"It Was Just an Accident" langsung menempati posisi teratas daftar film terbaik tahun ini. Film karya sineas Iran, Jafar Panahi, ini bukan sekadar tontonan biasa, melainkan sebuah mahakarya yang berhasil menyabet Palme d’Or di Cannes Film Festival 2025. Tak heran jika Prancis sangat antusias menjadikannya wakil ke Oscar 2026.
Film ini adalah contoh sempurna efisiensi dan efektivitas dalam sinema. Baik dari segi penuturan, penggarapan naskah, dramatisasi, hingga sajian visualnya, semuanya terasa pas dan berbobot. Panahi berhasil membuktikan bahwa kekuatan cerita jauh lebih penting daripada produksi yang megah atau visual penuh efek yang grande.
Bagi saya, karya Panahi ini sungguh menyegarkan pikiran. Ia mengingatkan kita akan arti penting sebuah film: soal cerita kehidupan, bukan semata-mata bintang terkenal atau bujet fantastis. Panahi benar-benar sangat fokus pada esensi.
Gagasan ceritanya mungkin terkesan sederhana, bahkan mungkin muncul dari mereka yang tak terbebani target box office. Namun, justru di situlah kekuatannya, terasa simpel, bebas, dan lepas. Panahi berhasil menciptakan sebuah karya yang mendalam tanpa perlu berlebihan.
Thriller Psikologis yang Menguras Emosi
Latar waktu dalam film ini sangat padat, hanya sekitar 24-30 jam dari babak awal hingga klimaks. Kepadatan cerita ini disajikan seperti bakcang, di mana setiap konteks diberikan secara perlahan melalui dialog kasual antar karakter. Ini membuat penonton terus penasaran dan terlibat.
Panahi menempatkan penonton sebagai orang luar yang tiba-tiba masuk ke dalam sebuah kelompok yang sedang berbagi cerita internal mereka. Kita diajak memahami dinamika kelompok itu dari mengamati percakapan serta hubungan satu pihak dengan yang lain. Pendekatan ini terasa sangat organik dan imersif.
Inilah yang membuat film ini terasa spesial. Panahi menyajikan thriller psikologis dalam "It Was Just an Accident" lewat dinamisasi dan konflik intens antar lima karakter yang mendadak berkumpul. Ketegangan muncul berkat emosi para karakternya, sebagai buah dari trauma masa lalu yang tak terduga muncul di depan mata.
Panahi tidak perlu banyak adegan mengagetkan atau kekerasan brutal, atau pun scoring yang lebai, untuk membuat penonton ikut geregetan dan gelisah. Ia mampu membangun ketegangan hanya dari interaksi dan emosi manusia. Ini adalah kecerdasan dalam bercerita yang patut diacungi jempol.
Maka wajar, saya merasa Jafar Panahi sukses memanipulasi waktu selama saya menyaksikan film ini. Pada awalnya, semua terasa membingungkan, tetapi seiring kedatangan para karakter dan konflik yang menyertainya, cerita demi cerita yang datang bagai potongan teka-teki. Hingga akhirnya, tanpa sadar, kredit film pun datang.
Bahkan saya berharap ada post-credit scene, hingga lampu bioskop yang menyala membuyarkan harapan itu. Ini menunjukkan betapa film ini berhasil membuat penonton terpaku dan ingin tahu lebih banyak.
Kisah Personal Jafar Panahi yang Mendalam
Meski disampaikan secara sepotong-sepotong, konteks cerita yang ditulis langsung oleh Jafar Panahi ini sungguh memiliki pesan yang luar biasa kuat. Mulai dari perjuangan melawan trauma masa lalu, menghadapi ketakutan dan keraguan, hingga melawan tiran dan berjuang mempertahankan kemerdekaan individu. Pesan-pesan ini terasa sangat relevan dengan situasi sosial-politik di berbagai negara saat ini.
Mungkin, faktor pengalaman Panahi yang beberapa kali dipenjara oleh rezim di Iran adalah faktor utama yang membuat film ini juga terasa sangat personal. Meskipun disampaikan melalui sekelompok karakter, kedalaman emosi dan perjuangan yang digambarkan terasa otentik dan menyentuh. Ini adalah cerminan dari pengalaman hidup sang sutradara.
Akting Memukau dan ‘One-Take Shot’ yang Bikin Kagum
Saya jelas angkat topi untuk seluruh pemain dalam film ini, terutama Mohamad Ali Elyasmehr, Mariam Afshari, dan Ebrahim Azizi. Mereka memainkan beberapa adegan konflik dalam one-take shot yang sangat sulit. Melakukan one-shot adegan konflik saja bagi saya itu sebuah prestasi tersendiri, karena memang tidak mudah bagi aktor maupun sutradara.
Akan tetapi, Panahi dan para pemainnya sanggup melakukannya lebih dari sekali, menunjukkan dedikasi dan keahlian luar biasa. Keberadaan beberapa adegan one-shot ini pun terbilang sangat penting. Konflik intens yang disampaikan secara monolog dengan pemain yang berbeda dalam adegan-adegan tersebut adalah kunci jawaban besar atas film ini. Artinya, beban besar tersebut sukses disampaikan dengan mulus.
Saya tak terbayang bagaimana persiapan dan kerja keras Elyasmehr, Afshari, atau Azizi dalam membawakan adegan-adegan penting itu. Apalagi adegan dilakukan di luar ruangan yang mayoritas mengandalkan pencahayaan alami. Karena bila gagal, sudah pasti harus mengulang dari awal dan akan dikejar oleh waktu. Ini adalah bukti profesionalisme yang tinggi.
Namun, Vahid Mobasseri, Majid Panah, dan Hadis Pakbaten juga memiliki peran penting dalam membangun atmosfer dalam adegan di film ini. Ketiganya sesekali memberikan suasana ringan di antara cerita yang sebenarnya gelap, menyeimbangkan emosi penonton dan memberikan jeda yang pas.
Kandidat Kuat di Oscar 2026?
Dengan sajian seperti ini, saya tak heran bila "It Was Just an Accident" adalah salah satu kandidat kuat di Oscar 2026. Saya akan sangat heran bila film ini tak masuk dalam daftar nominasi Best International Feature Film. Mengingat cerita, produksi, dan pesan dalam film ini yang bisa masuk dalam situasi sosial-politik di berbagai negara saat ini.
Terlepas dari rezeki film ini di Oscar 2026 yang baru akan terlihat beberapa bulan mendatang, "It Was Just an Accident" keruan sudah mengisi jajaran atas daftar film terbaik saya tahun ini. Ini adalah film yang akan saya tonton lagi suatu kali nanti, karena kedalaman dan dampaknya yang begitu membekas. Sebuah tontonan wajib bagi para pecinta film berkualitas.


















