Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa baru-baru ini menunjukkan respons yang cukup menarik saat mendengar kabar penting terkait masa depan Kereta Cepat Jakarta-Bandung, Whoosh. Ia mengacungkan jempolnya, seolah memberikan restu penuh, ketika tahu Danantara akan segera terbang ke China. Misi mereka? Tentu saja, negosiasi utang Whoosh yang selama ini jadi sorotan publik.
"Bagus. Saya enggak ikut, kan? Top!" ucap Purbaya dengan nada santai namun tegas. Ia ditemui di Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, beberapa waktu lalu. Pernyataan ini sontak memicu pertanyaan, mengapa Menkeu justru memilih untuk tidak terlibat langsung dalam negosiasi sepenting ini?
Menkeu Purbaya: Lepas Tangan, Dorong Solusi B2B
Purbaya menegaskan bahwa ia berusaha sebisa mungkin untuk tidak ikut campur dalam penyelesaian masalah utang proyek mega ini. Baginya, ini adalah urusan yang harus dibereskan secara business to business (B2B). Sebuah pendekatan yang menunjukkan pemerintah ingin masalah ini diselesaikan di tingkat korporasi, bukan intervensi langsung dari negara.
"Paling menyaksikan (kalau diajak ke China). Kalau mereka (Danantara) sudah putus (opsi negosiasi utang Whoosh) kan sudah bagus, top!" tambahnya. Ini mengindikasikan bahwa Menkeu percaya penuh pada kemampuan Danantara untuk menemukan solusi terbaik. Sikap ini juga bisa diartikan sebagai upaya menjaga jarak pemerintah dari potensi risiko finansial langsung.
Misi Penting Danantara ke China: Apa yang Akan Dinegosiasikan?
Di sisi lain, Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, membeberkan bahwa pihaknya sedang menyiapkan sejumlah opsi strategis. Opsi-opsi ini dirancang untuk melunasi kewajiban utang Whoosh yang memang cukup besar dan menjadi perhatian banyak pihak.
Danantara sendiri merupakan entitas yang dibentuk untuk mengelola investasi dan pendanaan proyek infrastruktur strategis, termasuk Whoosh. Keberangkatan mereka ke China bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan membawa beban ekspektasi untuk menyelamatkan proyek kebanggaan ini dari lilitan utang.
Bukan Cuma Jangka Waktu, Suku Bunga dan Mata Uang Ikut Dibahas
Dony Oskaria tidak menjawab secara gamblang mengenai ide Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan, untuk merestrukturisasi utang selama 60 tahun. Namun, ia menegaskan bahwa pemerintah masih mengkaji semua opsi yang ada. Ini menunjukkan fleksibilitas dan keterbukaan dalam mencari solusi terbaik.
"Terus kita bernegosiasi, kami akan berangkat lagi juga (ke China) untuk menegosiasikan mengenai term daripada pinjamannya," jelas Dony. Ia menyebutkan beberapa poin krusial yang akan menjadi fokus negosiasi. Ini termasuk jangka waktu pinjaman, suku bunga, dan bahkan mata uang yang akan digunakan dalam pembayaran.
Negosiasi ini sangat penting karena setiap detail kecil bisa berdampak besar pada beban finansial Whoosh di masa depan. Jangka waktu pinjaman yang lebih panjang, misalnya, bisa meringankan cicilan bulanan. Sementara itu, suku bunga yang lebih rendah tentu akan mengurangi total biaya utang secara signifikan. Diskusi mengenai mata uang juga krusial untuk mitigasi risiko fluktuasi kurs.
Klaim Positif dari KCIC: Modal Kuat untuk Negosiasi
Dony Oskaria juga menyampaikan kabar baik yang bisa menjadi modal kuat bagi Danantara dalam negosiasi. Ia mengklaim bahwa Earnings Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization (EBITDA) PT Kereta Cepat Indonesia-China (KCIC) sudah positif. Ini adalah indikator penting kesehatan finansial perusahaan.
EBITDA positif berarti KCIC, sebagai operator Whoosh, mampu menghasilkan keuntungan dari operasional intinya sebelum memperhitungkan bunga utang, pajak, depresiasi, dan amortisasi. Ini menunjukkan bahwa secara operasional, Whoosh sudah menguntungkan. Sebuah poin kuat untuk meyakinkan pihak kreditur bahwa proyek ini punya prospek cerah dan mampu membayar utangnya.
"EBITDA-nya juga positif KCIC itu. Tinggal masalah utang pembangunan masa yang lalu. Yang ini tentu ada opsi, beberapa opsi, dan kita pastikan tentu ini opsi yang terbaik," tutur Dony. Pernyataan ini memberikan gambaran bahwa masalah utang lebih kepada struktur pendanaan awal, bukan karena kinerja operasional yang buruk.
Whoosh: Lebih dari Sekadar Utang, Ada Manfaat Besar di Baliknya
Pria yang juga menjabat sebagai Kepala Badan Pengaturan BUMN (BP BUMN) itu meminta masyarakat tidak perlu khawatir berlebihan. Dony menekankan bahwa Whoosh justru memberikan manfaat besar bagi sektor transportasi di Indonesia. Angka 30 ribu penumpang setiap hari adalah bukti nyata kontribusi Whoosh.
Kehadiran Whoosh telah mengubah lanskap transportasi antara Jakarta dan Bandung. Perjalanan yang dulunya memakan waktu berjam-jam kini bisa ditempuh kurang dari satu jam. Ini tidak hanya menghemat waktu, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi di kedua kota dan sekitarnya.
Dony menyebut, "Whoosh mampu mengangkut 30 ribu penumpang setiap harinya." Angka ini menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap moda transportasi modern ini. Dengan kapasitas dan efisiensi yang ditawarkan, Whoosh berpotensi menjadi tulang punggung mobilitas di koridor padat ini.
Target Ambisius: Utang Tuntas di Tahun 2025?
Danantara berkomitmen untuk fokus penuh dalam urusan korporasi ini. Dony berjanji pihaknya akan menyampaikan opsi-opsi terbaik yang bisa dipilih oleh pemerintah. Ini menunjukkan keseriusan dan profesionalisme dalam menangani masalah utang yang kompleks.
"Harus selesai (opsi pelunasan utang di 2025) dan kami pastikan selesai," tegas Dony. Target penyelesaian opsi pelunasan utang di tahun 2025 adalah ambisius, namun Dony optimis. Menurutnya, masalah ini tidak terlalu sulit secara korporasi.
"Itu kan masalah yang menurut saya gak terlalu sulit sebetulnya secara korporasi. Karena secara korporasi kan perusahaannya, EBITDA-nya positif, tinggal masalah cicilannya mau di mana, kan itu saja. Jadi, gak rumit dan pasti akan kita selesaikan," tandas Dony. Optimisme ini diharapkan bisa menular dan memberikan keyakinan kepada semua pihak bahwa Whoosh akan terus melaju tanpa beban utang yang menghantui.
Hubungan baik antara Indonesia dan China juga disebut Dony sebagai modal penting dalam negosiasi ini. "Hubungan kita (dengan China) juga bagus, komunikasi bagus, dan lain sebagainya," jelasnya. Ini menunjukkan bahwa negosiasi akan berjalan dalam suasana yang kondusif, mencari solusi win-win bagi kedua belah pihak.


















