Kabar penting datang dari Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Gugatan praperadilan yang diajukan Delpedro Marhaen dan kawan-kawan, terdakwa kasus demonstrasi yang berujung ricuh pada Agustus 2025, resmi ditolak oleh hakim. Keputusan ini menjadi titik balik penting dalam perjalanan hukum mereka, menegaskan keabsahan penetapan tersangka yang dilakukan oleh pihak kepolisian.
Praperadilan Delpedro Ditolak: Apa Artinya Bagi Kasus Ini?
Hakim Tunggal Sulistiyanto Rochman Budiharto dengan tegas membacakan putusan penolakan permohonan praperadilan tersebut secara keseluruhan. Ini berarti, upaya Delpedro untuk menggugat keabsahan status tersangkanya tidak berhasil di meja hijau.
Dengan ditolaknya praperadilan ini, penetapan Delpedro sebagai tersangka oleh Polda Metro Jaya dinyatakan sah dan sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku. Proses hukum terhadap Delpedro Marhaen dan rekan-rekannya kini akan terus berlanjut ke tahap persidangan pokok perkara, di mana substansi tuduhan akan dibahas lebih mendalam.
Mengapa Hakim Menolak Gugatan Praperadilan Delpedro? Ini Alasannya!
Dalam pertimbangannya, hakim menilai bahwa penetapan tersangka Delpedro yang dilakukan oleh pihak kepolisian telah memenuhi semua prosedur hukum. Polisi dinilai telah mengantongi dua alat bukti yang cukup, sebuah syarat mutlak dalam penetapan tersangka sesuai KUHAP.
Alat bukti tersebut mencakup hasil pemeriksaan terhadap para saksi kunci yang relevan dengan kasus ini. Keterangan saksi-saksi ini menjadi fondasi penting dalam membangun konstruksi hukum yang kuat.
Selain itu, polisi juga menemukan barang bukti digital berupa tangkapan layar dari media sosial yang dinilai sangat relevan dengan perkara yang disangkakan. Bukti-bukti ini dikumpulkan secara cermat oleh penyidik sejak tanggal 25 hingga 29 Agustus 2025, menunjukkan upaya serius dalam pengumpulan fakta.
Hakim juga menyoroti proses gelar perkara yang dilakukan oleh Polda Metro Jaya pada 29 Agustus 2025. Gelar perkara ini menghasilkan kesimpulan untuk meningkatkan status kasus dari penyelidikan ke penyidikan, sebuah langkah penting sebelum penetapan tersangka.
Tak hanya itu, pihak kepolisian juga telah memenuhi kewajiban hukum dengan menyampaikan pemberitahuan penetapan tersangka dan penangkapan Delpedro kepada pihak keluarganya. Semua tahapan ini, menurut hakim, telah dilakukan sesuai dengan koridor hukum yang berlaku, sehingga permohonan praperadilan Delpedro harus ditolak.
Kronologi Kasus: Dari Demo Ricuh Hingga Penetapan Tersangka
Kasus yang menjerat Delpedro Marhaen ini bermula dari serangkaian demonstrasi yang berujung pada kericuhan di Jakarta pada Agustus 2025. Aksi massa tersebut menimbulkan kekacauan dan mengganggu ketertiban umum, memicu perhatian serius dari aparat keamanan.
Delpedro diduga menjadi salah satu aktor di balik dugaan penghasutan yang memicu kekacauan tersebut. Perannya dalam menggerakkan massa dan menyebarkan informasi yang berpotensi memprovokasi menjadi fokus utama penyidikan.
Polda Metro Jaya segera bergerak cepat dengan melakukan penyelidikan intensif. Tim penyidik mengumpulkan berbagai bukti, mulai dari rekaman video, unggahan media sosial, hingga keterangan dari para saksi yang berada di lokasi kejadian.
Setelah mengumpulkan berbagai bukti dan keterangan dari para saksi, status Delpedro Marhaen ditingkatkan dari saksi menjadi tersangka. Proses ini, seperti yang diungkapkan hakim, didasari oleh alat bukti yang kuat dan prosedur hukum yang telah dipatuhi.
Siapa Delpedro Marhaen dan Apa Tuduhannya?
Delpedro Marhaen adalah nama yang menjadi sorotan dalam kasus ini. Ia merupakan salah satu terdakwa yang dituduh melakukan penghasutan terkait aksi demo yang terjadi antara 25 hingga 30 Agustus 2025. Tuduhan ini mengacu pada dugaan bahwa ia sengaja memprovokasi atau mendorong orang lain untuk melakukan tindakan yang melanggar hukum selama demonstrasi.
Gugatan praperadilan yang ia ajukan bertujuan untuk menguji keabsahan proses penetapan dirinya sebagai tersangka. Ini adalah hak konstitusional setiap warga negara untuk memastikan bahwa proses hukum berjalan sesuai aturan.
Gugatan praperadilan Delpedro terdaftar dengan Nomor Perkara 132/Pid.Pra/2025/PN JKT.SEL di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Pihak yang menjadi tergugat atau termohon dalam perkara ini adalah Direktur Reserse Siber dan Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, yang bertanggung jawab atas proses penyidikan.
Dampak Demo Ricuh Agustus 2025: Ratusan Orang Diamankan Polisi
Demonstrasi yang berujung ricuh pada Agustus 2025 memang meninggalkan jejak yang signifikan dan menimbulkan keprihatinan publik. Data kepolisian menunjukkan, pada 25 Agustus 2025, sebanyak 337 orang diamankan, termasuk 202 anak di bawah umur yang terlibat dalam aksi tersebut. Keterlibatan anak di bawah umur ini menjadi sorotan tersendiri.
Gelombang pengamanan tidak berhenti di situ. Pada 28 Agustus 2025, polisi kembali mengamankan 765 orang yang diduga terlibat dalam kericuhan lanjutan. Ini menunjukkan eskalasi situasi dan respons aparat yang cepat.
Selanjutnya, pada periode 30-31 Agustus 2025, 205 orang lainnya juga diamankan oleh pihak kepolisian sebagai bagian dari penanganan kericuhan. Angka-angka ini menunjukkan skala besar dari dampak demonstrasi tersebut dan upaya aparat dalam menjaga ketertiban umum.
Kasus Delpedro menjadi salah satu bagian penting dari rangkaian penanganan hukum pasca-kericuhan ini. Penegakan hukum diharapkan dapat memberikan efek jera dan mencegah terulangnya insiden serupa di masa mendatang.
Lalu, Apa Langkah Selanjutnya untuk Delpedro Marhaen?
Dengan ditolaknya permohonan praperadilan, Delpedro Marhaen dan rekan-rekannya kini harus bersiap menghadapi babak selanjutnya, yaitu persidangan pokok perkara. Di sinilah mereka akan membuktikan diri di hadapan majelis hakim terkait tuduhan penghasutan yang disangkakan.
Proses persidangan ini akan menjadi penentu nasib hukum Delpedro. Jaksa penuntut umum akan memaparkan bukti-bukti dan saksi-saksi, sementara pihak Delpedro akan berupaya membantah tuduhan tersebut melalui kuasa hukumnya.
Kasus ini akan terus menjadi perhatian publik, mengingat jumlah orang yang diamankan dalam demonstrasi tersebut cukup banyak dan isu yang diangkat sangat relevan dengan kebebasan berpendapat dan ketertiban umum. Perkembangan selanjutnya dari kasus Delpedro Marhaen ini tentu akan dinanti-nantikan oleh masyarakat luas.


















