Enable JavaScript to use the widget powered by Widjet
banner 728x250

Geger! Serial Ed Gein Netflix Dituding Palsu, Penulis Asli Ngamuk: ‘Semua Karangan Belaka!’

geger serial ed gein netflix dituding palsu penulis asli ngamuk semua karangan belaka portal berita terbaru
banner 120x600
banner 468x60

Para penggemar genre true crime di seluruh dunia kini tengah dihebohkan dengan kabar tak menyenangkan. Serial terbaru Netflix, "Monster" Season 3 yang mengangkat kisah pembunuh fenomenal Ed Gein, ternyata menuai kritik pedas dari seorang akademisi sekaligus penulis biografi aslinya. Ia bahkan tak segan menyebut serial tersebut sebagai karangan belaka yang jauh menyimpang dari fakta.

Kabar ini tentu saja mengejutkan banyak pihak, mengingat "Monster" adalah salah satu serial antologi yang cukup dinantikan. Dengan judul "The Ed Gein Story" dan dibintangi oleh aktor kenamaan Charlie Hunnam, ekspektasi publik terhadap akurasi cerita sangatlah tinggi. Namun, apa yang terjadi di balik layar ternyata jauh dari harapan.

banner 325x300

Mengapa Serial "Monster" Ed Gein Jadi Sorotan?

Serial "Monster" Season 3, yang dijadwalkan tayang pada 3 Oktober 2025, seharusnya menjadi penjelajahan mendalam tentang kehidupan dan kejahatan Ed Gein. Sosok Ed Gein sendiri sudah lama menjadi ikon horor dan inspirasi bagi banyak film thriller klasik, termasuk "Psycho" karya Alfred Hitchcock. Oleh karena itu, adaptasi Netflix ini diharapkan bisa memberikan gambaran yang akurat dan mencekam.

Namun, harapan itu kini dipertanyakan. Kritik keras datang dari Harold Schechter, seorang akademisi dan penulis buku "Deviant: The Shocking True Story of the Original ‘Psycho’". Buku ini secara luas diakui sebagai biografi paling otoritatif tentang Ed Gein.

Harold Schechter: Penulis Asli yang Merasa Dirugikan

Harold Schechter bukanlah nama sembarangan di dunia true crime. Ia adalah seorang penulis ulung yang mengkhususkan diri pada kisah-kisah pembunuh berantai dan kejahatan nyata. Bukunya, "Deviant", yang terbit pada tahun 1998, telah menjadi rujukan utama bagi siapa pun yang ingin memahami sosok Ed Gein.

Schechter mengaku kepada New York Post bahwa ia sudah merasa tidak nyaman sejak awal mendengar rencana Ryan Murphy dan Ian Brennan untuk mengangkat kisah Ed Gein. Kekhawatirannya adalah tim produksi akan menjiplak bukunya, meskipun dengan dalih bahwa semua informasi sudah menjadi domain publik. Namun, apa yang ia temukan setelah menonton serial tersebut jauh lebih buruk dari dugaan awal.

Awal Mula Kecurigaan Schechter

"Sejak saya mendengar Murphy berencana menjadikan Ed Gein sebagai subjek musim ketiganya, saya merasa dirugikan dan kesal," kata Schechter. Ia khawatir karyanya akan disalahgunakan tanpa pengakuan yang layak. Namun, kekesalannya berubah menjadi kemarahan setelah menyaksikan hasil akhirnya.

"Setelah menonton acara itu… Maksud saya, saya merasa ada beberapa penggunaan buku saya yang tidak sah, tetapi acara itu sangat menyimpang dari kenyataan kasusnya," lanjut Schechter. Ia merasa ada banyak bagian yang sengaja diubah atau ditambahkan demi dramatisasi, tanpa dasar fakta yang kuat.

Klaim Fiktif yang Bikin Geleng-Geleng Kepala

Poin utama kritik Schechter adalah banyaknya "rekayasa berlebihan" dalam serial tersebut. Ia menegaskan bahwa sebagian besar isi serial itu adalah murni karangan belaka, bukan adaptasi dari kisah nyata. Hal ini tentu saja menyesatkan penonton yang mengira mereka sedang menyaksikan biografi faktual Ed Gein.

"Banyak sekali isinya yang murni rekayasa yang berlebihan. Sekarang saya sangat kesal karena semua orang yang menonton acara ini mengira mereka melihat kisah nyata Ed Gein," ungkap Schechter dengan nada kecewa. Ini menjadi masalah serius, mengingat genre true crime mengandalkan keakuratan fakta.

Adegan Asfiksia Autoretik yang Mengada-ada

Salah satu contoh paling mencolok dari fiksionalisasi yang disebut Schechter adalah adegan Ed Gein melakukan asfiksia autoretik. Ini adalah aktivitas seksual mandiri ekstrem yang melibatkan pencekikan diri untuk mencapai kenikmatan seksual. Schechter dengan tegas menyatakan bahwa tidak ada bukti sama sekali Ed Gein pernah melakukan aktivitas tersebut.

"Ketika saya menonton adegan pertama saat Ed melakukan asfiksia autoretik, saya langsung ‘dari mana itu?’ Tidak ada bukti sama sekali Ed pernah menikmati aktivitas itu," ujarnya. Penambahan detail semacam ini, menurutnya, hanya untuk menambah sensasi tanpa dasar kebenaran.

Bukan Sekadar Kisah Cinta Palsu

Selain itu, Schechter juga mengkritik penggambaran kisah cinta antara Ed Gein dan karakter Adeline Watkins, yang diperankan oleh Suzanna Son dalam serial tersebut. Dalam serial, hubungan mereka digambarkan sebagai romansa yang kompleks, namun Schechter punya pandangan berbeda.

Menurut Schechter, Gein dan Watkins hanyalah sebatas teman bermain biasa. Tidak ada hubungan romantis yang serius di antara mereka. Ia bahkan menyebut Adeline sebagai "pemburu publisitas" yang muncul setelah kejahatan Gein terungkap dan media menyerbu Plainfield, tempat kejadian perkara.

Adeline Watkins: Sekadar Teman atau ‘Pemburu Publisitas’?

"Mereka tidak benar-benar memiliki hubungan. Tahukah Anda, Adeline semacam pemburu publisitas," jelas Schechter. Ia menambahkan bahwa Adeline tiba-tiba muncul sebagai ‘pacar Ed Gein’ ketika semua media mulai meliput kasus tersebut. Ini menunjukkan bagaimana karakter pendukung pun bisa diubah drastis demi narasi yang lebih dramatis.

Fiksionalisasi hubungan ini tidak hanya mengubah fakta sejarah, tetapi juga berpotensi memberikan gambaran yang salah tentang psikologi Ed Gein. Padahal, hubungan interpersonal Gein adalah kunci untuk memahami motif dan tindakannya.

Ed Gein: Bukan Pembunuh Berantai Biasa

Poin penting lainnya yang disorot Schechter adalah penggunaan istilah "pembunuh berantai" yang disematkan kepada Ed Gein dalam serial tersebut. Schechter mengakui bahwa Ed Gein memang membunuh sejumlah orang, namun ia menegaskan bahwa Gein tidak melakukannya secara acak, apalagi menikmati secara seksual seperti kasus pembunuh berantai pada umumnya.

"Schechter menyebut niat Ed Gein dalam membunuh orang adalah untuk membedah tubuh mereka mengingat obsesinya pada anatomi tubuh manusia, termasuk tengkorak," demikian yang ia sampaikan. Ini adalah perbedaan krusial yang seringkali diabaikan dalam adaptasi fiksi.

Obsesi Anatomi, Bukan Kenikmatan Seksual Acak

Gein memiliki obsesi yang mendalam terhadap anatomi manusia dan tengkorak, yang mendorongnya untuk mencuri mayat dan melakukan tindakan mengerikan lainnya. Membunuh orang adalah cara baginya untuk mendapatkan "spesimen" baru, bukan untuk memuaskan dorongan seksual atau kekerasan acak seperti pembunuh berantai klasik. Mengabaikan detail ini berarti gagal memahami esensi dari kejahatan Gein yang unik dan mengerikan.

Penggambaran yang tidak akurat ini tidak hanya merugikan warisan sejarah Ed Gein, tetapi juga dapat menyesatkan pemahaman publik tentang psikologi kriminal. True crime seharusnya mendidik, bukan sekadar menghibur dengan sensasi palsu.

Ancaman Gugatan Hukum dari Sang Akademisi

Melihat banyaknya penyimpangan dan potensi penjiplakan, Schechter, yang kini berusia 77 tahun dan menjadi dosen di Queens College New York, tidak tinggal diam. Ia mengakui sempat berkonsultasi dengan pengacara kekayaan intelektual mengenai peluang untuk menggugat Netflix dan kreator "Monster" Season 3.

"Maksud saya, mungkin masih ada cukup banyak hal yang membenarkan tindakan hukum. Tapi di sisi lain, mungkin juga tidak," kata Schechter. Ia sedang menimbang-nimbang langkah selanjutnya, menunggu hasil diskusi lebih lanjut dengan penasihat hukumnya.

Pertimbangan Hukum Melawan Raksasa Streaming

Jika para penasihat hukumnya merasa bahwa sebagian besar isi serial itu memang dibuat-buat dan tidak berasal dari bukunya, Schechter menyatakan akan membatalkan seluruh masalah ini. Namun, jika ada indikasi kuat penjiplakan atau penyalahgunaan materi, ia tidak akan ragu untuk mengambil tindakan hukum. Ini menunjukkan keseriusannya dalam mempertahankan integritas karyanya dan kebenaran sejarah.

Kasus ini menyoroti dilema yang sering terjadi dalam adaptasi true crime: batas antara dramatisasi artistik dan kewajiban untuk tetap akurat pada fakta. Bagi seorang penulis yang telah mendedikasikan hidupnya untuk meneliti subjek tersebut, penyimpangan ini adalah bentuk penghinaan.

Dampak Fiksionalisasi True Crime

Kontroversi ini bukan hanya tentang satu serial atau satu penulis. Ini mengangkat pertanyaan yang lebih besar tentang tanggung jawab para pembuat konten true crime. Ketika sebuah kisah nyata diubah menjadi fiksi secara berlebihan, apa dampaknya bagi penonton dan pemahaman kolektif kita tentang sejarah?

Fiksionalisasi yang berlebihan dapat mengaburkan garis antara fakta dan fantasi, membuat penonton sulit membedakan mana yang benar dan mana yang hanya karangan. Hal ini bisa sangat berbahaya, terutama dalam kasus kejahatan nyata yang memiliki dampak sosial dan psikologis yang mendalam.

Ketika Fiksi Mengaburkan Fakta Sejarah

Serial seperti "Monster" memiliki jangkauan global dan mampu membentuk persepsi jutaan orang. Jika informasi yang disajikan tidak akurat, maka sejarah yang kita pahami pun menjadi bias. Ini adalah pengingat penting bagi para kreator untuk menyeimbangkan antara kebutuhan akan narasi yang menarik dan komitmen terhadap kebenaran faktual.

Pada akhirnya, kepercayaan penonton adalah aset paling berharga. Jika adaptasi true crime terus-menerus mengorbankan akurasi demi dramatisasi, maka genre ini akan kehilangan kredibilitasnya dan berpotensi menyesatkan publik secara massal.

Siapa Sebenarnya Ed Gein? Inspirasi Horor Klasik

Terlepas dari kontroversi serial Netflix, penting untuk mengingat siapa sebenarnya Ed Gein dan mengapa kisahnya begitu melegenda. Ed Gein dikenal sebagai salah satu pembunuh terhoror dalam sejarah Amerika Serikat. Pada dekade 1950-an, ia melakukan serangkaian kejahatan mengerikan yang mencakup pembunuhan, pencurian mayat, menguliti jenazah, dan obsesi patologis pada tengkorak manusia.

Kekejaman dan perbuatannya yang membuat banyak orang bergidik telah menjadi inspirasi bagi banyak karya Hollywood. Selain "Psycho" (1960) yang menjadi game changer film horor dan thriller, kisahnya juga mempengaruhi film-film seperti "The Texas Chainsaw Massacre" dan "The Silence of the Lambs".

Kisah Ed Gein adalah pengingat betapa gelapnya sisi manusia bisa menjadi. Namun, justru karena kekejamannya yang nyata, akurasi dalam penceritaan ulang menjadi sangat penting. Hanya dengan memahami fakta, kita bisa belajar dari sejarah kelam ini.

Kontroversi "Monster: The Ed Gein Story" ini menjadi pelajaran berharga bagi industri hiburan. Semoga para kreator bisa lebih bijak dalam mengadaptasi kisah nyata, menghormati fakta, dan tidak mengorbankan kebenaran demi sensasi semata.

banner 325x300