Sistem administrasi perpajakan nasional Coretax yang digadang-gadang jadi solusi modern, ternyata masih menyimpan banyak "PR" alias pekerjaan rumah. Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa blak-blakan mengakui kalau sistem ini punya segudang persoalan teknis di berbagai lapisannya. Tapi tenang, ia optimistis semua perbaikan bisa tuntas di awal tahun 2025.
Jujur-jujuran dari Kemenkeu: Coretax Belum Sempurna
Dalam sebuah media briefing di Kementerian Keuangan, Purbaya tanpa tedeng aling-aling memberikan "honest review" tentang Coretax. Ia mengakui janji perbaikan yang sempat ia lontarkan sebulan sebelumnya, ternyata baru selesai sebagian. Ini menunjukkan betapa kompleksnya masalah yang dihadapi.
Pengakuan ini tentu saja penting, mengingat Coretax adalah tulang punggung baru sistem pajak kita. Transparansi dari Kemenkeu ini patut diapresiasi, agar masyarakat tahu apa yang sebenarnya terjadi di balik layar sistem yang vital ini.
Bukan Cuma Satu, Tiga Lapisan Sistem Ikut Bermasalah
Menurut Purbaya, masalah di Coretax ini tidak hanya muncul di satu titik, melainkan merata di tiga lapisan utama sistem. Mulai dari programming layer, middle layer, hingga upper layer, semuanya punya kendala masing-masing yang bikin pusing. Ini seperti membangun rumah, tapi pondasi, dinding, dan atapnya sama-sama bermasalah.
Lapisan Atas (Upper Layer): Gangguan Jaringan Bikin Gagal Login
Bayangkan, kamu mau lapor pajak atau mengakses layanan penting, tapi tiba-tiba timeout atau gagal login. Ini yang sempat terjadi di lapisan atas sistem Coretax. Masalah utamanya ternyata ada pada koneksi utama lewat jaringan Telkom yang tidak stabil.
Untungnya, tim Kemenkeu bergerak cepat. Lalu lintas sistem sementara dialihkan ke penyedia lain agar akses lebih lancar dan tidak bikin pengguna frustrasi. Ini adalah langkah darurat yang krusial untuk menjaga layanan tetap berjalan.
Lapisan Tengah (Middle Layer): Pengguna Mental, Keamanan Terlalu Ketat
Di bagian tengah sistem, kendala yang ditemukan lebih kompleks lagi. Ada masalah manajemen session dan cookie yang berantakan, bikin pengguna sering terlempar keluar saat sedang asyik mengakses sistem. Pasti sebel banget kan, kalau lagi input data tiba-tiba harus login ulang?
Selain itu, pengaturan keamanan yang tadinya dimaksudkan untuk melindungi, justru terlalu ketat dan memperlambat kinerja. Perbaikan dilakukan dengan menata ulang firewall dan menambahkan content accelerator. Harapannya, akses jadi lebih cepat dan stabil tanpa mengorbankan keamanan.
Lapisan Dasar (Programming Layer): Kode ‘Level SMA’ Bikin Geleng-Geleng
Nah, ini dia bagian yang paling bikin heboh dan jadi sorotan. Di lapisan dasar, yaitu programming layer, banyak error message yang muncul akibat kelemahan di sisi penulisan kode. Purbaya bahkan sampai nyeletuk, "Begitu mereka dapat source code-nya, dilihat sama orang saya, katanya ini kayak buatan programmer tingkat SMA."
Pernyataan ini tentu saja mengejutkan. Bagaimana bisa sistem sepenting Coretax, yang menelan biaya triliunan rupiah, dibangun dengan kualitas kode yang dipertanyakan? Patch dan pembaruan memang sudah dilakukan bersama pihak pengembang LG CNS, tapi tim Kemenkeu belum bisa mengubah seluruh sistem karena keterbatasan akses hingga kontrak berakhir pada Desember 2025.
Kontroversi Kode ‘Level SMA’ dan Kualitas Vendor Asing
Komentar Purbaya soal kualitas tenaga pengembang dari LG CNS yang dinilai belum sesuai harapan ini memicu pertanyaan besar. Jika kode yang dihasilkan setara "level SMA", apa artinya bagi investasi triliunan rupiah yang sudah digelontorkan? Ini juga menjadi tamparan keras bagi vendor asing yang dipercaya menggarap proyek strategis negara.
Kualitas source code yang buruk bisa menjadi bom waktu. Selain rentan error, juga sulit untuk dikembangkan atau diperbaiki di kemudian hari. Ini menunjukkan pentingnya pengawasan ketat dan evaluasi mendalam terhadap kualitas pekerjaan vendor, terutama untuk proyek-proyek vital seperti Coretax.
Titik Terang: Keamanan Coretax Melonjak Drastis Berkat Talenta Lokal
Di tengah badai masalah teknis, ada kabar baik yang patut diacungi jempol. Purbaya menyebut ada kemajuan besar terutama di sisi keamanan sistem. Tingkat keamanan cybersecurity Coretax yang semula dinilai 30 dari 100, kini naik pesat menjadi 95 plus. Ini berarti sistem Coretax sekarang sudah sangat aman, nyaris sempurna.
Perbaikan ini dilakukan dengan melibatkan para ahli dan peretas profesional Indonesia untuk menguji daya tahan sistem. Ini membuktikan bahwa talenta lokal kita punya kemampuan luar biasa. Purbaya menilai, ahli-ahli Indonesia justru lebih adaptif dan cepat belajar dibandingkan vendor luar negeri. Sebuah kebanggaan tersendiri!
Mandiri Tanpa Asing: Masa Depan Coretax di Tangan Anak Bangsa
Purbaya menegaskan, perbaikan struktural akan rampung setelah sistem diserahkan penuh kepada tim dalam negeri. "Saya yakin begitu dikasih ke kita, Januari-Februari sudah selesai itu. Security dan infrastrukturnya sekarang sudah cukup, tinggal dimaksimalkan pemanfaatannya," ucapnya penuh keyakinan.
Ini adalah visi yang kuat: Indonesia tidak boleh lagi terlalu bergantung pada pihak asing dalam pengembangan teknologi strategis negara. Purbaya yakin, kemampuan sumber daya manusia lokal cukup mumpuni untuk mengelola sistem perpajakan modern secara mandiri. Ini adalah langkah menuju kemandirian teknologi yang sangat penting bagi kedaulatan digital kita.
Mengapa Coretax Penting untuk Kita Semua?
Proyek Coretax ini bukan sekadar aplikasi biasa. Ini adalah sistem administrasi perpajakan terintegrasi yang dikembangkan oleh LG CNS-Qualysoft Consortium senilai lebih dari Rp1,2 triliun sejak 2020. Coretax hadir untuk menggantikan platform pajak lama Ditjen Pajak yang telah digunakan lebih dari dua dekade.
Diluncurkan secara resmi oleh Presiden Prabowo Subianto pada 31 Desember 2024, Coretax diharapkan mampu meningkatkan transparansi dan efisiensi layanan perpajakan nasional. Bagi wajib pajak, ini berarti kemudahan dan kecepatan dalam mengurus kewajiban pajak. Bagi negara, ini berarti optimalisasi penerimaan pajak yang akan digunakan untuk pembangunan.
Namun, beberapa bulan setelah peluncuran, sistem ini sempat dikritik karena gangguan akses dan performa yang belum stabil. Wajar saja, karena harapan masyarakat sangat tinggi terhadap sistem baru ini.
Meskipun masih berjuang dengan berbagai kendala teknis, komitmen Kemenkeu untuk memperbaiki Coretax hingga tuntas patut kita dukung. Dengan melibatkan talenta-talenta terbaik bangsa, kita berharap Coretax bisa segera berfungsi optimal dan menjadi kebanggaan Indonesia, bukan lagi sistem dengan kode "level SMA". Ini demi masa depan perpajakan yang lebih baik dan transparan bagi kita semua.


















