Jalur Gaza kembali menjadi sorotan dunia. Kelompok militan Hamas dilaporkan mengerahkan sejumlah buldoser di wilayah tersebut, bukan untuk pembangunan, melainkan untuk sebuah misi yang sangat sensitif: mencari sisa-sisa jenazah sandera yang meninggal.
Langkah ini bukan tanpa alasan. Ini adalah bagian dari upaya Hamas untuk memenuhi perjanjian gencatan senjata dengan Israel, sekaligus menunjukkan komitmen mereka terhadap kesepakatan yang mencakup penyerahan jenazah sandera. Misi ini sangat krusial di tengah ketegangan yang masih membara.
Mengapa Misi Ini Begitu Krusial?
Misi pencarian jenazah ini memiliki bobot politis yang sangat besar. Keberhasilannya bisa menjadi penentu kelanjutan gencatan senjata yang rapuh antara Hamas dan Israel, yang telah diupayakan dengan susah payah oleh para mediator internasional.
Aksi Hamas ini juga tak lepas dari peringatan keras Presiden AS Donald Trump. Ia sebelumnya mengancam akan memberi "lampu hijau" bagi Israel untuk melanjutkan operasi militer jika Hamas gagal mengembalikan semua 28 jenazah sandera.
Sejauh ini, Hamas baru menyerahkan sembilan jenazah. Israel mengklaim satu jenazah kesepuluh yang diserahkan bukanlah mantan sandera, menambah kerumitan dalam situasi yang sudah tegang ini.
Hambatan di Lapangan: Siapa yang Bertanggung Jawab?
Namun, proses pencarian ini tidak berjalan mulus. Hamas menyalahkan Israel atas keterlambatan pengembalian jenazah, menuding bahwa beberapa sisa sandera berada di terowongan atau bangunan yang telah dihancurkan oleh pasukan Israel.
Kondisi ini membuat mereka membutuhkan alat berat untuk melakukan evakuasi. Ironisnya, Hamas juga mengklaim Israel belum mengizinkan buldoser baru masuk ke Jalur Gaza, yang semakin menghambat upaya pencarian.
Sebagian besar alat berat di Gaza memang telah hancur selama konflik baru-baru ini, menyisakan sumber daya yang sangat terbatas untuk membersihkan puing-puing yang luas di seluruh wilayah. Ini menjadi tantangan besar bagi Hamas.
Lokasi Pencarian dan Kondisi Gaza yang Memprihatinkan
Pada Jumat (17/5), dua buldoser terlihat beroperasi di Hamad City, sebuah kompleks menara apartemen di kota Khan Younis. Di sinilah Hamas memfokuskan pencarian jenazah sandera, menunjukkan betapa spesifiknya lokasi yang mereka targetkan.
Area ini bukan tanpa sejarah. Pasukan Israel berulang kali membombardir menara tersebut selama perang, meruntuhkan beberapa di antaranya. Bahkan, pada Maret 2024, pasukan Israel melakukan penggerebekan selama seminggu di sana, terlibat pertempuran sengit dengan militan.
Kondisi infrastruktur yang hancur lebur di Gaza, khususnya di wilayah seperti Hamad City, menjadi saksi bisu betapa parahnya dampak konflik. Ini juga menjelaskan mengapa upaya pencarian jenazah membutuhkan alat berat dan waktu yang tidak sedikit.
Tuntutan Hamas: Lebih dari Sekadar Jenazah
Di tengah misi pencarian jenazah, Hamas juga mengajukan sejumlah tuntutan lain kepada para mediator. Mereka mendesak peningkatan aliran bantuan kemanusiaan ke Gaza, percepatan pembukaan perbatasan Rafah dengan Mesir, dan segera dimulainya rekonstruksi wilayah yang hancur.
Selain itu, Hamas menyerukan agar pekerjaan untuk membentuk komite independen Palestina yang akan menjalankan Jalur Gaza "segera dimulai." Mereka juga menuntut pasukan Israel untuk melanjutkan penarikan diri dari wilayah yang telah disepakati dalam perjanjian.
Tuntutan-tuntutan ini menunjukkan bahwa Hamas melihat misi pencarian jenazah sebagai bagian dari paket kesepakatan yang lebih besar, yang mencakup aspek kemanusiaan, politik, dan keamanan bagi Jalur Gaza.
Tekanan Israel dan Manuver Diplomatik Internasional
Di sisi lain, Israel tetap pada pendiriannya. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa Israel "tidak akan berkompromi" dan menuntut Hamas memenuhi semua persyaratan yang ditetapkan dalam kesepakatan gencatan senjata, termasuk pengembalian jenazah sandera.
Rencana gencatan senjata memang mengamanatkan semua sandera, baik yang hidup maupun yang meninggal, diserahkan paling lambat Senin lalu. Jika tidak, Hamas wajib membagikan informasi tentang sandera yang meninggal dan berupaya menyerahkannya sesegera mungkin.
Para pejabat Amerika Serikat mengakui bahwa pengembalian jenazah terhambat oleh luasnya kehancuran, ditambah dengan adanya bahan peledak yang belum meledak dan berbahaya. Kelompok militan itu juga mengatakan kepada mediator bahwa beberapa jenazah berada di daerah yang dikendalikan oleh pasukan Israel.
Menteri Luar Negeri Turki, Hakan Fidan, bahkan menyuarakan kekhawatiran bahwa Israel mungkin menggunakan "kurangnya peralatan" Hamas untuk mengambil jenazah sebagai dalih untuk melanjutkan agresi. Ini menunjukkan adanya keraguan di tingkat internasional.
Pertukaran Sandera dan Tahanan: Secercah Harapan di Tengah Konflik
Sebelumnya, ada secercah harapan yang muncul dari pertukaran sandera dan tahanan. Hamas telah membebaskan semua 20 sandera Israel yang masih hidup pada Senin lalu, sebuah langkah yang sempat meredakan ketegangan.
Sebagai imbalannya, Israel membebaskan sekitar 2.000 tahanan dan narapidana Palestina. Namun, Forum Keluarga Sandera dan Orang Hilang di Israel menyatakan akan terus mengadakan unjuk rasa mingguan sampai semua jenazah dikembalikan, menunjukkan bahwa masalah ini belum selesai.
Israel sendiri telah mengembalikan 90 jenazah warga Palestina ke Gaza untuk dimakamkan. Tim forensik Palestina yang memeriksa jenazah tersebut melaporkan adanya tanda-tanda penganiayaan pada beberapa jenazah, menambah lapisan kepedihan dalam konflik ini.
Dampak Kemanusiaan: Angka-angka yang Mengerikan
Di balik semua negosiasi dan misi pencarian, ada dampak kemanusiaan yang mengerikan. Kampanye militer Israel di Gaza telah menewaskan hampir 68.000 warga Palestina, menurut Kementerian Kesehatan yang dikelola Hamas.
Angka ini, yang dipandang umumnya dapat diandalkan oleh badan-badan PBB dan pakar independen, belum termasuk ribuan orang yang dinyatakan hilang. Sementara itu, dalam serangan 7 Oktober 2023 di Israel, militan membunuh sekitar 1.200 orang dan menyandera sekitar 250 orang.
Misi buldoser Hamas di Gaza bukan sekadar upaya fisik, melainkan simbol dari kompleksitas konflik yang belum usai. Nasib gencatan senjata, dan harapan akan perdamaian, kini seolah bergantung pada setiap galian tanah yang dilakukan di tengah puing-puing kehancuran.


















