Ketegangan di Jalur Gaza kembali memuncak setelah pesawat tempur Israel melancarkan serangan udara baru, membombardir wilayah tersebut di tengah kesepakatan gencatan senjata yang rapuh dengan Hamas. Perintah serangan dahsyat ini datang langsung dari Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, yang menuding Hamas telah melanggar perjanjian damai.
Serangan terbaru ini menargetkan sebuah bangunan tempat tinggal di Sabra dan area dekat Rumah Sakit Al-Shifa, rumah sakit terbesar yang masih beroperasi di Gaza utara. Laporan awal menyebutkan setidaknya dua orang tewas dan empat lainnya luka-luka, namun Hamas mengklaim jumlah korban tewas mencapai sembilan orang. Insiden ini menambah daftar panjang kekerasan yang terus berulang di wilayah tersebut.
Mengapa Gencatan Senjata Kembali Berdarah?
Netanyahu menegaskan bahwa perintah menyerang muncul setelah ia mengklaim Hamas melanggar gencatan senjata yang telah disepakati. Ini bukan kali pertama kedua belah pihak saling tuding mengenai pelanggaran kesepakatan, menandakan betapa rapuhnya situasi di lapangan.
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, juga melontarkan tuduhan serupa. Ia menuduh Hamas menyerang pasukan Israel di Gaza, meskipun tidak merinci lokasi spesifik serangan tersebut. Katz bersumpah bahwa Hamas akan membayar mahal atas insiden ini, serta atas pelanggaran perjanjian pengembalian jenazah para sandera.
"Serangan Hamas hari ini terhadap tentara IDF di Gaza merupakan pelanggaran batas, yang akan ditanggapi IDF dengan kekuatan besar," ucap Katz, dikutip dari AFP. Pernyataan ini menunjukkan tekad Israel untuk membalas, memperburuk situasi yang sudah genting.
Militer Israel sendiri belum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai serangan terbaru ini. Namun, seorang pejabat militer Israel kepada Reuters mengklaim bahwa Hamas memang telah melanggar gencatan senjata dengan menyerang pasukan Israel di wilayah kantong yang berada di bawah kendali Israel. "Ini merupakan pelanggaran gencatan senjata yang mencolok lainnya," kata pejabat tersebut, Rabu (29/10).
Saling Tuduh: Israel vs. Hamas
Kesepakatan gencatan senjata yang dimotori oleh Amerika Serikat ini sebenarnya mulai berlaku sejak 10 Oktober lalu. Namun, sejak awal, baik Israel maupun Hamas sama-sama saling menuduh satu sama lain melanggar ketentuan yang telah disepakati.
Otoritas kesehatan Gaza melaporkan bahwa 68 ribu orang tewas akibat agresi Israel, dengan ribuan lainnya masih hilang di tengah reruntuhan. Angka ini menggambarkan skala kehancuran dan penderitaan yang luar biasa di Jalur Gaza.
Sebelumnya, media Israel juga melaporkan adanya baku tembak antara pasukan Israel dan pejuang Hamas di Kota Rafah, Gaza selatan. Militer Israel tidak menanggapi permintaan komentar atas laporan tersebut, sementara Hamas membantah bertanggung jawab atas peristiwa di Rafah.
Dalam sebuah pernyataan, Hamas menegaskan kembali komitmennya pada kesepakatan gencatan senjata di Gaza. Mereka menuding Netanyahu terus mencari celah untuk menyerang Gaza, menggunakan berbagai alasan untuk membenarkan tindakan militernya.
Drama Pengembalian Jenazah Sandera yang Rumit
Salah satu pemicu ketegangan terbaru adalah isu pengembalian jenazah sandera. Netanyahu menuding Hamas melanggar gencatan senjata lantaran menyerahkan beberapa jasad yang salah dalam proses pengembalian jenazah para sandera ke Israel. Ia menyebut jenazah yang diserahkan pada Senin lalu adalah Ofir Tzarfati, seorang warga Israel yang tewas dalam serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, dan jenazah itu telah diambil sebagian oleh pasukan Israel selama agresi.
Hamas semula menanggapi pernyataan Israel dengan mengatakan akan menyerahkan jenazah seorang sandera yang ditemukan di sebuah terowongan di Gaza, untuk dikembalikan kepada Israel pada Selasa. Namun, sayap bersenjata Hamas, Brigade Al-Qassam, kemudian mengumumkan penundaan penyerahan yang direncanakan, dengan alasan Negeri Zionis telah melanggar gencatan senjata.
Brigade Al-Qassam juga menuduh Netanyahu sedang mencari alasan untuk mengingkari kewajiban Israel dalam kesepakatan damai. Mereka merasa Israel sengaja menciptakan narasi pelanggaran untuk membenarkan serangan.
Apa Sebenarnya Isi Kesepakatan Gencatan Senjata?
Berdasarkan ketentuan gencatan senjata, Hamas harus membebaskan semua sandera yang masih hidup dengan imbalan hampir 2.000 narapidana Palestina dan tahanan perang yang ditahan tanpa melalui proses peradilan. Ini adalah bagian krusial dari kesepakatan yang bertujuan mengurangi ketegangan.
Sementara itu, Israel harus menarik pasukannya dan menghentikan serangannya di Gaza, berdasarkan perjanjian gencatan senjata. Kedua poin ini menjadi inti dari harapan perdamaian sementara yang kini terancam runtuh.
Mencari Jenazah di Tengah Reruntuhan Gaza
Hamas telah setuju untuk menyerahkan jenazah semua sandera tewas yang belum ditemukan, tetapi mereka membutuhkan waktu. Mereka mengaku kesulitan menemukan dan mengambil jenazah-jenazah tersebut di tengah reruntuhan Gaza yang porak-poranda dihancurkan Israel.
Namun, Israel mengatakan Hamas dapat mengakses jenazah sebagian besar sandera. Klaim ini dibantah keras oleh Hamas. Brigade Al-Qassam menyebut pihaknya tidak mengetahui di mana jenazah-jenazah yang tersisa berada, sebab pemboman gila-gilaan oleh Israel selama dua tahun telah membuat lokasi-lokasi di Gaza tidak dapat dikenali lagi.
Pencarian jenazah sandera meningkat selama beberapa hari terakhir, setelah kedatangan alat berat dari Mesir. Buldoser tampak bekerja di Khan Younis, Jalur Gaza selatan, hingga lebih jauh ke utara di Kamp Nuseirat, sementara para pejuang Hamas dikerahkan di sekitar alat-alat berat tersebut.
Saksi mata di Khan Younis mengatakan tim Mesir dan pejuang Hamas menggali dalam-dalam di dekat Hamad Housing City yang didanai Qatar. Gambar Reuters menunjukkan penggaliannya sekitar 12 meter di bawah permukaan, menunjukkan betapa sulitnya proses pencarian ini. Beberapa jenazah diyakini berada di jaringan terowongan Hamas yang membentang di bawah Gaza, menambah kompleksitas misi tersebut.
Masa Depan Gencatan Senjata yang Suram
Dengan kembali terjadinya serangan dan saling tuding, masa depan gencatan senjata ini tampak semakin suram. Harapan akan perdamaian sementara yang sempat muncul kini kembali terkikis oleh gelombang kekerasan dan ketidakpercayaan. Dunia menanti, apakah ada jalan keluar dari lingkaran setan konflik yang tak berkesudahan ini.


















