket global, jauh di bawah ekspektasi dan biaya produksinya. Kondisi ini memaksa Coppola untuk mencari cara menutupi kerugian besar tersebut, salah satunya dengan melelang harta pribadinya.
Megalopolis: Ambisi Besar yang Berujung Boncos
Megalopolis adalah proyek impian Francis Ford Coppola yang telah lama ia garap. Film ini menandai kembalinya Coppola ke Festival Film Cannes setelah absen sejak Twixt pada tahun 2011. Dengan reputasi sebagai sutradara di balik mahakarya seperti The Godfather dan Apocalypse Now, ekspektasi terhadap Megalopolis sangat tinggi.
Sayangnya, film ini justru mendapatkan ulasan yang sebagian besar negatif dari para kritikus. Meskipun Coppola telah menginvestasikan sebagian besar kekayaan pribadinya untuk mendanai produksi film ini, visi artistiknya tampaknya tidak mampu menarik minat penonton secara luas. Ini menjadi pukulan telak bagi sutradara berusia 86 tahun tersebut, yang selama ini dikenal berani mengambil risiko demi seni.
Dalam sebuah konferensi pers di Cannes, Coppola sempat membahas besarnya uang yang telah ia tanamkan untuk Megalopolis. Dengan nada santai, ia mengatakan bahwa dirinya "tidak pernah peduli dengan uang" dan bahwa anak-anaknya "tidak membutuhkan kekayaan." Pernyataan ini menunjukkan dedikasi Coppola yang luar biasa terhadap seni, bahkan jika itu berarti mengorbankan sebagian besar hartanya.
Koleksi Jam Tangan Mewah yang Terpaksa Dilelang
Keputusan untuk melelang koleksi jam tangan pribadinya bukan hal yang sepele, terutama bagi seorang kolektor. Lelang ini akan berlangsung dalam acara The New York Watch Auction: XIII at Phillips pada tanggal 6 dan 7 Desember mendatang. Sebanyak tujuh jam tangan spektakuler dari koleksi Coppola akan mencari pemilik baru.
Setiap jam tangan ini bukan sekadar penunjuk waktu, melainkan juga cerminan selera dan perjalanan hidup seorang maestro. Koleksi ini mencakup beberapa karya horologi yang sangat langka dan berharga, menunjukkan apresiasi Coppola terhadap seni pembuatan jam tangan yang presisi dan indah.
F.P. Journe FFC Prototype: Mahakarya Kolaborasi Langka
Salah satu permata yang akan dilelang adalah prototipe F.P. Journe FFC. Jam tangan ini adalah hasil kolaborasi unik yang dirancang khusus untuk Coppola oleh maestro pembuat jam asal Swiss, Francois-Paul Journe. Kolaborasi semacam ini sangat jarang terjadi dan menambah nilai historis serta artistik yang tak ternilai pada jam tersebut.
Menurut laporan dari GQ dan pernyataan dari Phillips, balai lelang yang berbasis di New York City, jam tangan prototipe ini diperkirakan bakal terjual dengan harga lebih dari US$1 juta, atau setara dengan miliaran rupiah. Angka ini mencerminkan kelangkaan, keunikan desain, dan tentu saja, koneksi langsungnya dengan seorang ikon perfilman dunia. Bagi para kolektor, memiliki jam tangan yang dirancang khusus untuk Francis Ford Coppola adalah sebuah kebanggaan tersendiri.
Chronomètre à Résonance: Jam Tangan dengan Teknologi Revolusioner
Namun, prototipe F.P. Journe FFC bukan satu-satunya karya penting dalam koleksi yang dilelang. Ada juga F.P. Journe Chronomètre à Résonance berbahan platinum dengan pelat jam emas putih. Jam tangan ini memiliki kisah menarik di baliknya. Coppola pertama kali bertemu Journe pada tahun 2009, setelah istrinya memberinya hadiah Chronomètre à Résonance pada Natal tahun itu.
Dengan perkiraan harga antara US$120 ribu hingga US$240 ribu, karya spektakuler ini merupakan salah satu model andalan Journe yang paling ikonik. Apa yang membuat jam tangan ini begitu istimewa? Chronomètre à Résonance dilengkapi dengan dua osilator yang berdetak secara sinkronis melalui prinsip resonansi. Teknologi ini, yang terinspirasi dari sistem yang digunakan oleh Abraham-Louis Breguet dan para pembuat jam tangan ternama lainnya, berfungsi untuk menstabilkan mesin dan meningkatkan akurasi waktu secara signifikan.
Awalnya dikembangkan sebagai jam saku pada tahun 1983, Journe kemudian berhasil mengadaptasi sistem resonansi yang kompleks ini menjadi jam tangan sederhana pada tahun 2000. Kehadiran jam tangan ini dalam koleksi Coppola menunjukkan apresiasinya terhadap inovasi dan keunggulan teknis dalam dunia horologi. Ini adalah bukti bahwa Coppola tidak hanya seorang visioner di dunia film, tetapi juga seorang penikmat seni dan teknologi yang mendalam.
Pengorbanan untuk Seni: Sisi Lain Seorang Maestro
Lelang dan penjualan koleksi jam tangan ini diharapkan dapat membantu menahan kerugian besar dari kegagalan box office Megalopolis. Sebagian besar biaya produksi film tersebut memang dibiayai langsung dari kantong sutradara. Ini bukan kali pertama Coppola mengambil risiko finansial besar untuk proyek-proyeknya. Film-film klasiknya seperti Apocalypse Now juga menghadapi tantangan produksi yang luar biasa, bahkan hampir membuatnya bangkrut. Namun, kala itu, risiko tersebut terbayar lunas dengan kesuksesan kritik dan komersial.
Kali ini, nasib berkata lain. Kegagalan Megalopolis di pasaran menunjukkan betapa kejamnya industri film, bahkan bagi seorang legenda sekalipun. Keputusan Coppola untuk mengorbankan koleksi pribadinya demi menutupi kerugian filmnya adalah pengingat pahit akan batas antara ambisi artistik dan realitas finansial. Ini adalah kisah tentang seorang seniman yang begitu mencintai karyanya hingga rela mempertaruhkan segalanya.
Dampak dan Warisan: Pelajaran dari Kegagalan Box Office
Kisah Francis Ford Coppola dan Megalopolis ini menjadi pelajaran berharga bagi banyak pihak. Bagi para pembuat film, ini menunjukkan bahwa bahkan nama besar dan reputasi gemilang tidak selalu menjamin kesuksesan komersial. Visi artistik yang kuat harus diimbangi dengan strategi pasar yang matang, terutama ketika melibatkan investasi pribadi yang begitu besar.
Bagi para penikmat film dan kolektor, lelang ini menawarkan kesempatan langka untuk memiliki sepotong sejarah dari seorang maestro. Setiap jam tangan yang dilelang bukan hanya objek mewah, tetapi juga simbol dari sebuah perjalanan artistik yang penuh gairah, pengorbanan, dan kadang kala, kegagalan yang menyakitkan. Ini adalah warisan yang tak ternilai, bukan hanya dalam bentuk materi, tetapi juga dalam kisah di baliknya.
Pada akhirnya, meskipun Megalopolis mungkin tidak mencapai kesuksesan yang diharapkan, semangat Francis Ford Coppola untuk terus berkreasi dan mengambil risiko tetap menjadi inspirasi. Keputusan untuk menjual koleksi jam tangan kesayangan adalah bukti nyata dari komitmennya yang tak tergoyahkan terhadap seni, sebuah pengorbanan yang akan dikenang sebagai bagian dari legenda sang sutradara.


















