Fenomena self-diagnosis atau mendiagnosis diri sendiri kini marak terjadi, terutama di kalangan remaja Gen Z yang aktif di media sosial. Melihat konten terkait gangguan mental seperti ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) seringkali memicu kecemasan dan kesalahpahaman. Menyadari urgensi ini, Telkom University bergerak cepat memberikan edukasi penting di MAN 1 Pangandaran.
Bahaya Tersembunyi di Balik Layar Media Sosial
Media sosial memang menjadi sumber informasi utama bagi remaja saat ini, termasuk dalam mencari tahu tentang kesehatan mental. Namun, kemudahan akses ini seringkali menjadi pedang bermata dua. Banyak informasi yang beredar tidak akurat atau tidak diverifikasi, sehingga rentan menyesatkan.
Remaja yang terpapar informasi ini tanpa panduan kredibel, seringkali merasa memiliki gangguan tertentu setelah membaca beberapa gejala. Akibatnya, mereka bisa mengalami kecemasan berlebihan atau bahkan salah memahami kondisi diri. Padahal, diagnosis kesehatan mental memerlukan bimbingan profesional dan evaluasi mendalam.
Miskonsepsi ini bisa sangat berbahaya. Selain menimbulkan stres yang tidak perlu, self-diagnosis juga dapat menunda penanganan yang tepat jika memang ada masalah kesehatan mental yang serius. Inilah mengapa edukasi digital menjadi sangat krusial untuk membekali remaja dengan pemahaman yang benar.
Telkom University Turun Tangan: Edukasi Komprehensif di MAN 1 Pangandaran
Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi dan Digital Psikologi, Fakultas Komunikasi dan Ilmu Sosial Telkom University, tidak tinggal diam melihat fenomena ini. Mereka melaksanakan kegiatan Pelatihan Edukasi Informasi Kesehatan Mental ADHD di Media Sosial. Tujuannya jelas: mencegah self-diagnosis pada remaja di MAN 1 Pangandaran, Jawa Barat.
Kegiatan yang berlangsung pada Selasa (14/10/2025) ini merupakan wujud nyata implementasi Tridharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam bidang pengabdian kepada masyarakat. Ini adalah komitmen Telkom University untuk mengaplikasikan keilmuan mereka demi memberikan manfaat langsung bagi komunitas. Tak hanya dosen, mahasiswa juga turut dilibatkan.
Keterlibatan mahasiswa ini sangat penting. Mereka mendapatkan pengalaman berharga untuk terjun langsung ke lapangan, merasakan dinamika sosial, dan belajar bagaimana berkontribusi nyata di tengah masyarakat. Pengalaman ini akan menjadi bekal tak ternilai setelah mereka lulus nanti.
Membedah Miskonsepsi: Apa Itu ADHD Sebenarnya?
Pelatihan ini menargetkan sekitar 40 siswa MAN 1 Pangandaran. Materi disampaikan oleh para pakar di bidangnya, yaitu Dr. Rita Destiwati, S.S., M.Si dan Raissa Azaria Arief, S.Psi.,M.Si. Mereka membongkar tuntas mitos dan fakta seputar ADHD yang sering salah dipahami.
ADHD, atau Attention Deficit Hyperactivity Disorder, adalah gangguan perkembangan saraf yang memengaruhi kemampuan seseorang untuk fokus, mengendalikan impuls, dan mengatur tingkat aktivitas. Gejalanya bisa bervariasi, mulai dari kesulitan memperhatikan, mudah terdistraksi, hingga hiperaktif dan impulsif. Penting untuk diingat bahwa setiap orang bisa mengalami kesulitan fokus sesekali, namun ADHD adalah kondisi klinis yang persisten dan memengaruhi fungsi sehari-hari.
Para narasumber menjelaskan bahwa gejala ADHD harus dievaluasi secara menyeluruh oleh profesional kesehatan mental. Ini bukan sekadar tentang "malas" atau "tidak bisa diam," melainkan kondisi neurologis yang memerlukan pemahaman dan penanganan khusus. Edukasi ini membantu siswa membedakan antara perilaku normal remaja dan gejala yang mungkin memerlukan perhatian lebih.
Metode Edukasi Interaktif: Belajar Sambil Berdiskusi
Metode yang digunakan dalam pengabdian ini dirancang agar interaktif dan efektif. Diawali dengan pre-test, tujuannya adalah untuk mengukur sejauh mana pemahaman awal siswa tentang ADHD dan kecenderungan self-diagnosis. Ini menjadi landasan untuk menyesuaikan materi yang akan disampaikan.
Setelah pre-test, kedua narasumber memberikan ceramah yang mendalam namun mudah dicerna. Mereka menjelaskan definisi ADHD, gejala-gejalanya, serta bahaya self-diagnosis yang sering terjadi di media sosial. Siswa diajak untuk berpikir kritis dan tidak mudah percaya pada informasi yang belum terverifikasi.
Sesi dilanjutkan dengan Forum Group Discussion (FGD) yang dinamis. Dalam kelompok-kelompok kecil, siswa diajak untuk berdiskusi dan mengenali gejala mental yang mungkin terindikasi ADHD. Ini bukan untuk mendiagnosis, melainkan untuk meningkatkan kesadaran dan kemampuan observasi diri serta teman sebaya.
Pada tahap terakhir, dilakukan post-test. Ini adalah evaluasi untuk melihat apakah pemahaman siswa telah meningkat secara signifikan setelah mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Hasilnya diharapkan menunjukkan bahwa siswa kini lebih memahami ADHD secara benar dan tahu bahwa gangguan mental tidak bisa diputuskan hanya dengan membaca atau melihat konten di media sosial.
Membangun Fondasi Kesehatan Mental yang Kuat untuk Gen Z
Kegiatan pengabdian masyarakat di MAN 1 Pangandaran ini bukan sekadar acara sekali jalan. Telkom University berharap kegiatan semacam ini dapat dilaksanakan secara berkelanjutan. Ini sejalan dengan tujuan Tridharma Perguruan Tinggi yang menekankan pentingnya kontribusi nyata bagi masyarakat.
Membangun kesadaran akan kesehatan mental sejak dini adalah investasi jangka panjang bagi generasi muda. Dengan pemahaman yang benar, remaja Gen Z dapat lebih bijak dalam menyaring informasi di media sosial dan tidak mudah terjebak dalam lingkaran self-diagnosis yang menyesatkan. Mereka akan lebih berani mencari bantuan profesional jika memang diperlukan, tanpa rasa takut atau stigma.
Edukasi seperti ini memberdayakan remaja untuk menjadi agen perubahan di lingkungan mereka sendiri. Mereka bisa berbagi informasi yang akurat kepada teman-teman, menciptakan lingkungan yang lebih suportif, dan bersama-sama membangun generasi yang lebih sehat mental. Telkom University dan MAN 1 Pangandaran telah memulai langkah penting ini.


















