Enable JavaScript to use the widget powered by Widjet
banner 728x250

Gawat! Menaker Yassierli Bongkar 2 Badai Besar Ancam Dunia Kerja RI, Nasib Pekerja BUMN di Tangan AI & Industri Hijau?

gawat menaker yassierli bongkar 2 badai besar ancam dunia kerja ri nasib pekerja bumn di tangan ai industri hijau portal berita terbaru
banner 120x600
banner 468x60

Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli baru-baru ini melontarkan peringatan keras mengenai masa depan dunia kerja di Indonesia. Menurutnya, ada dua "badai besar" yang siap menerjang dan mengubah lanskap pekerjaan secara fundamental. Badai tersebut adalah disrupsi masif akibat perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan tuntutan tak terelakkan menuju transformasi industri hijau (green industry).

Pernyataan ini disampaikan Yassierli dalam Seminar Nasional Forum Komunikasi Serikat Pekerja (SP) Sekar BUMN Tahun 2025 di Jakarta. Ia secara khusus menyoroti peran krusial serikat pekerja, terutama di lingkungan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), untuk bersiap menghadapi gelombang perubahan ini. Kesiapan mereka akan menjadi kunci dalam mengawal isu-isu strategis tersebut.

banner 325x300

AI: Ancaman atau Peluang?

Disrupsi AI bukan lagi sekadar wacana futuristik, melainkan realitas yang sudah mulai terasa. Teknologi ini berpotensi mengotomatisasi banyak pekerjaan rutin, mengubah cara kita berinteraksi dengan teknologi, dan bahkan menciptakan jenis pekerjaan baru yang belum pernah ada sebelumnya. Ini adalah pedang bermata dua yang bisa menjadi ancaman serius jika tidak diantisipasi, namun juga peluang emas bagi mereka yang siap beradaptasi.

Perkembangan AI yang begitu pesat menuntut pekerja untuk terus meningkatkan keterampilan (reskilling) dan mempelajari hal-hal baru (upskilling). Pekerjaan yang mengandalkan repetisi dan data akan semakin rentan digantikan oleh algoritma cerdas. Sebaliknya, keterampilan yang melibatkan kreativitas, pemikiran kritis, empati, dan kemampuan memecahkan masalah kompleks akan semakin dibutuhkan.

Industri Hijau: Transformasi Menuju Masa Depan Berkelanjutan

Selain AI, transisi menuju industri hijau juga menjadi tantangan besar yang tak bisa dihindari. Dunia sedang bergerak menuju ekonomi yang lebih berkelanjutan, rendah karbon, dan ramah lingkungan. Ini berarti perubahan besar dalam proses produksi, sumber energi, dan bahkan model bisnis perusahaan.

Transformasi ini akan menciptakan "green jobs" atau pekerjaan hijau yang berfokus pada keberlanjutan, seperti energi terbarukan, daur ulang, efisiensi energi, dan pertanian berkelanjutan. Namun, di sisi lain, sektor-sektor yang bergantung pada energi fosil atau praktik tidak ramah lingkungan mungkin akan mengalami kontraksi. Pekerja di sektor-sektor ini perlu dibekali dengan keterampilan baru agar tidak tertinggal.

Peran Vital Serikat Pekerja BUMN

Menaker Yassierli menegaskan bahwa serikat pekerja memiliki peran yang sangat penting dalam mengawal kedua isu strategis ini. Mereka adalah garda terdepan yang bisa memastikan transisi ini berjalan secara adil, inklusif, dan tidak ada satu pun pekerja yang terpinggirkan. Semangatnya adalah bagaimana kita bisa menyambut era AI dan transisi energi dengan cara yang humanis.

Serikat pekerja di BUMN, khususnya, memiliki tanggung jawab besar mengingat skala dan dampak operasional BUMN terhadap perekonomian nasional. Mereka harus menjadi jembatan antara manajemen dan pekerja, memastikan bahwa kebijakan perusahaan selaras dengan kebutuhan pengembangan SDM di tengah perubahan global. Ini bukan hanya tentang negosiasi upah, tetapi juga tentang masa depan karier anggota mereka.

Gotong Royong: DNA Bangsa yang Mulai Pudar?

Di tengah tantangan global yang serba cepat, Yassierli mengingatkan bahwa bangsa Indonesia memiliki modal sosial yang luar biasa: tiga DNA sosial utama. Ketiganya adalah gotong royong, kekeluargaan, dan musyawarah mufakat. Nilai-nilai ini seharusnya menjadi kekuatan khas bangsa untuk memperkuat daya saing nasional dan menghadapi berbagai persoalan.

Sayangnya, Menaker Yassierli menyayangkan bahwa nilai-nilai luhur ini kini mulai memudar di dunia kerja. Padahal, semangat kebersamaan ini pernah menjadi kekuatan yang membawa bangsa Indonesia tumbuh besar dan mampu mengatasi berbagai rintangan. Gotong royong, misalnya, adalah fondasi untuk kerja tim lintas fungsi dan membangun solidaritas yang kuat.

Ancaman Tenaga Kerja Asing di Negeri Sendiri

Jika semangat gotong royong dan kesiapan menghadapi perubahan ini tidak dihidupkan kembali, Yassierli khawatir kondisi ini akan membuka peluang besar bagi tenaga kerja asing untuk mengambil alih peran tenaga kerja dalam negeri. Ini adalah skenario yang tidak boleh terjadi. Kita tidak boleh kehilangan kesempatan di negeri sendiri, apalagi di tengah melimpahnya potensi sumber daya manusia Indonesia.

Oleh karena itu, Menaker mengajak serikat pekerja untuk kembali menghidupkan semangat kebersamaan tersebut. Dengan gotong royong, pekerja Indonesia bisa saling mendukung untuk beradaptasi, meningkatkan kompetensi, dan bersaing secara sehat di pasar kerja global. Ini adalah kunci agar kita tidak hanya menjadi penonton, tetapi pelaku utama di era baru ini.

Transformasi Hubungan Industrial: Visi Bersama untuk Kemajuan

Selain itu, Menaker juga menekankan pentingnya transformasi hubungan industrial. Transformasi ini harus berorientasi pada visi bersama antara manajemen dan serikat pekerja. Hubungan industrial tidak boleh lagi bersifat konfrontatif, melainkan kolaboratif, berbasis asas kekeluargaan, dan berorientasi pada kemajuan bersama.

Yassierli menjelaskan bahwa perusahaan perlu didorong agar tidak hanya "inward looking" (berorientasi ke dalam), tetapi juga "outward looking" (berorientasi ke luar). Artinya, kemajuan perusahaan harus sejalan dengan pertumbuhan masyarakat sekitar, pelaku usaha di berbagai tingkatan, UMKM, dan para pemasok. Ini adalah ekosistem hubungan industrial yang ideal, di mana semua pihak merasakan manfaat dari kemajuan.

Dengan visi bersama ini, perusahaan tidak hanya mengejar profit semata, tetapi juga menciptakan dampak positif yang lebih luas bagi lingkungan dan masyarakat. Serikat pekerja bisa menjadi mitra strategis dalam mewujudkan cita-cita ini, memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi berjalan seiring dengan kesejahteraan pekerja dan keberlanjutan lingkungan. Ini adalah panggilan untuk kolaborasi, bukan hanya negosiasi.

Masa Depan di Tangan Kita

Dua badai besar, AI dan industri hijau, memang menantang. Namun, dengan modal sosial yang kuat seperti gotong royong, kekeluargaan, dan musyawarah mufakat, serta transformasi hubungan industrial yang visioner, Indonesia memiliki potensi besar untuk tidak hanya bertahan, tetapi juga unggul. Ini adalah kesempatan bagi kita semua, terutama pekerja BUMN dan serikat pekerja, untuk membuktikan bahwa kita siap menyambut masa depan dengan optimisme dan kerja keras.

banner 325x300