Selama ini, kulit nanas mungkin hanya berakhir di tempat sampah atau jadi pakan ternak. Tapi siapa sangka, limbah yang sering diabaikan ini ternyata menyimpan potensi "cuan" yang luar biasa dan bisa diubah menjadi minuman sehat yang lagi tren?
Melalui sentuhan inovasi dan proses fermentasi sederhana, kulit nanas bisa diubah menjadi tepache. Ini adalah minuman probiotik tradisional asal Meksiko yang kini mulai digandrungi karena manfaat kesehatannya. Peluang emas ini sedang digarap serius oleh tim dosen Universitas Palangka Raya (UPR) bersama Kelompok Tani Sido Dadi di Palangka Raya.
Dari Sampah Jadi Emas: Apa Itu Tepache?
Tepache adalah minuman fermentasi ringan dengan rasa sedikit asam dan kaya probiotik alami. Minuman ini sangat baik untuk kesehatan pencernaan dan kekebalan tubuh. Berasal dari Meksiko, tepache dibuat dari kulit nanas yang difermentasi dengan tambahan gula dan rempah-rempah tertentu.
Kini, berkat inisiatif UPR, minuman sehat ini tak hanya jadi solusi limbah kulit nanas. Lebih dari itu, tepache membuka keran pendapatan baru yang menggiurkan bagi masyarakat Palangka Raya. Bayangkan, dari yang tadinya sampah tak berguna, kini bisa jadi produk bernilai tinggi yang dicari banyak orang!
Inovasi UPR: Dosen Turun Tangan Bimbing Petani
Tim dosen UPR yang beranggotakan Decenly, M.Si. (Fakultas MIPA), Reny Rosalina, M.Si (Fakultas MIPA), drh. Rian Ka Praja, SKH., M.Biomed., Ph.D (Fakultas Kedokteran), dan apt. Muhammad Priyadi, M.Farm. (Fakultas MIPA) turun langsung ke lapangan. Mereka didampingi oleh sejumlah mahasiswa dalam program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) ini.
Kegiatan ini mengusung tema ‘Pendampingan Kewirausahaan dalam Pengembangan Penelitian Tepache Berprobiotik’. Tujuannya jelas: menciptakan produk olahan bernilai tambah yang ramah kesehatan pada Kelompok Tani Sido Dadi. Inisiatif ini juga didukung penuh dan didanai oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UPR.
Decenly, selaku ketua tim PKM, menegaskan bahwa inisiatif ini adalah wujud nyata komitmen UPR. Mereka ingin mendorong inovasi berbasis potensi lokal yang melimpah di Kalimantan Tengah. Hal ini juga sejalan dengan upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pemanfaatan sumber daya alam yang ada.
Bukan Sekadar Pelatihan Biasa: Materi Komprehensif untuk Petani
Pelatihan ini dirancang untuk membekali para petani dengan pengetahuan dan keterampilan yang lengkap. Dari pengolahan limbah kulit nanas hingga strategi pemasaran produk di era digital, semuanya dibahas tuntas agar petani siap berwirausaha.
Mengenal Tepache Lebih Dalam: Manfaat & Potensi Pasar
Muhammad Priyadi, salah satu narasumber utama, menjelaskan secara mendalam tentang tepache. Ia memaparkan bagaimana minuman fermentasi ini tidak hanya menawarkan rasa segar khas nanas, tapi juga kaya akan mikroorganisme baik hasil fermentasi yang bermanfaat bagi pencernaan. Ini menjadikan tepache sebagai minuman fungsional yang sangat relevan dengan gaya hidup sehat kekinian.
Menurut Priyadi, produk ini sangat cocok dikembangkan di daerah tropis seperti Kalimantan Tengah, khususnya Kota Palangka Raya. Produksi nanas yang melimpah di wilayah ini menjadi modal utama untuk menciptakan produk minuman sehat dan berpotensi ekonomi tinggi yang bisa bersaing di pasar.
Jurus Digital Marketing: Jualan Tepache Sampai Laris Manis
Tak hanya soal produksi, tim UPR juga menghadirkan praktisi digital marketing sebagai narasumber kedua. Mereka membagikan strategi efektif untuk memasarkan produk lokal seperti tepache di era digital yang serba terkoneksi ini.
Para petani diajarkan cara memanfaatkan media sosial, marketplace online, dan teknik branding yang menarik. Tujuannya agar produk tepache buatan mereka bisa menjangkau pasar yang lebih luas, tidak hanya lokal, dan meningkatkan daya jual secara signifikan.
Praktik Langsung: Bikin Tepache Sendiri Itu Gampang!
Bagian paling seru dan dinanti dari pelatihan ini adalah sesi praktik langsung pembuatan tepache. Peserta diajak membuat minuman probiotik ini dari awal hingga akhir, memastikan mereka benar-benar menguasai prosesnya.
Dengan bahan-bahan sederhana seperti kulit nanas, gula, rempah-rempah (misalnya kayu manis atau cengkeh), air matang, dan toples kaca, prosesnya ternyata sangat mudah diikuti. Petani dilatih mulai dari mencuci bahan dengan bersih, mencampur sesuai takaran yang tepat, hingga memahami proses fermentasi alami yang berlangsung selama 2-3 hari.
Praktik ini menjadi momen yang sangat antusias diikuti oleh peserta karena memberikan pengalaman langsung yang aplikatif. Ini bukan cuma teori, tapi keterampilan nyata yang bisa langsung jadi modal usaha mandiri bagi mereka.
Petani Antusias, Harapan Baru Terbit
Muhammad Ferdiansyah, Ketua Kelompok Tani Sido Dadi, menyambut baik kegiatan ini dan menyampaikan testimoni positif atas manfaat yang dirasakan oleh anggotanya. Ia melihat potensi besar dari pelatihan ini.
"Kami sangat senang bisa belajar cara membuat produk baru dari kulit nanas yang selama ini hanya dibuang," ujarnya dengan penuh semangat. "Harapan kami, keterampilan ini bisa terus dikembangkan agar menjadi peluang usaha yang berkelanjutan dan meningkatkan ekonomi anggota kelompok."
Ferdiansyah juga menyampaikan terima kasih yang tulus kepada tim pengabdian dari UPR yang telah hadir dan mendampingi mereka. Kehadiran dan pendampingan ini telah membuka wawasan dan menumbuhkan semangat berinovasi baru bagi para petani di Kelompok Tani Sido Dadi.
Komitmen UPR untuk Kalteng yang Lebih Baik
Kegiatan ini adalah salah satu bukti nyata komitmen UPR dalam mendorong inovasi berbasis potensi lokal dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kalimantan Tengah. Dengan fokus pada pengembangan produk bernilai tambah dan ramah kesehatan, UPR berharap dapat menciptakan ekosistem kewirausahaan yang kuat di daerah.
Melalui program semacam ini, UPR berharap dapat menumbuhkan semangat berinovasi dan mengembangkan usaha berbasis produk lokal yang sehat dan bernilai jual tinggi. Inisiatif ini membuktikan bahwa dengan sedikit kreativitas, transfer pengetahuan, dan pendampingan yang tepat, limbah pun bisa diubah menjadi berkah ekonomi yang berkelanjutan. Ini adalah langkah maju menuju kemandirian ekonomi masyarakat Palangka Raya.


















