Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati, baru-baru ini mengeluarkan peringatan serius yang patut kita perhatikan. Ia menyebut, laju kenaikan suhu global bisa mencapai angka yang sangat mengkhawatirkan, yakni 3,5 derajat Celcius, jika skenario terburuk benar-benar terjadi.
Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan sebuah alarm bahaya yang menandakan potensi perubahan iklim ekstrem. Dampaknya? Curah hujan dan kekeringan akan semakin parah dan tak terduga pada periodenya masing-masing.
Dwikorita menjelaskan bahwa proyeksi ini adalah skenario kegagalan, di mana upaya pengendalian laju kenaikan suhu tidak berhasil. Kenaikan suhu permukaan hingga 3,5 derajat Celcius pada tahun 2100 ini jauh lebih hangat dibandingkan kondisi 200 tahun yang lalu.
Kenaikan suhu hingga 3,5 derajat Celcius ini bukan hanya sekadar angka di termometer. Ini adalah sebuah loncatan drastis yang akan mengubah fundamental sistem iklim bumi, memicu serangkaian efek domino yang belum pernah kita saksikan dalam sejarah peradaban modern. Bayangkan, dalam kurun waktu kurang dari delapan dekade, bumi kita bisa berubah drastis menjadi tempat yang jauh lebih panas dan tidak stabil.
Ini berarti generasi mendatang akan hidup di dunia yang sangat berbeda dan penuh tantangan iklim yang belum pernah kita alami sebelumnya, mengancam keberlangsungan hidup dan kesejahteraan mereka. Peringatan ini juga menyoroti target ambisius dari Kesepakatan Paris atau Paris Agreement.
Kesepakatan global itu berupaya keras agar pemanasan global tidak melampaui 2 derajat Celcius, bahkan sangat diharapkan hanya mencapai 1,5 derajat Celcius. Target 1,5 atau 2 derajat Celcius dalam Kesepakatan Paris bukanlah angka yang dipilih secara acak.
Batasan ini adalah hasil konsensus ilmiah global yang bertujuan untuk mencegah dampak terburuk perubahan iklim, seperti kenaikan permukaan air laut yang masif, kepunahan spesies, dan krisis pangan global. Jelas, angka 3,5 derajat Celcius yang diproyeksikan BMKG ini jauh melampaui batas aman yang telah disepakati dunia.
Jika kita melampaui batas ini hingga 3,5 derajat Celcius, maka janji-janji Paris Agreement akan menjadi sia-sia, dan kita akan memasuki era ketidakpastian iklim yang sangat berbahaya. Ini menunjukkan betapa gentingnya situasi dan perlunya tindakan kolektif yang lebih serius.
Ancaman Kenaikan Suhu Global yang Mengkhawatirkan
Kenaikan suhu global dalam skenario terburuk ini tentu akan membawa konsekuensi yang tidak main-main bagi Indonesia. BMKG telah memproyeksikan beberapa dampak signifikan yang akan terjadi jika kita gagal mengendalikan pemanasan global. Salah satu dampak paling nyata adalah peningkatan curah hujan yang ekstrem. Ini bukan sekadar hujan biasa, melainkan hujan dengan intensitas dan durasi yang jauh di atas rata-rata.
Indonesia Utara dan Tengah: Banjir dan Bencana Hidrometeorologi
Menurut Dwikorita, curah hujan bisa meningkat lebih dari 20 persen dibandingkan rata-rata 30 tahun terakhir. Peningkatan drastis ini diperkirakan akan melanda wilayah Indonesia utara dan tengah. Peningkatan curah hujan lebih dari 20 persen di wilayah utara dan tengah Indonesia berarti lebih dari sekadar genangan air.
Ini adalah ancaman nyata bagi stabilitas infrastruktur, mulai dari jalan, jembatan, hingga sistem drainase kota yang mungkin tidak dirancang untuk menahan volume air sebesar itu. Banjir bandang akan menjadi lebih sering, memicu tanah longsor di daerah pegunungan, merusak lahan pertanian, dan mengganggu aktivitas ekonomi. Lebih jauh lagi, bencana hidrometeorologi ini juga berpotensi menimbulkan krisis kesehatan akibat penyebaran penyakit yang ditularkan melalui air kotor.
Indonesia Selatan: Kekeringan Panjang dan Krisis Air
Namun, kondisi sebaliknya justru akan terjadi di bagian selatan Tanah Air. Wilayah ini diproyeksikan akan mengalami penurunan curah hujan yang signifikan, menjadikannya lebih kering dari biasanya. Sebaliknya, penurunan curah hujan di bagian selatan Tanah Air akan memicu kekeringan panjang yang dampaknya tak kalah mengerikan.
Sektor pertanian, yang menjadi tulang punggung ekonomi di banyak daerah, akan sangat terpukul. Gagal panen bisa menjadi hal yang lumrah, mengancam ketahanan pangan dan kesejahteraan petani. Krisis air bersih akan menjadi masalah serius, memaksa masyarakat untuk mencari sumber air alternatif yang mungkin tidak higienis, serta meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan yang sulit dikendalikan.
Curah Hujan Ekstrem: Normal Baru yang Menakutkan
Dwikorita menegaskan bahwa seluruh dunia harus bersatu dan berupaya keras agar skenario terburuk ini tidak menjadi kenyataan. Tanpa penanganan yang baik dan komitmen global, kondisi ekstrem tersebut akan menjadi keniscayaan. Cuaca ekstrem basah, katanya, akan menjadi "suatu kenormalan baru" yang harus kita hadapi.
Ini berarti kita tidak bisa lagi menganggap hujan deras sebagai kejadian langka, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari yang berisiko. Konsep ‘kenormalan baru’ ini menuntut kita untuk beradaptasi secara fundamental. Ini bukan hanya tentang mempersiapkan diri menghadapi satu atau dua kejadian ekstrem, tetapi tentang hidup di tengah kondisi cuaca yang terus-menerus tidak menentu.
"Jadi curah hujan ekstrem itu semakin sering. Intensitasnya semakin melompat dan durasinya semakin panjang," tuturnya. Ini adalah gambaran masa depan yang menakutkan, di mana musim hujan akan diwarnai oleh badai yang lebih kuat dan berkepanjangan. Kota-kota harus merancang ulang sistem drainase mereka, masyarakat harus mengubah pola tanam, dan pemerintah harus memperkuat sistem peringatan dini bencana.
Suhu Bumi Sudah Melonjak Drastis Sejak Dulu
Peringatan BMKG ini bukan tanpa dasar. Data menunjukkan bahwa peningkatan suhu global sudah terjadi dan bahkan mencapai angka yang mengkhawatirkan. Pada Maret lalu, Dwikorita mengungkapkan bahwa tahun 2024 saja sudah mencatatkan peningkatan suhu hingga 1,55 derajat Celcius.
Angka ini adalah anomali suhu udara permukaan, baik secara global maupun nasional. Ini berarti kita sudah sangat dekat dengan batas 1,5 derajat Celcius yang diupayakan dalam Kesepakatan Paris, padahal ini baru awal tahun. Dwikorita juga menjelaskan bahwa dari tahun 1900 hingga 1980, peningkatan suhu cenderung landai dan tidak terlalu signifikan.
Namun, setelah periode 1980, laju peningkatan suhu mulai menunjukkan akselerasi yang sangat cepat. Ini adalah bukti nyata bahwa aktivitas manusia modern memiliki dampak besar terhadap iklim bumi. Dekade terakhir bahkan mencatatkan diri sebagai dekade terpanas yang pernah ada dalam sejarah pencatatan suhu.
"Jadi memang 10 tahun terakhir ini peningkatan suhu permukaan bumi adalah semakin melonjak sebagai suhu terpanas," kata Dwikorita. Ini adalah fakta yang tidak bisa kita abaikan dan harus menjadi pemicu bagi tindakan nyata.
El Nino dan La Nina: Memperparah Kondisi Iklim
Selain faktor kenaikan suhu global, fenomena iklim alami seperti El Nino dan La Nina juga turut memperparah kondisi. Tahun 2023 adalah tahun El Nino, yang dikenal membawa dampak kekeringan di banyak wilayah. Sementara itu, tahun 2024 ini adalah masa peralihan menuju kondisi La Nina, yang justru seringkali memicu curah hujan tinggi.
Kombinasi dan transisi antara kedua fase ini menciptakan ketidakpastian iklim yang ekstrem. Transisi antara El Nino dan La Nina ini menciptakan ‘roller coaster’ iklim yang sangat menantang bagi Indonesia. Setelah mengalami kekeringan panjang akibat El Nino, wilayah yang sama bisa langsung dihantam banjir besar saat La Nina tiba.
"Fase-fase tersebut mengakibatkan risiko kekeringan dan banjir di berbagai wilayah dunia, termasuk Indonesia," tambahnya. Ini berarti, kita akan menghadapi dua sisi mata uang yang sama-sama merusak: kekeringan di satu waktu, banjir di waktu lain. Ketidakpastian ini tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga pada stabilitas sosial dan ekonomi masyarakat yang sangat bergantung pada kondisi iklim yang stabil.
Peringatan dari BMKG ini adalah panggilan darurat bagi kita semua. Mengabaikan ancaman ini berarti mempertaruhkan masa depan generasi mendatang. Sudah saatnya kita bertindak, bukan hanya berbicara, untuk menyelamatkan bumi dari skenario terburuk ini.


















