Genap setahun pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka, sorotan tajam tertuju pada kinerja para menteri Kabinet Merah Putih. Sebuah survei komprehensif dari Center of Economic and Law Studies (CELIOS) baru-baru ini membeberkan hasil evaluasi yang mengejutkan, mengungkap siapa saja menteri yang paling bersinar dan siapa yang paling banyak menuai kritik.
Survei yang dilakukan antara 30 September hingga 13 Oktober 2025 ini melibatkan panel ahli dan publik. Responden diminta untuk memilih menteri dengan kinerja terbaik dan terburuk selama satu tahun pertama masa jabatan, memberikan gambaran utuh tentang persepsi publik dan pakar. Hasilnya, beberapa nama mungkin akan membuatmu terkejut.
Kabinet Merah Putih Genap Setahun: Sorotan Tajam pada Kinerja Menteri
Setahun pertama adalah masa krusial bagi setiap pemerintahan untuk membuktikan janji dan visi mereka. Kabinet Merah Putih di bawah kepemimpinan Prabowo-Gibran pun tak luput dari pengawasan ketat, baik dari masyarakat maupun kalangan ahli. Ekspektasi publik yang tinggi menjadi tolok ukur utama dalam menilai keberhasilan para pembantu presiden.
CELIOS hadir dengan survei mendalam untuk mengukur capaian tersebut. Mereka ingin melihat bagaimana kinerja para menteri diterjemahkan dalam pandangan publik dan penilaian para jurnalis yang sehari-hari meliput kebijakan pemerintah. Ini bukan sekadar angka, melainkan cerminan dari dampak kebijakan yang telah dirasakan.
Daftar Menteri dengan Kinerja Paling Disorot (Skor Terburuk)
Dalam setiap evaluasi, pasti ada yang menduduki posisi paling bawah. Menurut survei CELIOS, beberapa menteri mendapatkan skor negatif yang signifikan, menandakan adanya ketidakpuasan atau kritik yang meluas terhadap kinerja mereka. Daftar ini menjadi alarm penting bagi Kabinet Merah Putih.
Bahlil Lahadalia: Peringkat Terbawah dengan Kritik Pedas
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, menduduki peringkat paling bawah dengan skor mencolok -151. Angka ini menjadi cerminan nyata dari derasnya kritik publik dan panel ahli terhadap berbagai kebijakan di sektor energi. Isu-isu seperti stabilitas harga, ketersediaan pasokan, hingga arah transisi energi nasional diduga menjadi pemicu utama rendahnya penilaian ini, menyoroti tantangan besar yang dihadapinya.
Dadan Hidayana: Kontroversi Gizi Nasional dan Program MBG
Di posisi berikutnya, ada Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hidayana, dengan skor -81. Penilaian negatif ini disebut-sebut terkait dengan lonjakan kasus keracunan makanan dan kacaunya pelaksanaan program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi salah satu program unggulan pemerintah. Kegagalan dalam mengelola program vital ini tentu saja menimbulkan kekecewaan besar di mata masyarakat.
Nama-nama Lain yang Masuk Daftar Merah
Selain dua nama di atas, beberapa menteri lain juga mendapatkan skor negatif yang perlu menjadi perhatian serius. Natalius Pigai (Menteri HAM) meraih skor -79, disusul Raja Juli Antoni (Menteri Kehutanan) dengan -56, dan Fadli Zon (Menteri Kebudayaan) dengan -36. Angka-angka ini menunjukkan bahwa ada area-area tertentu dalam pemerintahan yang masih membutuhkan perbaikan signifikan.
Widiyanti Putri (Menteri Pariwisata) juga masuk daftar dengan skor -34, Zulkifli Hasan (Menko Bidang Pangan) dengan -22, dan Budiman Sudjatmiko (Kepala BP Taskin) dengan -14. Terakhir, Yandri Susanto (Menteri Desa dan PDT) mencatatkan skor -10. Penilaian ini bisa menjadi bahan evaluasi mendalam untuk perbaikan kinerja di masa mendatang.
Menteri-menteri dengan Kinerja Paling Bersinar (Skor Terbaik)
Di sisi lain, survei CELIOS juga menyoroti para menteri yang berhasil mencuri perhatian positif dan mendapatkan apresiasi tinggi. Mereka adalah wajah-wajah yang dianggap berhasil menjalankan tugasnya dengan baik, bahkan melampaui ekspektasi. Kinerja mereka menjadi angin segar di tengah berbagai tantangan.
Agus Harimurti Yudhoyono: Puncak Apresiasi di Bidang Infrastruktur
Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), yang menjabat sebagai Menko Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, menempati posisi teratas dengan skor impresif 50 poin. Kinerjanya dianggap paling baik, menunjukkan bahwa proyek-proyek infrastruktur dan pembangunan kewilayahan yang digagasnya berhasil memberikan dampak positif dan mendapatkan pengakuan luas. Ini adalah bukti nyata bahwa pembangunan fisik masih menjadi prioritas dan harapan masyarakat.
Nasaruddin Umar dan Abdul Mu’ti: Kinerja Gemilang di Sektor Pendidikan dan Agama
Menteri Agama, Nasaruddin Umar, menyusul di posisi kedua dengan 48 poin, menunjukkan kepemimpinannya yang diterima dengan baik di tengah masyarakat yang majemuk. Diikuti oleh Abdul Mu’ti (Mendikdasmen) dengan 44 poin, yang kinerjanya di sektor pendidikan dasar dan menengah juga mendapatkan apresiasi tinggi. Kedua menteri ini berhasil menunjukkan komitmen kuat dalam memajukan kualitas sumber daya manusia dan menjaga kerukunan.
Tokoh-tokoh Lain yang Raih Pujian
Beberapa nama lain yang juga masuk daftar menteri terbaik antara lain Mensesneg Prasetyo Hadi dengan 35 poin, dan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin di posisi keempat dengan 31 poin. Keduanya menunjukkan stabilitas dan efisiensi dalam menjalankan tugas masing-masing, terutama di tengah isu-isu kesehatan yang masih menjadi perhatian.
Yassierli (Menteri Ketenagakerjaan) dengan skor 24, Airlangga Hartarto (Menteri Koordinator Bidang Perekonomian) dengan 17 poin, dan Yusril Ihza Mahendra (Menko Bidang Hukum, HAM, dan Imigrasi) dengan 11 poin juga mendapatkan penilaian positif. Terakhir, Saifullah Yusuf (Menteri Sosial) dengan 10 poin melengkapi daftar menteri yang dianggap berkinerja baik. Mereka adalah pilar-pilar penting yang menjaga stabilitas dan kemajuan negara.
Perbandingan dengan Survei Poltracking: Siapa Lagi yang Menonjol?
Tak hanya CELIOS, lembaga survei Poltracking Indonesia juga merilis hasil evaluasi kinerja menteri dalam satu tahun pemerintahan Prabowo-Gibran. Survei Poltracking yang dilakukan pada 3-10 Oktober 2025 ini menemukan 8 nama menteri yang berkinerja positif, memberikan perspektif tambahan yang menarik.
Direktur Eksekutif Poltracking Indonesia, Hanta Yuda Rasyid, menyebutkan beberapa nama yang diapresiasi positif. Di antaranya adalah Menteri Agama (yang kemungkinan besar adalah Nasaruddin Umar), Erick Thohir, Purbaya, serta AHY yang konsisten masuk daftar terbaik di kedua survei. Nama-nama seperti Agus Subiyanto (Panglima TNI), Menkes Budi Gunadi Sadikin, Seskab Teddy Indra Wijaya, dan Menko Pangan Zulkifli Hasan juga turut disebut.
Menariknya, beberapa nama muncul di kedua survei sebagai yang terbaik, seperti AHY dan Budi Gunadi Sadikin, yang semakin menguatkan persepsi positif terhadap kinerja mereka. Namun, ada juga perbedaan, seperti masuknya Erick Thohir dan Panglima TNI Agus Subiyanto di survei Poltracking, menunjukkan dinamika penilaian dari berbagai sudut pandang.
Metodologi Survei: Bagaimana Penilaian Ini Dilakukan?
Untuk memastikan validitas dan akurasi data, CELIOS menggunakan dua pendekatan utama. Pertama, survei expert judgement atau panel yang melibatkan 120 jurnalis dari 60 lembaga media nasional. Para jurnalis ini dianggap memiliki pemahaman mendalam tentang kebijakan dan kinerja pemerintah.
Kedua, survei publik yang melibatkan 1.338 responden dari berbagai wilayah Indonesia. Pendekatan ini bertujuan untuk menangkap persepsi masyarakat luas terhadap kinerja pemerintahan Prabowo-Gibran. Kombinasi kedua metode ini diharapkan mampu memberikan gambaran yang komprehensif dan berimbang.
Sementara itu, Poltracking Indonesia menggunakan metode multistage random sampling dengan jumlah sampel 1.220 responden. Survei ini memiliki margin of error (MoE) 2,9 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen, menjamin hasil yang representatif secara statistik.
Hasil survei ini menjadi cermin penting bagi Kabinet Merah Putih untuk mengevaluasi diri. Apresiasi dan kritik yang muncul adalah masukan berharga demi perbaikan kinerja di tahun-tahun mendatang. Pada akhirnya, yang terpenting adalah bagaimana pemerintah mampu menjawab ekspektasi publik dan mewujudkan janji-janji yang telah diberikan.


















