Siapa sangka, di tengah hiruk pikuk industri migas, PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) Refinery Unit II Dumai justru fokus pada hal yang sangat mendasar: gizi anak dan balita. Mereka menggandeng Kelompok Wanita Mundam Berseri untuk sebuah misi mulia, yaitu meningkatkan kader Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) demi mengolah menu bergizi. Ini adalah bukti nyata komitmen Pertamina dalam menjaga kesehatan ibu dan anak di wilayah operasionalnya.
PT KPI RU II Dumai menyadari bahwa kesehatan generasi penerus adalah investasi terbesar. Oleh karena itu, langkah konkret diambil untuk memastikan anak-anak di sekitar kilang mendapatkan asupan gizi yang optimal. Melalui kolaborasi ini, diharapkan angka stunting dan masalah gizi buruk lainnya bisa ditekan secara signifikan.
Mengenal Tantangan Gizi di Mundam
Ketua Kelompok Wanita Mundam Berseri, Viola Oktaviani, mengungkapkan bahwa dukungan Pertamina ini sangat vital. Kesadaran masyarakat akan pentingnya gizi anak dan balita di Kelurahan Mundam, Kecamatan Medang Kampai, Kota Dumai, Provinsi Riau, masih tergolong rendah. Kondisi ini menjadi perhatian serius bagi banyak pihak.
Evaluasi lapangan menunjukkan data yang cukup mengkhawatirkan. Ditemukan beberapa balita terdampak stunting atau tengkes, 18 bayi dengan kondisi bawah garis merah (BGM), serta ibu hamil yang mengalami kekurangan energi kronis. Angka-angka ini menjadi alarm bagi semua pihak untuk segera bertindak.
Temuan tersebut diperparah dengan kurangnya kemampuan warga dalam mengolah makanan bergizi, terutama dari sayur alami yang mudah didapatkan. Keterbatasan pengetahuan dan keterampilan ini menjadi salah satu akar masalah gizi di wilayah tersebut. Inilah mengapa intervensi yang tepat sangat dibutuhkan.
Inovasi Hidroponik: Solusi Cerdas dari Pertamina
Melihat tantangan tersebut, Pertamina hadir dengan solusi yang inovatif dan berkelanjutan. Mereka tidak hanya memberikan bantuan berupa bahan makanan, tetapi juga membekali masyarakat dengan keterampilan. Pertamina mendampingi kader Posyandu untuk membangun instalasi hidroponik.
Tak hanya itu, pelatihan cara menanam sayur hidroponik juga diberikan secara intensif. Pendekatan ini bertujuan agar masyarakat, khususnya para ibu, memiliki kemandirian dalam menyediakan bahan pangan bergizi. Mereka bisa menanam sayuran segar sendiri, kapan pun dibutuhkan.
Viola Oktaviani menyatakan rasa syukurnya yang mendalam atas dukungan ini. Hasil dari sayur hidroponik yang melimpah dapat diolah menjadi berbagai makanan sehat dan menarik. Bukan hanya untuk anak-anak, tetapi juga untuk konsumsi seluruh anggota keluarga.
Transformasi Kelompok Wanita Mundam Berseri
Komunitas Wanita Mundam Berseri, yang awalnya merupakan kader Posyandu, mulai mendapat pendampingan dari Pertamina sejak tahun 2024. Sejak saat itu, terjadi transformasi yang luar biasa. Mereka tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga agen perubahan di lingkungan mereka.
Viola bersama 13 anggota kelompoknya menerima instalasi fasilitas hidroponik lengkap dengan pelatihan mendalam. Dari tangan-tangan terampil mereka, sayuran hijau segar seperti pakcoy kini tumbuh subur. Hasil panennya kemudian diolah menjadi beragam kreasi kuliner.
Berbagai olahan menarik berhasil diciptakan, mulai dari jus pakcoy yang menyegarkan, puding bergizi, hingga makanan kering dan dodol pakcoy yang unik. Panganan ini dikemas secara menarik dan menjadi makanan tambahan yang sangat bermanfaat bagi Posyandu. Tujuannya jelas, untuk mengatasi permasalahan stunting dan gizi buruk balita di Kelurahan Mundam.
"Makanan yang kami buat dari tanaman hidroponik tersebut bermanfaat dan bergizi untuk dikonsumsi. Terima kasih sedalam-dalamnya saya ucapkan atas bantuan yang diberikan oleh PT KPI RU II Dumai," jelas Viola dengan penuh haru. Inisiatif ini telah membuka mata banyak orang tentang potensi besar dari pertanian perkotaan.
Dampak Nyata: Gizi Anak Meningkat, Ekonomi Tumbuh
Program Tanggung Jawab Sosial Lingkungan (TJSL) untuk kesehatan ibu dan anak ini merupakan bagian dari program Serumpun Paman Bahari. Agustiawan, Area Manager Communication, Relations, & CSR Kilang Pertamina Internasional – Refinery Unit II Dumai, menjelaskan bahwa Serumpun Paman Bahari adalah singkatan dari Sinergi Ekologi untuk Masyarakat Pesisir Unggul, Pangan Mandiri dan Bahari Lestari. Program ini menunjukkan komitmen Pertamina yang holistik.
"Berada di wilayah pesisir, Kilang Pertamina Dumai tidak hanya fokus kepada para nelayan saja, tapi juga keluarga nelayan. Para ibu rumah tangga kami berdayakan, karena melalui ibu diharapkan dapat melindungi keluarganya sekaligus memberikan manfaat bagi Posyandu dan pengentasan stunting," kata Agus. Pemberdayaan perempuan menjadi kunci utama dalam program ini.
Dampak positifnya tidak hanya terasa pada peningkatan gizi, tetapi juga pada perekonomian warga. Sebagian hasil tanaman hidroponik atau olahannya kini dapat dijual. Ini memberikan tambahan penghasilan bagi para ibu, sekaligus meningkatkan kemandirian ekonomi keluarga.
Serumpun Paman Bahari: Komitmen Pertamina untuk Masyarakat Pesisir
Adi Aprianto, selaku Lurah Mundam, menyampaikan apresiasi tinggi kepada Kilang Pertamina Dumai. Perhatian yang diberikan kepada masyarakat pesisir ini sangat berarti. Program pemberdayaan masyarakat ini menjadi suntikan semangat bagi kelompok wanita untuk terus berjuang mengatasi stunting dan gizi buruk.
"Anak-anak mendapatkan makanan tambahan secara merata. Hal yang telah diberikan diharapkan dapat meningkatkan perekonomian masyarakat di Desa Mundam. Kami mengucapkan terima kasih pada PT KPI RU II Dumai atas berbagai program yang dihadirkan kepada masyarakat di kelurahan Mundam," ungkap Adi. Sinergi antara perusahaan, pemerintah daerah, dan masyarakat ini patut dicontoh.
Program TJSL ini merupakan wujud nyata komitmen Pertamina dalam menjaga keberlangsungan ekosistem dan masyarakat. Terutama di tempat Pertamina beroperasi, mereka ingin menjadi bagian integral dari kemajuan dan kesejahteraan warga. Ini adalah investasi jangka panjang untuk masa depan yang lebih baik.
Apresiasi dan Harapan untuk Masa Depan
Fadjar Djoko Santoso, Vice President Corporate Communication PT Pertamina, menambahkan bahwa melalui berbagai aktivitas TJSL, Pertamina berharap dapat berkontribusi langsung ke masyarakat. Kontribusi ini tidak hanya dalam bentuk materi, tetapi juga dalam bentuk pengetahuan dan keterampilan yang memberdayakan.
Inisiatif seperti di Mundam ini membuktikan bahwa dengan kolaborasi dan inovasi, masalah gizi yang kompleks dapat diatasi. Para ibu di Mundam kini bukan hanya sekadar kader Posyandu, melainkan pahlawan gizi yang membawa perubahan positif bagi keluarga dan komunitas mereka. Harapannya, program ini bisa terus berlanjut dan menginspirasi daerah lain untuk melakukan hal serupa.


















