Presiden Prabowo Subianto baru-baru ini membuat pernyataan yang cukup mengejutkan publik. Ia mengklaim bahwa angka kemiskinan di Indonesia telah mencapai rekor terendah sepanjang sejarah Republik Indonesia. Klaim ini tentu menarik perhatian, mengingat tantangan ekonomi yang masih dihadapi negara dan optimisme yang ingin dibangun pemerintah.
Klaim Rekor Terendah: Angka Kemiskinan dan Pengangguran Turun Drastis
Dalam Sidang Kabinet Paripurna pada Senin (20/10), Prabowo dengan bangga memamerkan data terbaru yang menunjukkan tren positif. Menurutnya, angka kemiskinan per Maret 2025 telah menyentuh 8,47 persen, sebuah capaian yang disebutnya sebagai rekor terendah sepanjang masa. "Kita bersyukur juga angka kemiskinan turun ke 8,47 persen. Ini saya diberitahu catatan oleh para pakar ini angka terendah sepanjang sejarah RI," ujar Prabowo, mengutip laporan dari para ahli.
Capaian ini, jika benar, menandai sebuah tonggak penting dalam upaya pengentasan kemiskinan di Tanah Air. Angka 8,47 persen menunjukkan penurunan signifikan yang patut diapresiasi.
Tak hanya kemiskinan, kabar baik juga datang dari sektor ketenagakerjaan. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) juga dilaporkan mengalami penurunan signifikan, memberikan angin segar bagi jutaan pencari kerja. Per Februari 2025, TPT berada di angka 4,67 persen, menunjukkan perbaikan kondisi pasar kerja yang cukup stabil.
Penurunan TPT ini mencerminkan adanya peningkatan penyerapan tenaga kerja di berbagai sektor. Ini adalah indikator positif yang menunjukkan bahwa roda perekonomian mulai bergerak lebih cepat dan menciptakan lebih banyak peluang.
Bukan Berarti Puas Diri: Tantangan di Balik Angka Positif
Meskipun angka-angka tersebut menunjukkan tren positif yang menggembirakan, Prabowo menegaskan bahwa pemerintahannya tidak akan berpuas diri. Ia menyadari bahwa angka 4,67 persen dari total penduduk 287 juta orang masih merupakan jumlah yang besar. Ini berarti jutaan individu masih berjuang mencari pekerjaan yang layak.
"Dan bagi mereka yang perlu pekerjaan segera, ini sesuatu yang harus kita pikirkan dengan saksama," kata Prabowo. Ia menambahkan, "Kita paham bahwa tingkat pengangguran ini sangat meresahkan bagi mereka yang sangat butuh pekerjaan, kita paham karena itu kita bekerja keras." Pernyataan ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk terus berupaya mengatasi masalah pengangguran secara serius dan berkelanjutan.
Ancaman Teknologi dan AI: Tantangan Baru Lapangan Kerja
Di tengah euforia penurunan angka kemiskinan dan pengangguran, Prabowo juga menyoroti tantangan besar yang mengintai di masa depan. Perkembangan teknologi yang pesat, terutama kemunculan kecerdasan buatan (AI) dan robotik, diprediksi akan mengurangi kebutuhan akan tenaga kerja manusia secara drastis. Ini menjadi perhatian serius bagi pemerintah dalam menciptakan lapangan kerja yang berkelanjutan.
Ia memberikan contoh nyata dari Jerman, di mana pabrik Volkswagen yang dulunya mempekerjakan 5.000-6.000 orang, kini hanya membutuhkan 30 pekerja. Sisanya telah digantikan oleh robot. "Munculnya robotik harus kita catat… ini harus kita kerjakan," tegas Prabowo, menekankan urgensi untuk beradaptasi dengan perubahan fundamental ini.
Pergeseran ini menuntut pemerintah dan masyarakat untuk berpikir jauh ke depan. Bagaimana menyiapkan angkatan kerja agar relevan di era digital? Ini adalah pertanyaan krusial yang harus segera dijawab dengan kebijakan konkret.
Misi Ambisius: Menghapus Kemiskinan Ekstrem hingga 0 Persen
Di balik optimisme terhadap penurunan angka kemiskinan, Prabowo memiliki mimpi yang lebih besar dan ambisius. Ia bertekad untuk membabat habis kemiskinan ekstrem di Indonesia hingga mencapai 0 persen pada tahun 2029 mendatang. Target ini tertuang jelas dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029.
Sebagai baseline, pemerintah menggunakan data tahun 2024 yang mencatat masih ada 1,47 persen penduduk dalam kategori kemiskinan ekstrem. Target awal adalah menekan angka tersebut ke level 0,5 persen hingga 1 persen pada tahun ini. Tekad ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menuntaskan masalah kemiskinan yang paling parah, yang seringkali menjadi akar berbagai permasalahan sosial.
Target kemiskinan ekstrem ini juga mengikuti standar internasional, yaitu US$2,15 purchasing power parity (PPP) per kapita per hari. Ini adalah ukuran global yang digunakan untuk mengidentifikasi individu yang hidup dalam kondisi kemiskinan paling parah, memastikan bahwa upaya pengentasan kemiskinan Indonesia sejalan dengan agenda pembangunan berkelanjutan global.
Data BPS Mendukung? Perbandingan Angka Kemiskinan Ekstrem
Lalu, bagaimana dengan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang merupakan lembaga independen dan kredibel? Mengacu pada data BPS, persentase penduduk miskin ekstrem di Indonesia per Maret 2025 adalah 0,85 persen atau sekitar 2,38 juta orang. Angka ini diklaim mengalami penurunan dibandingkan September 2024, yang masih menyentuh 0,99 persen atau sekitar 2,78 juta orang.
Penurunan ini, meskipun belum mencapai 0 persen, menunjukkan progres yang cukup baik dalam upaya pengentasan kemiskinan ekstrem. Ini adalah bukti bahwa program-program pemerintah mulai membuahkan hasil, meski perjalanan masih panjang untuk mencapai target ambisius 0 persen.
Awalnya, Kebijakan Ekonomi Makro dan Pokok-pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) 2026 menargetkan kemiskinan ekstrem hilang sepenuhnya. Namun, pemerintah bersama DPR RI akhirnya melakukan penyesuaian. Mereka sepakat untuk memperlebar target tahun depan menjadi 0 persen hingga 0,5 persen, mengakui realitas dan tantangan di lapangan yang membutuhkan pendekatan lebih fleksibel.
Masa Depan Lapangan Kerja: Adaptasi atau Tertinggal?
Tantangan menciptakan lapangan kerja di tengah disrupsi teknologi bukanlah hal sepele. Pergeseran paradigma dari pekerjaan manual ke otomatisasi menuntut adaptasi cepat dari angkatan kerja dan juga kebijakan pemerintah. Pendidikan dan pelatihan vokasi menjadi kunci untuk mempersiapkan sumber daya manusia agar tidak tertinggal dan mampu bersaing di pasar kerja global.
Pemerintah harus terus berinovasi dalam menciptakan ekosistem yang mendukung pertumbuhan ekonomi inklusif. Ini termasuk mendorong sektor-sektor baru yang tahan terhadap otomatisasi, memberikan insentif bagi industri yang berinvestasi pada pengembangan talenta lokal, serta memperkuat kolaborasi antara akademisi, industri, dan pemerintah.
Kesiapan infrastruktur digital dan literasi teknologi masyarakat juga menjadi fondasi penting. Tanpa itu, potensi bonus demografi Indonesia bisa terancam menjadi beban jika angkatan kerjanya tidak siap menghadapi era industri 4.0 dan 5.0.
Kesimpulan: Optimisme dengan Pekerjaan Rumah yang Besar
Klaim Presiden Prabowo mengenai rekor terendah angka kemiskinan dan penurunan pengangguran adalah berita yang menggembirakan dan patut menjadi sumber optimisme. Namun, di balik angka-angka positif ini, masih ada pekerjaan rumah besar yang menanti. Target ambisius untuk menghapus kemiskinan ekstrem hingga 0 persen pada 2029, serta tantangan adaptasi terhadap revolusi teknologi dan AI, menuntut kerja keras, strategi yang matang, dan kolaborasi dari seluruh elemen bangsa.
Apakah Indonesia mampu mewujudkan mimpi besar ini dan memastikan setiap warganya mendapatkan kesempatan yang layak? Waktu yang akan menjawab, namun fondasi telah diletakkan dan semangat untuk terus berjuang harus tetap menyala.


















