Suasana duka yang menyelimuti Kenya mendadak berubah menjadi kekacauan. Ribuan pelayat yang ingin memberikan penghormatan terakhir kepada mantan Perdana Menteri Raila Odinga harus berhadapan dengan tembakan gas air mata dari aparat kepolisian. Insiden mencekam ini terjadi di ibu kota Nairobi, mengubah momen pilu menjadi kericuhan yang tak terduga.
Peristiwa ini pecah di tengah lautan manusia yang memadati acara penghormatan publik untuk mendiang Raila Odinga, salah satu tokoh politik paling berpengaruh di Kenya. Momen yang seharusnya khidmat itu justru diwarnai kepanikan dan desak-desakan, menyisakan luka dan pertanyaan besar tentang bagaimana sebuah acara duka bisa berakhir begitu dramatis.
Perjalanan Terakhir Sang ‘Baba’ yang Penuh Haru
Raila Odinga, yang meninggal dunia sehari sebelumnya di India pada usia 80 tahun, adalah sosok yang sangat dicintai rakyat Kenya. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam, terbukti dari antusiasme puluhan ribu orang yang rela berbondong-bondong untuk mengantarkan kepergiannya. Mereka ingin menyaksikan langsung perjalanan terakhir sang pemimpin.
Jenazah Odinga tiba di Nairobi pada Kamis (16/10) pagi dengan pesawat carteran, disambut dengan penghormatan semburan air di bandara. Suasana haru sudah terasa sejak awal, di mana upacara penyambutan resmi oleh keluarga dan pejabat tinggi sempat terganggu. Massa yang tak terbendung mendesak untuk melihat langsung jasad tokoh yang mereka panggil ‘Baba’ ini.
Dari bandara utama negara itu, iring-iringan jenazah menempuh perjalanan sejauh sekitar 29 kilometer menuju stadion sepak bola berkapasitas 60 ribu di ibu kota. Sepanjang jalan, ribuan orang berjalan kaki di samping kendaraan militer yang membawa peti jenazah. Mereka melambaikan ranting pohon sebagai tanda duka dan penghormatan terakhir.
"Kami berduka sebagai satu bangsa. Kami sangat mencintai Baba; dia adalah pembela rakyat," ujar Beatrice Adala, salah satu pelayat di bandara, menggambarkan betapa dalamnya rasa kehilangan. Panggilan ‘Baba’, yang berarti ayah dalam bahasa Kiswahili, menunjukkan ikatan emosional yang kuat antara Odinga dan para pendukungnya.
Momen Pilu Berubah Jadi Kekacauan di Stadion
Namun, suasana haru dan khidmat itu mendadak berubah drastis saat acara penghormatan publik berlangsung di stadion. Ketegangan memuncak ketika sejumlah pelayat, yang mungkin terbawa emosi dan keinginan kuat untuk mendekat, mencoba menerobos area paviliun kepresidenan. Aksi ini memicu respons cepat dari aparat keamanan.
Polisi Kenya segera menembakkan gas air mata untuk membubarkan massa yang mulai tidak terkendali. Asap pedih memenuhi udara, menyebabkan kepanikan massal di pintu masuk stadion. Orang-orang berlarian mencari perlindungan, menciptakan desak-desakan yang mengerikan.
Insiden ini menyebabkan sejumlah orang dilaporkan terluka, baik karena gas air mata maupun karena terinjak-injak dalam kepanikan. Para pemimpin dan pejabat tinggi yang hadir di lokasi pun sempat harus berlindung di ruang tertutup untuk menghindari kericuhan yang semakin meluas. Momen yang seharusnya menjadi perpisahan damai justru berakhir dengan adegan yang memilukan.
Sosok Raila Odinga: Pejuang Demokrasi yang Dicintai
Raila Odinga bukan sekadar mantan Perdana Menteri; ia adalah simbol perjuangan panjang bagi demokrasi dan keadilan di Kenya. Sepanjang hidupnya, ia dikenal sebagai tokoh yang tak kenal lelah menyuarakan hak-hak rakyat dan menentang otoritarianisme. Dedikasinya terhadap negara telah mengukir namanya dalam sejarah Kenya.
Lahir dari keluarga politik terkemuka, Odinga mewarisi semangat perjuangan dari ayahnya, Jaramogi Oginga Odinga, Wakil Presiden pertama Kenya. Ia menghabiskan bertahun-tahun di penjara politik karena aktivismenya, menjadikannya ikon perlawanan dan harapan bagi banyak warga Kenya yang mendambakan perubahan.
Meskipun beberapa kali gagal dalam pemilihan presiden, pengaruhnya tidak pernah pudar. Odinga selalu menjadi kekuatan politik yang harus diperhitungkan, mampu menggerakkan jutaan massa dengan retorikanya yang kuat dan karismanya yang tak terbantahkan. Ia adalah seorang pan-Afrikanis sejati, yang visinya melampaui batas-batas negaranya.
Kematiannya terjadi setelah ia kolaps saat berjalan pagi di Kerala, India. Upaya penyelamatan di rumah sakit setempat tidak berhasil, mengakhiri hidup seorang tokoh besar yang telah mendedikasikan dirinya untuk bangsa. Menurut keluarganya, Odinga berpesan agar dimakamkan segera, sebuah permintaan yang mencerminkan kesederhanaannya.
Duka Nasional dan Penghormatan dari Berbagai Pihak
Kepergian Raila Odinga menyisakan duka yang mendalam tidak hanya bagi para pendukungnya, tetapi juga bagi seluruh bangsa Kenya. Presiden William Ruto, yang pernah menjadi rival politik Odinga dalam pemilihan presiden 2022, memberikan penghormatan tertinggi. Ruto menyebut Odinga sebagai patriot dengan keberanian luar biasa.
"Ia adalah seorang pan-Afrikanis, dan pemersatu yang mengutamakan perdamaian serta persatuan di atas kekuasaan dan kepentingan pribadi," kata Ruto, menunjukkan rekonsiliasi politik yang terjadi antara keduanya setelah pemilu. Pernyataan ini menegaskan betapa besar pengaruh Odinga di kancah politik Kenya.
Sebagai bentuk penghormatan, Presiden Ruto menetapkan tujuh hari masa berkabung nasional. Ini adalah tanda betapa pentingnya sosok Odinga bagi Kenya. Selain itu, pemerintah juga menetapkan Jumat sebagai hari libur nasional, memungkinkan seluruh rakyat untuk berpartisipasi dalam upacara pemakaman negara di Nairobi.
Setelah upacara di Nairobi, acara penghormatan publik juga akan digelar di Kisumu pada Sabtu. Puncak dari rangkaian duka ini adalah upacara pemakaman negara yang akan digelar pada Minggu (19/10), di rumahnya di Bondo, wilayah barat Kenya. Seluruh rangkaian acara ini menunjukkan skala penghormatan yang diberikan kepada seorang pahlawan bangsa.
Refleksi di Balik Kericuhan: Kedalaman Emosi Rakyat
Insiden gas air mata di tengah acara duka ini mungkin terlihat sebagai sebuah ironi, namun juga mencerminkan kedalaman emosi dan intensitas dukungan rakyat terhadap Raila Odinga. Kerumunan massa yang begitu besar, ditambah dengan keinginan kuat untuk mendekat, menunjukkan betapa besar cinta dan penghormatan yang mereka miliki.
Kericuhan ini juga bisa menjadi pengingat akan tantangan dalam mengelola emosi publik yang begitu besar, terutama saat kehilangan seorang pemimpin karismatik. Meskipun berakhir dengan ketegangan, insiden ini tidak mengurangi fakta bahwa Raila Odinga akan selalu dikenang sebagai salah satu tokoh paling penting dalam sejarah modern Kenya. Ia adalah suara bagi yang tak bersuara, dan "Baba" bagi jutaan rakyatnya.


















