Jakarta, CNN Indonesia – Badan Kesehatan Dunia (WHO) baru-baru ini mengeluarkan pernyataan yang mengguncang nurani. Mereka memperkirakan setidaknya dibutuhkan dana sebesar US$7 miliar, atau sekitar Rp116 triliun, hanya untuk membangun kembali fasilitas kesehatan di Gaza yang porak-poranda akibat perang. Angka fantastis ini bukan sekadar deretan digit, melainkan cerminan nyata dari skala kehancuran masif yang dialami wilayah tersebut.
Pernyataan ini datang di tengah situasi kemanusiaan yang kian memburuk di Gaza, sebuah wilayah yang telah lama menjadi saksi bisu konflik tiada henti. Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengungkapkan bahwa saat ini tidak ada satu pun rumah sakit yang berfungsi penuh di seluruh Jalur Gaza. Ini adalah gambaran telanjang dari krisis kesehatan yang mendalam dan sistem yang telah runtuh.
Kerusakan Fasilitas Kesehatan yang Tak Terbayangkan
Konflik berkepanjangan telah mengubah Gaza menjadi lautan puing dan kesengsaraan. Rumah sakit, yang seharusnya menjadi tempat perlindungan dan penyembuhan bagi mereka yang terluka dan sakit, justru menjadi target dan korban dari intensitas pertempuran yang brutal. Infrastruktur medis yang dibangun bertahun-tahun hancur dalam sekejap, meninggalkan jutaan orang tanpa akses perawatan dasar.
Data terbaru dari WHO sangat memilukan: dari 35 rumah sakit yang ada di Gaza sebelum konflik memuncak, kini hanya 14 yang masih beroperasi. Itupun dengan kapasitas yang sangat terbatas dan kondisi yang jauh dari ideal. Sisanya telah hancur total atau tidak dapat berfungsi akibat kerusakan parah dan kekurangan pasokan.
Gambaran Pilu di Lapangan: Hanya Sebagian Kecil yang Bertahan
Empat belas rumah sakit yang tersisa ini berjuang keras untuk memberikan pelayanan medis di tengah keterbatasan ekstrem yang hampir tidak bisa dibayangkan. Mereka menghadapi kekurangan obat-obatan esensial yang kritis, mulai dari antibiotik hingga anestesi, yang sangat dibutuhkan untuk operasi penyelamatan nyawa. Peralatan medis vital banyak yang rusak, tidak berfungsi, atau tidak memadai untuk menangani volume pasien yang membludak.
Selain itu, minimnya tenaga kesehatan yang kelelahan, trauma, dan terancam menjadi masalah serius lainnya. Banyak dokter dan perawat telah meninggal, terluka, atau terpaksa mengungsi, meninggalkan celah besar dalam sistem kesehatan yang sudah rapuh. Kondisi ini membuat perawatan bagi pasien kritis, korban luka perang, ibu hamil, dan anak-anak yang sakit menjadi sangat sulit, bahkan mustahil dalam banyak kasus.
Setiap hari, para profesional medis di Gaza harus membuat pilihan yang mengerikan dan tidak manusiawi. Mereka harus memutuskan siapa yang bisa diselamatkan dengan sumber daya yang terbatas, sebuah dilema etis yang menghantui di tengah kehancuran total. Situasi ini bukan hanya tentang bangunan yang hancur, tetapi juga tentang nyawa yang terancam, harapan yang pupus, dan sistem kesehatan yang benar-benar kolaps.
Krisis Kemanusiaan yang Makin Parah: Kelaparan dan Kematian Mengintai
Selain krisis kesehatan yang akut, Gaza juga menghadapi bencana kelaparan yang semakin parah dan tak terkendali. Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyoroti bahwa situasi kelaparan di sana tidak banyak berubah sejak gencatan senjata pada 10 Oktober 2025, yang seharusnya membawa sedikit kelegaan dan harapan bagi warga sipil.
PBB secara tegas menuding tindakan Israel sebagai penyebab utama dari bencana kelaparan yang mengerikan ini. Mereka menyebut bahwa Israel seringkali menghentikan atau membatasi aliran bantuan kemanusiaan yang sangat dibutuhkan ke Jalur Gaza, memperparah penderitaan jutaan warga sipil yang terjebak di sana tanpa makanan, air bersih, dan pasokan dasar lainnya.
Bantuan Tersendat, Harapan Pun Memudar
Sejak awal tahun 2025, angka kematian akibat malnutrisi telah mencapai 411 orang, sebuah statistik yang memilukan dan terus meningkat. Gencatan senjata yang ditengahi oleh Amerika Serikat diharapkan bisa menjadi titik terang, membawa akhir dari penderitaan akibat kelaparan yang melanda. Namun, kenyataan di lapangan berkata lain, menunjukkan bahwa kesepakatan di atas kertas belum tentu terealisasi di bumi Gaza.
Meskipun ada beberapa bantuan yang mulai masuk ke Gaza, Direktur Jenderal WHO menegaskan bahwa jumlahnya masih jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar penduduk. Perjanjian gencatan senjata mengatur masuknya 600 truk bantuan setiap hari, namun yang terealisasi hanya sekitar 200-300 truk. Lebih ironisnya lagi, banyak dari truk tersebut membawa barang komersial, bukan bantuan esensial yang sangat dibutuhkan.
Warga Gaza yang telah kehilangan segalanya—rumah, pekerjaan, dan mata pencarian—tidak memiliki sumber daya untuk membeli barang-barang komersial ini. Mereka membutuhkan makanan, air bersih, dan obat-obatan gratis yang bisa menyelamatkan nyawa, bukan produk yang harus dibeli di tengah kemiskinan ekstrem. Kondisi ini memperlihatkan kegagalan sistematis dalam penyaluran bantuan dan kurangnya kepedulian terhadap kebutuhan mendesak warga sipil.
Tantangan Besar Menanti: Mengapa Angka Rp116 Triliun Sangat Penting?
Angka Rp116 triliun yang disebutkan WHO bukan sekadar deretan digit kosong. Ini adalah cerminan dari skala kehancuran yang masif dan upaya kolosal yang dibutuhkan untuk mengembalikan sedikit harapan bagi warga Gaza. Dana sebesar itu diperlukan tidak hanya untuk membangun kembali gedung-gedung rumah sakit yang hancur, tetapi juga untuk merekonstruksi seluruh sistem kesehatan dari nol.
Membangun kembali berarti menyediakan infrastruktur modern yang tahan banting, melengkapi fasilitas dengan peralatan medis canggih yang sesuai standar internasional, serta melatih dan merekrut kembali tenaga kesehatan yang memadai. Ini adalah investasi jangka panjang yang krusial untuk memastikan masyarakat Gaza memiliki akses dasar terhadap layanan kesehatan yang layak dan berkelanjutan. Tanpa investasi besar ini, dampak jangka panjang terhadap kesehatan publik akan sangat mengerikan, memicu krisis kesehatan generasi mendatang.
Selain itu, biaya ini juga mencakup pemulihan rantai pasokan medis yang terputus, pembangunan kembali klinik-klinik komunitas, serta penyediaan layanan kesehatan mental yang sangat dibutuhkan oleh populasi yang trauma. Angka ini mencerminkan kompleksitas dan kedalaman kerusakan yang telah terjadi, jauh melampaui sekadar kerusakan fisik bangunan.
Seruan Mendesak dari WHO: Dunia Harus Bertindak Cepat
Pernyataan Tedros Adhanom Ghebreyesus adalah seruan darurat yang menggema kepada komunitas internasional. Situasi di Gaza memerlukan perhatian serius dan tindakan konkret yang segera, bukan hanya janji-janji kosong atau belas kasihan sesaat. Setiap hari penundaan berarti lebih banyak nyawa yang hilang, lebih banyak anak-anak yang menderita malnutrisi, dan lebih banyak penderitaan yang tak terhingga bagi warga sipil yang tidak bersalah.
Dunia memiliki tanggung jawab moral dan kemanusiaan yang tak terhindarkan untuk membantu Gaza bangkit dari keterpurukan ini. Rekonstruksi fasilitas kesehatan adalah langkah awal yang fundamental untuk memulihkan kehidupan dan martabat warga sipil. Ini bukan hanya masalah kemanusiaan, tetapi juga ujian bagi solidaritas global dan komitmen terhadap nilai-nilai dasar kemanusiaan.
Melihat kondisi yang ada, jelas bahwa Gaza membutuhkan lebih dari sekadar gencatan senjata sementara yang rapuh. Mereka membutuhkan perdamaian yang berkelanjutan, akses bantuan tanpa hambatan dan tanpa syarat, serta dukungan penuh untuk membangun kembali kehidupan yang layak dan masa depan yang lebih baik. Angka Rp116 triliun adalah pengingat betapa besar tantangan di depan mata, dan betapa mendesaknya tindakan kita sebagai bagian dari komunitas global.


















