Inggris kini tengah diguncang skandal serius yang memicu kemarahan publik dan mempertanyakan integritas sistem peradilan mereka. Seorang terpidana pelaku kejahatan seksual, Hadush Gerberslasie Kebatu, secara mengejutkan dibebaskan dari penjara akibat kesalahan administrasi yang fatal. Seharusnya ia dikirim ke pusat penahanan imigrasi untuk dideportasi, kini ia justru menghilang dan menjadi buronan nomor satu di negara tersebut.
Kronologi Blunder Fatal yang Menggemparkan
Insiden memalukan ini terjadi ketika Hadush Gerberslasie Kebatu, pria berusia 38 tahun asal Ethiopia, seharusnya dipindahkan ke pusat penahanan imigrasi. Ia tengah menjalani bulan pertama dari hukuman satu tahun penjara atas kasus pelecehan seksual yang dilakukannya. Namun, entah bagaimana, ia justru secara keliru dikategorikan sebagai tahanan yang akan dibebaskan sepenuhnya.
Kesalahan fatal ini dilaporkan oleh The Telegraph, yang menyebutkan bahwa Kebatu dilepaskan begitu saja tanpa ada pengawasan lebih lanjut. Alih-alih menuju fasilitas imigrasi, ia malah bebas berkeliaran, memicu kepanikan dan perburuan besar-besaran oleh pihak kepolisian. Blunder ini sontak menimbulkan pertanyaan besar tentang prosedur keamanan dan administrasi di lembaga pemasyarakatan Inggris.
Siapa Hadush Gerberslasie Kebatu?
Hadush Gerberslasie Kebatu adalah seorang pencari suaka dari Ethiopia yang telah terbukti melakukan serangkaian kejahatan seksual. Ia ditangkap pada bulan Juli setelah berulang kali mencoba mencium seorang gadis berusia 14 tahun dan menyentuh kakinya, disertai komentar-komentar vulgar yang meresahkan. Kejahatannya tidak berhenti di situ.
Ia juga melakukan kekerasan seksual terhadap seorang perempuan dewasa yang mencoba campur tangan untuk melindungi remaja tersebut. Saat itu, Kebatu meletakkan tangannya di paha perempuan dewasa itu, menunjukkan keberaniannya dalam melakukan tindakan bejat. Selama periode tersebut, Kebatu diketahui menginap di Hotel Bell, Epping, sebuah lokasi yang menampung puluhan pencari suaka lainnya.
Kisah Tragis Korban dan Kemarahan Publik
Kasus Kebatu bukan kali pertama menjadi sorotan. Awal tahun ini, kejahatannya di Epping, timur laut London, telah memicu gelombang protes anti-imigran yang meluas. Demonstrasi terjadi di berbagai kota di Inggris, di mana para pencari suaka diyakini ditampung, menunjukkan betapa sensitifnya isu ini di tengah masyarakat.
Ayah dari remaja korban pelecehan Kebatu mengungkapkan kekecewaannya yang mendalam kepada Sky News. Dengan nada getir, ia menyatakan bahwa "sistem peradilan telah mengecewakan kami," sebuah sentimen yang kini digaungkan oleh banyak warga Inggris. Perasaan tidak aman dan ketidakpercayaan terhadap sistem hukum semakin memuncak pasca insiden pembebasan yang salah ini.
Perburuan Sengit di Seluruh Inggris
Setelah menyadari kesalahan fatal tersebut, Kepolisian Essex segera memimpin pencarian intensif untuk melacak Hadush Gerberslasie Kebatu. Mereka dibantu penuh oleh Kepolisian Metropolitan London, mengerahkan segala sumber daya untuk menemukan buronan berbahaya ini. Petugas bekerja sepanjang malam, tanpa henti, untuk melacak setiap pergerakannya.
Pemeriksaan rekaman CCTV selama berjam-jam dilakukan di berbagai lokasi yang diduga menjadi rute pelarian Kebatu. Menteri Kehakiman David Lammy mengonfirmasi pada Jumat malam bahwa Kebatu terakhir terlihat di London. Ia menaiki kereta menuju ibu kota di Chelmsford, Inggris timur, memberikan petunjuk penting bagi tim pemburu.
Kepolisian Essex menyatakan bahwa penyelidikan terus berlanjut dengan cepat pada pagi hari setelah kejadian. Mereka berkomitmen penuh untuk segera menangkap kembali Kebatu dan mengembalikannya ke tempat yang seharusnya. Tekanan publik yang begitu besar membuat operasi perburuan ini menjadi prioritas utama.
Reaksi Politik dan Tuntutan Pertanggungjawaban
Insiden ini sontak menarik perhatian para pemimpin politik Inggris. Perdana Menteri Keir Starmer menyatakan keterkejutannya yang mendalam atas kesalahan tersebut. "Pria ini harus ditangkap dan dideportasi atas kejahatannya," tegas Starmer, menyuarakan kemarahan yang dirasakan banyak pihak.
Menteri Kehakiman David Lammy juga berada di bawah sorotan tajam. Publik menuntut penjelasan dan pertanggungjawaban atas bagaimana kesalahan fatal semacam ini bisa terjadi di bawah pengawasannya. Pertanyaan tentang kelalaian, prosedur yang longgar, dan potensi bahaya yang ditimbulkan menjadi topik hangat di parlemen dan media.
Dampak Luas pada Kebijakan Imigrasi dan Keamanan
Pembebasan Hadush Gerberslasie Kebatu secara tidak sengaja ini tidak hanya menjadi skandal administrasi, tetapi juga memiliki dampak yang jauh lebih luas. Insiden ini semakin mengikis kepercayaan publik terhadap sistem peradilan dan keamanan Inggris. Banyak yang khawatir bahwa ini menunjukkan adanya celah serius dalam penanganan tahanan, terutama yang berkaitan dengan isu imigrasi.
Kasus ini juga berpotensi memperkeruh perdebatan sengit seputar kebijakan imigrasi dan penampungan pencari suaka di Inggris. Protes anti-imigran yang sebelumnya telah terjadi kemungkinan akan semakin memanas, menuntut pemerintah untuk meninjau ulang kebijakan mereka secara menyeluruh. Pemerintah kini menghadapi tekanan besar untuk tidak hanya menangkap Kebatu, tetapi juga untuk memperbaiki sistem agar kesalahan serupa tidak terulang kembali.
Keamanan masyarakat menjadi taruhan utama dalam insiden ini. Selama Hadush Gerberslasie Kebatu masih berkeliaran bebas, rasa cemas dan ketidaknyamanan akan terus menghantui warga Inggris. Ini adalah pengingat pahit bahwa satu kesalahan kecil dalam sistem dapat memiliki konsekuensi yang sangat besar dan merugikan banyak pihak.


















