Jakarta, CNN Indonesia – Kekerasan yang dilakukan pasukan Israel di Tepi Barat Palestina terus berlanjut, bahkan semakin menunjukkan tingkat kekejian yang tak terbayangkan. Mereka konsisten melanggar hukum internasional, mengubah kehidupan warga Palestina menjadi neraka yang nyata. Peristiwa terbaru pada Kamis, 16 Oktober 2025, kembali mengungkap betapa brutalnya tindakan militer Zionis.
Kekerasan Tanpa Henti di Nur Shams dan Tulkarem
Di dua kamp pengungsi, Nur Shams dan Tulkarem, Israel melancarkan serangan darat yang brutal. Tembakan membabi buta mengiringi aksi penghancuran rumah warga menggunakan buldoser raksasa. Lebih parah lagi, kini mereka tak segan membakar rumah-rumah penduduk hingga rata dengan tanah.
Kedua kamp pengungsian ini telah ditetapkan sebagai kawasan militer tertutup sejak Januari lalu. Ini berarti akses masuk dan keluar warga sangat dibatasi, membuat mereka terisolasi dan rentan terhadap serangan tanpa henti. Situasi ini menciptakan kondisi hidup yang mencekam bagi ribuan warga Palestina.
Kisah Pilu Abdel: Hidup di Bawah Ancaman dan Perampasan Hak
Salah satu warga Tepi Barat yang merasakan langsung kekejian militer Israel adalah Abdel. Meski masih hidup, ia merasa seluruh hak-haknya sebagai manusia telah dirampas oleh pasukan Zionis. Kisahnya menjadi cerminan penderitaan kolektif di wilayah tersebut.
"Kami tak menginginkan apapun. Hanya kehidupan yang aman," ucap Abdel, dikutip dari Al Jazeera, Kamis (16/10). Ia mengungkapkan keputusasaannya, "Saya tidak bisa keluar bersama anak-anak saya. Saya bahkan tidak bisa keluar bersama istri saya. Kami kehilangan bahkan kebutuhan hidup yang paling sederhana sekalipun."
Pada akhir Januari lalu, tentara Israel menyerbu rumah Abdel, menghancurkan perabotan dan harta benda miliknya. Mereka bahkan mengusir keluarga itu dari rumah mereka sendiri selama beberapa hari, meninggalkan mereka tanpa tempat berteduh. Ini adalah bentuk teror psikologis yang kejam.
Ketika keluarga Abdel kembali, pasukan Israel menunjukkan watak kolonial mereka dengan penawaran yang hanya menguntungkan satu pihak. "Salah satu dari mereka bahkan mengatakan ‘Akulah tuanmu. Kamu di sini untuk melayaniku’," kata Abdel menirukan pernyataan salah satu tentara Israel yang merendahkan.
Sejak saat itu, Abdel terpaksa mematuhi perintah pasukan Israel demi menjaga keluarganya agar tetap aman. Ia bahkan harus menghabiskan 1.500 shekel (sekitar Rp6,5 juta) per bulan untuk tentara Zionis, semacam "pajak perlindungan" yang dipaksakan. "Jika saya tidak melakukan apa yang mereka katakan, mereka akan menghancurkan rumah ini," keluhnya, menunjukkan betapa tidak berdayanya ia di hadapan kekuatan militer.
Dari Buldoser ke Api: Strategi Baru Penghancuran Israel
Ancaman pasukan Israel bukan sekadar gertakan kosong. Salah satu rumah yang berjarak hanya 500 meter dari kamp pengungsian dibakar hingga menimbulkan kepulan asap hitam yang membumbung tinggi. Rumah itu pun tak bisa lagi dihuni, meninggalkan keluarga pemiliknya tanpa tempat tinggal.
Namun, kehancuran rumah itu bukan satu-satunya insiden. Militer Israel telah menghancurkan ratusan tempat tinggal lain di kamp-kamp dan lingkungan sekitarnya menggunakan buldoser. Pola penghancuran ini menunjukkan upaya sistematis untuk menggusur warga Palestina dari tanah mereka.
Infrastruktur Hancur, Kemanusiaan Terkoyak
Tindakan keji Israel tidak hanya berdampak pada rumah-rumah warga, tetapi juga pada kerusakan infrastruktur sipil yang vital. Jaringan listrik dan air bersih seringkali menjadi sasaran penghancuran, membuat warga hidup dalam kegelapan dan kekurangan air. Ini adalah pelanggaran hak asasi manusia yang mendasar.
Warga setempat mengatakan bahwa tentara Israel kini semakin banyak membakar rumah-rumah penduduk daripada menghancurkannya dengan buldoser. "Setiap hari, mereka membakar dua atau tiga rumah," kata Suhairi, seorang warga yang menyaksikan langsung kekejaman tersebut. Ini menunjukkan eskalasi metode penghancuran yang lebih cepat dan merusak.
Analisis: Penderitaan Warga Palestina Sebagai Bentuk Peperangan
Ihab Maharmeh, seorang peneliti di Pusat Penelitian dan Kebijakan Arab, memberikan analisis tajam mengenai pola strategi militer Israel di Tepi Barat. Menurutnya, tindakan ini bertujuan untuk menciptakan penderitaan tak tertahankan bagi warga Palestina. Ini adalah bentuk perang psikologis dan fisik yang kejam.
"Otoritas Israel secara efektif mengubah kehidupan dan mata pencarian sehari-hari di Tepi Barat menjadi bentuk peperangan," kata Maharmeh. Pernyataan ini menegaskan bahwa apa yang terjadi bukanlah insiden sporadis, melainkan bagian dari strategi yang lebih besar untuk menekan dan mengusir warga Palestina.
Pelanggaran Hukum Internasional yang Konsisten
Kekejian yang terus-menerus dilakukan Israel di Tepi Barat secara terang-terangan melanggar hukum internasional dan konvensi hak asasi manusia. Penghancuran properti sipil, pengusiran paksa, dan perampasan hak-hak dasar adalah tindakan yang dikecam oleh komunitas global. Namun, Israel tampaknya mengabaikan semua seruan tersebut.
Situasi di Tepi Barat adalah pengingat pahit akan konflik yang tak berkesudahan dan penderitaan yang tak terhitung. Dunia harus lebih serius menanggapi pelanggaran ini dan menuntut pertanggungjawaban atas tindakan yang merampas kemanusiaan warga Palestina. Sampai kapan kekejian ini akan terus berlanjut?


















