Vatikan, kota suci yang selalu menjadi pusat perhatian dunia, kembali menjadi saksi bisu sebuah momen penuh haru. Di tengah hiruk pikuk Forum Internasional untuk Perdamaian "Daring Peace" di Roma, mantan Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, berdiri di hadapan para tokoh dunia. Suasana hening menyelimuti aula saat ia mulai mengenang persahabatannya yang mendalam dengan Paus Fransiskus, sosok yang ia kira telah berpulang.
Kabar Duka yang Mengguncang Hati
"Ketika saya mendengar kabar duka dari Vatikan, saya merasa tak percaya," ujar Nasaruddin dengan suara bergetar, Selasa (28/10). Kalimat itu bukan sekadar pernyataan, melainkan sebuah luapan emosi yang mengguncang jiwanya. Semua kenangan tentang Paus Fransiskus, dari yang paling kecil hingga yang paling monumental, tiba-tiba muncul di benaknya.
Ia merasakan tarikan keras di hati, sebuah rasa kehilangan yang mendalam seolah-olah sebagian dari dirinya ikut pergi. Momen itu terjadi hanya beberapa jam setelah ia menerima undangan dari Komunitas Sant’ Egidio untuk berbicara di forum bergengsi ini. Ada harapan kecil yang sempat tersimpan, harapan untuk bisa kembali bertemu Paus Fransiskus di Vatikan, namun harapan itu seolah sirna begitu saja.
Persahabatan Lintas Batas yang Menginspirasi
Bagi Nasaruddin, persahabatannya dengan Paus Fransiskus bukanlah sekadar hubungan formal antar pemimpin agama. Ini adalah ikatan batin yang melampaui sekat-sekat keyakinan dan jabatan. "Ada begitu banyak kenangan tak terlupakan bersama Paus Fransiskus," kenangnya, matanya menerawang jauh.
Ia bahkan masih menyimpan foto yang mengabadikan momen kehangatan mereka: ia mencium kening Paus, dan Paus membalasnya dengan mencium tangannya. Sebuah gestur tulus yang sarat makna, menunjukkan rasa hormat dan kasih sayang yang mendalam. Setiap kali melihat foto itu, Nasaruddin merasa seolah Paus Fransiskus masih ada, masih bersama mereka, melanjutkan misi perdamaiannya.
Vatikan: Saksi Bisu Perdamaian Dunia
Forum Internasional untuk Perdamaian "Daring Peace" sendiri adalah sebuah pertemuan monumental yang diselenggarakan oleh Komunitas Sant’ Egidio. Dipimpin langsung oleh Presiden Komunitas, Profesor Marco Impagliazzo, forum ini menjadi wadah bagi para pemimpin spiritual dan intelektual dari seluruh penjuru dunia. Tujuan utamanya? Merajut benang-benang perdamaian di tengah dunia yang kerap dilanda konflik.
Tidak main-main, forum ini dihadiri oleh nama-nama besar seperti Grand Syekh Al Azhar, Prof. Dr. Ahmed Al Tayeb, yang juga Ketua Majelis Hukama Muslimin. Para Kardinal, Uskup, Pastor, dan Suster turut hadir, bersama delegasi tokoh berbagai agama dari lebih dari 50 negara. Di sinilah, di tengah lautan wajah-wajah penuh harapan, Nasaruddin Umar menyampaikan kisahnya, kisah yang menjadi bukti nyata bahwa persahabatan sejati bisa tumbuh di mana saja, bahkan di antara dua pemimpin agama yang berbeda.
Jakarta: Titik Temu Hati yang Tak Terlupakan
Nasaruddin kemudian bercerita tentang kunjungan Paus Fransiskus ke Jakarta, sebuah momen yang tak akan pernah ia lupakan. Ia merasakan ketulusan dan kedalaman kasih Paus Fransiskus saat mereka bertemu dan berjabat tangan. Itu bukan sekadar jabat tangan seremonial yang dingin, melainkan sentuhan hangat yang mengalirkan energi positif, sebuah koneksi spiritual yang kuat.
Baginya, pertemuan dengan Paus Fransiskus bukan semata gestur seremonial, melainkan pengalaman spiritual yang mendalam. Ini adalah perwujudan nyata dari persaudaraan umat manusia, sebuah konsep yang selalu diusung oleh Paus Fransiskus dalam setiap khotbah dan pesannya. Di mata Nasaruddin, Paus Fransiskus adalah sosok yang mampu menjembatani perbedaan, merangkul semua dengan cinta kasih.
"Fratelli Tutti": Pesan Abadi Persaudaraan Universal
Dalam percakapan singkat mereka di Jakarta, Paus Fransiskus merujuk pada Ensiklik Fratelli Tutti, sebuah dokumen penting yang menyerukan persaudaraan universal. "Kita dipanggil untuk menjadi saudara dan saudari yang melampaui agama, ras, dan bangsa," kata Nasaruddin mengulangi pernyataan Paus Fransiskus kepadanya. Pesan itu begitu kuat, begitu relevan, dan begitu menyentuh hati.
Nasaruddin, dengan bijaksana, merespons pandangan Paus Fransiskus dengan menjelaskan prinsip Islam tentang persaudaraan manusia. Ia memaparkan bagaimana Islam juga mengajarkan pentingnya persaudaraan, kasih sayang, dan toleransi antar sesama. Kedua pemimpin agama itu kemudian tersenyum, sebuah senyuman yang merefleksikan pemahaman mendalam. Mereka menyadari bahwa kitab suci mereka, meskipun berbeda, menyampaikan pesan yang sama: bahwa kemanusiaan berada di atas segalanya.
Deklarasi Istiqlal: Simbol Harapan di Tanah Air
Kunjungan Paus Fransiskus ke Jakarta juga diwarnai dengan momen bersejarah lainnya. Bersama para pemimpin lintas agama di Indonesia, Nasaruddin dan Paus Fransiskus menandatangani Deklarasi Istiqlal. Deklarasi ini bukan hanya selembar kertas, melainkan sebuah simbol harapan, komitmen, dan tekad untuk terus menjaga kerukunan dan perdamaian di Indonesia, negara dengan keberagaman agama yang luar biasa.
Penandatanganan deklarasi ini menjadi bukti nyata bahwa dialog antaragama bukan hanya mungkin, tetapi juga sangat penting. Ini menunjukkan bahwa perbedaan keyakinan tidak seharusnya menjadi penghalang, melainkan justru menjadi kekayaan yang memperkuat persatuan. Indonesia, dengan segala keberagamannya, menjadi contoh nyata bagaimana harmoni dapat tercipta di tengah perbedaan.
Doa untuk Indonesia: Pesan Penuh Kasih
Sebagai penutup kunjungannya, Paus Fransiskus menuliskan sebuah pesan khusus untuk rakyat Indonesia. Pesan itu berbunyi, "Menyatu dalam keindahan tanah ini, tempat pertemuan dan dialog antarbudaya dan agama yang beragam. Saya berdoa agar rakyat Indonesia dapat terus bertumbuh dalam iman, persaudaraan, dan kasih sayang. Semoga Tuhan memberkati Indonesia."
Kata-kata itu bukan sekadar formalitas, melainkan doa tulus dari seorang pemimpin spiritual dunia. Doa yang mengandung harapan agar Indonesia terus menjadi mercusuar toleransi, tempat di mana iman, persaudaraan, dan kasih sayang senantiasa bersemi. Pesan ini menjadi warisan berharga, pengingat akan pentingnya menjaga nilai-nilai luhur yang telah lama hidup di bumi pertiwi.
Warisan Sebuah Persahabatan Abadi
Meskipun Nasaruddin Umar mendengar kabar duka yang ia yakini tentang Paus Fransiskus, kenangan dan pelajaran dari persahabatan mereka tetap hidup. Kisah ini menjadi inspirasi bagi banyak orang, menunjukkan bahwa di balik perbedaan keyakinan, ada jembatan kemanusiaan yang bisa dibangun. Persahabatan antara seorang Menteri Agama dari Indonesia dan seorang Paus dari Vatikan adalah bukti nyata bahwa cinta kasih dan pengertian dapat melampaui segala batas.
Pesan perdamaian dan persaudaraan yang mereka gaungkan bersama akan terus bergema, menjadi pengingat bagi kita semua untuk selalu mengedepankan kemanusiaan di atas segalanya. Di tengah tantangan dunia yang semakin kompleks, kisah ini adalah secercah harapan, bahwa dialog, toleransi, dan persahabatan adalah kunci menuju dunia yang lebih damai dan harmonis.


















