Amerika Serikat bergejolak. Jutaan warganya tumpah ruah ke jalanan di seluruh 50 negara bagian selama akhir pekan lalu, menyuarakan protes keras terhadap kepemimpinan mantan Presiden Donald Trump. Aksi masif ini bertajuk "No Kings," sebuah seruan tegas yang menggema dari pesisir timur hingga barat, menolak apa yang mereka anggap sebagai ancaman otoritarianisme.
Gelombang demonstrasi ini bukan sekadar unjuk rasa biasa. Penyelenggara memperkirakan lebih dari satu juta orang ikut serta, tersebar di sekitar 2.600 kota di seluruh Amerika. Mereka bersatu dalam satu tujuan: menentang gaya kepemimpinan Trump yang dinilai telah mengikis norma-norma demokrasi dan mengubah wajah pemerintahan AS menjadi lebih otoriter.
Jutaan Suara Melawan "Raja" di Gedung Putih
"No Kings" bukan hanya sekadar slogan, melainkan sebuah deklarasi. Ini adalah pernyataan bahwa di Amerika, tidak ada tempat bagi pemimpin yang bertindak layaknya seorang raja atau diktator. Gerakan ini dipelopori oleh Indivisible, sebuah organisasi progresif yang berhasil memobilisasi massa dalam skala yang luar biasa.
Uniknya, demonstrasi ini berlangsung dalam suasana yang meriah dan damai. Jalanan dipenuhi karakter balon raksasa, bendera merah, putih, dan biru, serta lautan manusia dari berbagai latar belakang. Mulai dari orang tua yang mendorong kereta bayi, anak muda, hingga warga lanjut usia, bahkan tak sedikit yang membawa hewan peliharaan mereka, semuanya bersatu menyuarakan aspirasi.
Mengapa Warga AS Turun ke Jalan? Kebijakan Kontroversial Trump
Kegelisahan di kalangan warga Amerika, khususnya dari kubu progresif, telah memuncak. Sejak kembali menjabat sebagai presiden pada Januari lalu, berbagai kebijakan Trump dinilai sangat agresif dan mengancam. Sasaran utamanya adalah kelompok rentan seperti imigran dan minoritas, serta lawan-lawan politiknya.
Trump dituding melakukan penuntutan hukum terhadap oposisi, menerapkan kebijakan imigrasi yang semakin keras, hingga mengerahkan pasukan Garda Nasional ke berbagai kota. Dalihnya adalah memerangi kejahatan dan melindungi petugas imigrasi, namun banyak yang melihatnya sebagai upaya untuk mengkonsolidasikan kekuasaan dan membungkam perbedaan pendapat. Inilah yang memicu jutaan orang merasa bahwa demokrasi mereka sedang dipertaruhkan.
Pesta Demokrasi di Seluruh Penjuru Amerika
Dari jantung kota New York hingga pesisir California, semangat protes membara. Di Times Square, New York City, ribuan demonstran memadati area ikonik tersebut tanpa satu pun laporan penangkapan, meskipun lebih dari 100.000 orang turun ke jalan di lima wilayah kota itu. Ini menunjukkan betapa tertibnya aksi tersebut.
Aksi serupa juga terlihat di Boston, Philadelphia, Atlanta, Denver, Chicago, dan Seattle, dengan jumlah peserta mencapai ribuan hingga puluhan ribu orang. Di Pantai Barat, Los Angeles menjadi saksi puluhan aksi serupa, termasuk di pusat kota. Sementara di Seattle, massa memenuhi rute pawai sepanjang lebih dari satu kilometer menuju Space Needle, dan di San Diego, polisi melaporkan lebih dari 25.000 orang berunjuk rasa secara damai.
Di Washington D.C., para demonstran memenuhi jalan menuju Gedung Capitol AS, meneriakkan slogan, membawa poster, bendera, dan balon. Suasana santai dengan kostum bertema karnaval dan kehadiran hewan peliharaan menunjukkan bahwa protes bisa dilakukan dengan cara yang damai dan penuh ekspresi. Aparat keamanan pun menjaga jarak, tidak menonjolkan kehadiran mereka, memungkinkan warga untuk bebas menyuarakan pendapat.
Respons Kontroversial dari Sang Mantan Presiden dan Partai Republik
Namun, gelombang protes ini tidak luput dari respons kontroversial. Donald Trump, melalui akun Truth Social-nya, mengunggah sebuah video kecerdasan buatan (AI) yang justru mengolok-olok para demonstran. Video berdurasi 19 detik itu menampilkan dirinya di dalam jet tempur, mengenakan mahkota bertuliskan "King Trump."
Dalam video tersebut, Trump digambarkan menjatuhkan benda menyerupai kotoran ke arah pengunjuk rasa, termasuk seseorang yang tampak seperti tokoh oposisi sayap kiri Harry Sisson. Aksi ini memicu kemarahan dan dianggap sebagai bentuk penghinaan terhadap hak warga untuk berdemokrasi.
Tak hanya Trump, Ketua DPR AS Mike Johnson dari Partai Republik juga turut berkomentar. Pada Jumat, ia menyebut aksi "No Kings" sebagai "demo kebencian terhadap Amerika." Beberapa politisi Republik lainnya bahkan menuduh penyelenggara aksi memicu suasana yang dapat memperbesar risiko kekerasan politik, mengaitkannya dengan pembunuhan aktivis sayap kanan dan sekutu Trump, Charlie Kirk, pada September lalu.
Suara Hati Rakyat: Dari Veteran hingga Aktivis
Di balik keramaian dan hiruk pikuk, ada suara-suara hati yang tulus. Leah Greenberg, salah satu pendiri Indivisible, menegaskan, "Tidak ada yang lebih Amerika selain menyatakan ‘Kami tidak memiliki raja’ dan menggunakan hak kami untuk berdemonstrasi secara damai." Ini adalah inti dari gerakan tersebut: membela prinsip-prinsip dasar demokrasi Amerika.
Aliston Elliot, salah satu peserta di Washington D.C., mengenakan hiasan kepala Patung Liberty dan membawa poster bertuliskan "No Wannabe Dictators" (Tidak Ada Calon Diktator). Ia menyatakan, "Kami ingin menunjukkan dukungan bagi demokrasi dan perjuangan untuk keadilan. Saya menolak penyalahgunaan kekuasaan."
Di Houston, veteran Korps Marinir AS Daniel Aboyte Gamez (30), yang pernah bertugas di Irak, Afghanistan, dan Suriah, bergabung dengan sekitar 5.000 orang di depan balai kota. "Saya tidak mengerti apa yang sedang terjadi dengan negara ini," ujarnya, menyiratkan kekecewaan mendalam terhadap arah politik AS saat ini.
Masa Depan Demokrasi AS: Sebuah Pertaruhan Besar
Aksi "No Kings" ini bukan sekadar protes sesaat, melainkan cerminan dari pertarungan ideologi yang lebih besar di Amerika Serikat. Ini adalah pertaruhan antara norma-norma demokrasi yang telah lama dipegang teguh dan ancaman otoritarianisme yang dirasakan semakin nyata. Jutaan warga Amerika telah menunjukkan bahwa mereka tidak akan diam ketika prinsip-prinsip fundamental negara mereka terancam.
Gelombang protes ini mengirimkan pesan kuat menjelang pemilihan umum mendatang, bahwa suara rakyat masih memiliki kekuatan. Apakah pesan ini akan mengubah arah politik AS atau justru memperdalam polarisasi, hanya waktu yang bisa menjawab. Yang jelas, di tengah hiruk pikuk politik, semangat untuk mempertahankan demokrasi tetap menyala terang di hati jutaan warga Amerika.


















